Resensi buku Fiksi

RESENSI


A.        Identitas Buku
                a. Judul buku                : Teroris Cinta
                b. Penagarang                : Neno
                c. Penerbit                : CV. ANDI OFFSET
                d. Tahun terbit                : 2008
                e. Warna buku                : Pink
                f. Bentuk buku                : Novel
                g. Jenis buku                : Fiksi
                h. Jumlah halaman        : 280 halaman
                i. Ukuran buku        :13 x 19 cm
                j. Harga Buku                : Rp. 35.000,00
                k. Ilustrasi dari cover        : Sampul depan berwarna pink dengan gambar laki-laki dan perempuan yang sedang berdiri saling bersandar dengan keduanya dimana si perempuan tersebut memegang bola basket dan yang cowok memegang kotak yang berebentuk love berwarna pink.

B.         Materi
            1. Unsur Intrinsik
                - Tema        : Persahabatan
                - Tokoh        : 1. Diar Stevannie                10. Papa
                                  2. Rico                        11. Opa
                                  3. Dewa                        12. Oma
                                  4. Andre                        13. Pak Kepsek
                                  5. Iboy                        14. Pak Bono
                                  6. Joe                                15. Amey
                                  7. Kak Ryan                        16. Dean
                                  8. Kak Tyo                        17. Alexandra
                                  9. Kak Daniel
               
        - Penokohan                :
          Diar Stevannie        : bertanggung jawab, tegas , displin dan berani
          Rico                        : ramah, baik hati,keras kepala dan humoris
          Dewa                        : Emosional, pendiam , keras kepala dan baik                                   hati
          Andre                        : baik hati dan humoris
          Iboy                        : baik hati, humoris dan periang
          Joe                        : periang , lucu, dan lugu
          Kak Ryan                : lucu dan baik hati
          Kak Tyo                : Pendiam, baik hati , keras kepala dan pantang                                   menyerah
          Kak Daniel                : baik hati dan lucu
          Papa                        : penyayang dan baik hati
          Opa                        : baik hati dan penyayang
          Oma                        : baik hati dan penyayang
          Pak Kepsek                : humoris, baik hati, dan bertanggung jawab
          Pak Bono                : bertanggung jawab
          Amey                        : baik hati , penyayang dan penolong
          Dean                        : baik hati, penyayang dan penolong
          Alexandra                : baik hati dan ramah

Latar                :
                a. Tempat        : Di sekolah , lapangan basket, ruangan tim                                           basket, ruang kepala sekolah, ruang BP, kantin,                                  bandara Heathrow, di convent garden,                                           ditopshop ,Buckingham palace, di Tower of                                    London, National  gallery
                b. Waktu        : pagi hari,malam hari, sore hari, pukul 03.00                                   subuh, pukul 08.00 pagi, pukul 04.00 sore,                                           pukul 12.00 malam.
                c. Suasana        : senang, kesal, bahagia, sedih, penuh dengan                                   candaan, menegangkan, mengharukan.
Alur                : Maju Mundur
Sudut Pandang        : sudut pandang orang pertama pelaku utama
Gaya Bahasa        :
Majasa Hiperbola         : Kudengar suara tubuh Rico terbanting dari                    yang Aku menghambur kedalam pelukannya
          Kami melihat wajah Dean  yang merah padam
Majas personifikasi        : Pagi yang cerah melambai indah
          Kulihat awan yang sedang menar-nari                   menghiasi pagiku yang penuh semangat
Amanat                :  - Jangan mudah menuduh seseorang yang                                       belum pasti pelakunya
Jangan keras kepala dan tidak mau         mendengarkan kata orang lain
Jangan pernah menyesali perbuatan yang         pernah kita lakukan
Persahabatan dapat terjalin karena perhatian         dan kasih sayang besar kepada teman
Sinopsis        :
         Diar seorang siswi pindahan dari Jakarta , selain harus beradaptasi dengan sekolahnya yang baru, terpaksa harus penasaran dengan ulah fansnya. Diar memang cepat popular di situ karena ia langsung direkrut sebagai manajer tim basket favorit sekolah. Otomatis membuat namanya dikenal senatero sekolah. Sikap fans gilanya yang berinisila R tersebut selalu membuat diar penasaran dan menimbulkan rasa keingingintahunnya untuk mengetahui siapa sebenarnya fans beratnya itu. Waktu pun mengungkapkan rahasia tersebut dan ternyata fansnya diar yang berinisial R tersebut tak lain adalah Radityo saputra ia adalah teman dekat diar sejak kecil dan bisa disebut juga cinta pertamanya diar. Dan selama 10 tahun ia tak pernah bertemu lagi. Tetapi takdir berkata lain Radit yang selama ini ia rindukan tersebut harus pergi meninggalkannya ke kota London untuk melanjutkan kuliahnya disana. Setelah beberapa tahun kemudian akhirnya mereka dipertemukan kembali di London Diar yang pada saat itu tinggal di Jakarta harus pindah ke kota London karena opanya yang sedang sakit  dan juga ia dipinta oleh papanya untuk melanjutkan kuliah disana, dan akhirnya Radit dan Diar pun dapat bersatu kembali karena kekuatan cinta mereka yang begitu besar.

2. Unsur Ekstrinsik
       - Nilai sosial         :  Bersikap tanggung jawab dan saling                      memperdulikan satu sama lain, kurangngya            kasih sayang dari orang tua dimana mereka            sibuk dengan pekerjaannya masing-masing            sehingga anak kurang mendapatkan perhatian
- Nilai pendidikan        : Untuk mendapatkan hasil yang maksimal kita            perlu perjuangan dan kerja kerasm Kita harus            mempunyai cita-cita untuk masa depan kita            yang menjamin hidup kita untuk  menjadi                    lebih baik, maka dari itu jangan  pernah         
           berhenti untuk menimba ilmu
C.        Kesimpulan :
Novel ini layak dibaca untuk para remaja. Karena di dalam novel ini mengandung unsur percintaan dan persahabatan yang erat. Novel ini kurang baik untuk dibaca oleh anak-anak karena tidak mengandung unsur pendidikan yang penting dan dapat mempengaruhi pola pikir mereka yang belum panjang.
1. Keunggulan
        a.  Isi cerita
        Cerita dalam novel ini menarik , lucu, sehingga membuat para         pembaca tidak bosan untuk membacanya. Dan juga novel ini  menceritakan sebuah persahabatan yang sangat erat antar anak SMA yang berteman tanpa membeda-bedakan satu sama lain.
        b. Bahasa
        Bahasa yang digunakan dalam novel ini menarik dan cukup baik.  Selain itu Penulis menambahkan majas dalam cerita ini sehingga membuat ceritanya lebih indah.
        c. Kalimat
        Kalimat yang digunakan komunitatif sehingga si pembaca seolah-olah diajak ikut berkominikasi dalam cerita tersebut dan juga kalimat yang digunakan jelas dan tidak membingungkan pembaca.
        d. Kertas
        kertas yang digunakan pada novel ini berwarna putih dan memilki kualitas yang cukup baik.
        e. Ilustrasi
        ilustrasi yang terdapata pada novel ini menarik, tidak membosankan, dan membuat para pembaca penasaran dan memiliki keinginan untuk terus membaca novel tersebut.
2. Kekurangan
        Kekurangan novel ini terdapat pada cover atau sampul depannya karena covernya kurang menarik dan juga ilustrasi dari gambarnya tidak cocok dengan isinya sehingga membuat para pembaca kurang berminat untuk membacanya

Nonfiksi

A.        Identitas Buku
                a. Judul buku                : Buku Pintar Fisika Untuk SMA
                b. Penagarang                : Yayan Wulandari, S.si.
                c. Penerbit                : Scientific press
                d. Tahun terbit                : 2010
                e. Warna buku                : Merah
                f. Bentuk buku                : Buku pelajaran
                g. Jenis Buku                : Nonfiksi
                h. Jumlah halaman        : 240 halaman
                i. Ukuran buku        : 14 x 19 cm
                j. Harga Buku                : Rp. 35.000,00
                k. Ilustrasi dari cover        : Sampul depan berwarna merah dan hitam dimana sampul tersebut menggambarkan seorang astronot yang sedang menjelajahi bulan selain itu juga ada gambar teropong dan mikroskop.

B. Materi
        Rangkuman
        Buku ini dibuat untuk memudahkan siswa mencari istilah-istilah fisika yang belum mereka mengerti dan pahami. Buku ini disusun secara alfabetis agar siswa mudah mencari istilah tersebut. Istilah-istilah didalamnya diuraikan secara singkat , padat dan jelas. Selain istilah fisika, para penemuatau tokoh yang berperan besar dalam bidang fisika juga dimuat dalam buku ini. Gambar, ilustrasi, dan rumus yang diberikan beberapa istilah akan memudahkan siswa memahami istilah tersebut. Buku ini juga dilengkapi dengan soal-soal latihan dan kunci jawaban agar siswa siap menghadapai Ujian Nasional

C.        Kesimpulan :
Buku ini layak dibaca oleh semua kalangan, baik anak-anak, remaja maupun dewasa Karena buku ini bersifat mendidik diamana isinya mengandung banyak pengetahuan dan informasi mengenai pelajaran khusunya fisika dan juga dapat mempermudah siswa untuk memahami berbagai macam rumus dan soal .

1. Keunggulan
        a. isi buku
        Isi buku ini bermanfaat dan mengandung banyak pengetahuan  bagi kaum pelajar khusunya siswa SMA karena di dalam buku ini terdapat penjelasan mengenai materi didalamnya , selain itu juga buku ini dilengkapi dengan rumus dan kunci jawaban sehingga mempermudah siswa iuntuk menjawab soal-soal.
        b. Bahasa
        Bahsanya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD yang berlaku. Dan juga mudah dimengerti
        c. Kalimat
        Kalimat yang digunakan dalam buku ini jelas, singkat dan efektif sehingga tidak membingungkan si pembaca dalam memahami materi dan soal-soal.

2. Kekurangan Buku
        Kekurangan buku ini terdapat pada kertas yang digunakan , kertas yang digunakan tipis dan warnanya agak gelap. Selain itu contoh –contoh soal yang terdapat pada buku ini hanya sedikit. Sehingga pembaca kurang memahami materi yang disampaikan pada buku ini.

http://mfmuam.blogspot.com/2012/06/resensi-buku-fiksi-dan-nonfiksi.html 

Candi, Cakrabirawa, dan Cinta Segitiga

manjali-dan-cakrabirawaManjali dan Cakrabirawa
Oleh: Ayu Utami
ISBN      :               9789799102607
Rilis        :               2010
Halaman :            276
Penerbit :            Kepustakaan Populer Gramedia
Bahasa :               Indonesia
Berbicara tentang sejarah Indonesia yang terjadi pada masa tahun 1965 dan sesudahnya, tentunya seperti mengorek luka lama bangsa Indonesia. Ketika beberapa Jenderal terbunuh dan menyisakan kengerian ketika mendengar istilah G-30S/PKI.  Kilasan sejarah itu, tercatat nama pasukan “Cakrabirawa” yang merupakan pasukan pengawal istana negara kala itu, dipimpin oleh Letkol. Untung, dituduhkan sebagai pelaku keji kejadian pembunuhan para Jenderal tersebut.
Nah, dalam novel Ayu Utami yang berjudul Manjali dan Cakrabiwara yang merupakan salah satu seri dari Bilangan Fu, Cakrabirawa dibicarakan lebih dalam lagi, selain tentang sejarah kelam tersebut, utamanya berkaitan dengan asal muasal kata Cakrabirawa, misteri candi-candi di Jawa Timur,  mitos-mitors leluhur dan tentu tak lupa ada bumbu asmara tokoh-tokoh di dalamnya.

Bagi yang sudah pernah membaca Bilangan Fu, tentunya masih ingat dengan tokoh-tokohnya. Bagi yang belum baca, ada 3 tokoh utama dalam Manjali dan Cakrabirawa; Marja Manjali, Parang Jati, Sandi Yuda. Marja gadis 19 tahun, cerdas, modern yang sedang kuliah di ITB, memiliki kekasih bernama Sandi Yuda seorang pemanjat tebing professional yang kerap menjadi langganan TNI untuk diajak latihan bersama. Sandi Yuda memiliki sahabat Parang Jati, seorang pemuda tampan bermata bidadari, berjari 12, arkeolog muda yang juga hobi panjat tebing. Marja-Sandi Yuda-Parang Jati, merupakan sahabat yang sangat kental, tak lengkap rasanya bila tidak kumpul bertiga. Ibaratnya makan es krim terus belepotan tidak ada tissue, nah kira-kira begitu deh kalau tidak kumpul semua. Ada yang kurang. Lalu siapa yang jadi tissue? (lah kok dibahas yaa…)
Pada suatu ketika, Manjali “dititipkan” oleh Yuda  yang sedang melakukan panjat  tebing  dengan TNI selama beberapa hari, di rumah Parang Jati di Sewugunung, di  tepi laut Selatan yang  saat itu sedang meneliti temuan candi di Jawa Timur bersama arkeolog dari Perancis Jacques Cherer.   Penemuan candi itu berawal dari ayah Parang Jati yaitu Suhubudi  mendapat kabar tentang adanya sebuah candi yang belum tergali di suatu tempat dekat perbatasan Jawa Tengah dan Timur, di wilayah yang diperkirakan bagian periferi kerjaan Kahuripan Airlangga di masa silam… (hal. 22).
Penggalian candi itu akhirnya di lakukan, di dukuh Girah tempat candi tersebut ditemukan. Dukuh Girah sangat lekat dengan dongeng tentang janda tukang teluh yang sakti dan sangat kejam, Calonarang yang hidup dalam masa pemerintahan Airlangga, awal abad ke-11 Masehi. Calonarang atau Calwanarang memiliki anak gadis yang sangat cantik bernama Ratna Manjali. Candi di dukuh Girah tersebut masih diduga masih berkaitan dengan Calwanarang, yaitu anaknya yang sedang melakukan perjalanan spiritual.  Nama anak Calwanarang yang mirip dengan nama Marja Manjali membuat Marja terkejut, kenapa bisa kebetulan sama?
Dalam proses penggalian itu ditemukan arca pertama yaitu Syiwa Bhairawa, di arca tersebut terdapat anjing, tengkorak, dan trisula, arca itu biasa disebut juga Cakra Cakra. Lalu apa ada hubungannya dengan Cakrabirawa? Tentu saja, dan kisah ini juga diwarnai oleh Marja yang tak bisa melawan pesona mata bidadari Parang Jati. Serta kebetulan-kebetulan lain yang cukup banyak. Jika kebetulan-kebetulan terjadi terlalu banyak dan cocok satu sama lain, apakah kita tetap percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka? (hal. 18).
Manjali dan Cakrabirawa, terbagi menjadi 3 tema besar,  Rahasia, Misteri, Teka-Teki. Semua terangkai dalam satu jalinan berurut, seperti kebetulan bisa terangkai begitu. Dan masing-masing mewujud cerita tersendiri. Dalam buku ini, lebih diexplore kisah asmara antara Parang Jati dan Marja, yang di buku Bilangan Fu tidak diungkap secara detail. Menurut Ayu Utami dalam akun twitternya @BilanganFu nantinya ada 12 seri  Bilangan Fu, saat ini seri yang sudah terbit (setelah buku Bilangan Fu) ada 2 yaitu Manjali dan Cakrabirawa dan Lalita.
Sangat menarik membaca novel dengan latar belakang sejarah yang dikaitkan dengan mitos-mitos leluhur yang ada dalam masyarakat. Tentunya akan bisa lebih mengenal sejarah bangsa sendiri dan budaya lokal. Ayu Utami menulis Manjali dan Cakrabirawa dikemas lebih ringan dibanding dengan BIlangan Fu yang cukup berat. Cukup bisa dipahami karena buku ini sebenarnya bagian dari Bilangan Fu tersebut. Mengorek tentang sejarah tentunya akan bisa membuka mata tentang sejarah tersebut sebenarnya bagaimana. Tidak harus menelan mentah-mentah dengan apa yang disodorkan oleh pemerintah, oh si A yang salah, kamu harus percaya, ya begitu saja. Tapi, dalam fakta-fakta yang nyata sejarah bisa lebih diketahui kebenaran serta riwayatnya. Oleh karenanya, kenapa buku ini penting dibaca? Salah satunya karena ada kisah sejarah yang ditulis dengan apik berdasarkan riset oleh Ayu Utami. ***
Cheers..

http://eviwidi.wordpress.com/2012/12/17/candi-cakrabirawa-dan-cinta-segitiga/#more-2260



Perahu Kertas
Oleh: Dewi Dee Lestari
ISBN : 9789791227780
Rilis : 2009
Halaman : 444
Penerbit : Bentang Pustaka
Bahasa : Indonesia


“Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.” (hal.312)
Dalam beberapa minggu terakhir, perfilman kita diramaikan oleh film yang diadaptasi dari salah satu novel karya Dee Dewi Lestari, Perahu Kertas.  Film besutan Hanung Bramantyo tersebut  dibuat 2 bagian. Mungkin dirasa kurang jika hanya dirangkum hanya dalam 1 film saja.
Perahu Kertas, kisah remaja yang menuju proses kedewasaan merupakan karya Dee yang cukup ringan dibandingkan karya-karya  lainnya, seperti  seri Supernova, Filosofi Kopi, maupun kumpulan cerita  pendek Madre.
Mengisahkan tentang dua orang remaja, Keenan dan Kugy.  Keenan baru pulang dari Amsterdam, digambarkan sebagai seorang cowok yang tinggi, ganteng, cerdas dan memiliki bakat melukis. Namun kecintaannya pada melukis tidak serta merta mendapat restu dari orang tuanya, terutama papanya karena papanya berharap Keenan akan menjadi penerus perusahaan trading miliknya, selain ada kisah masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Sedangkan Kugy adalah seorang remaja putri yang tidak terlalu peduli pada penampilan, bertubuh mungil, memiliki obsesi sebagai penulis dongeng dan menganggap dirinya sebagai agen Neptunus. Kugy punya kegemaran menuliskan pesan-pesan khusus di atas kertas, lalu kertas dilipat seperti perahu kemudian dihanyutkan di laut, atau aliran air. Kugy berharap pesannya akan sampai pada Neptunus.
Keenan dan Kugy bertemu saat keduanya berada di statiun kereta api di Bandung. Saat Kugy dan sahabat-sahabatnya Noni dan Eko menjemputnya. Keenan adalah sepupu Eko. Keenan menuruti permintaan papanya yang ingin dia kuliah di jurusan Ekonomi. Sedangkan Kugy kuliah di jurusan Sastra sebagai bagian dari obsesinya sebagai penulis dongeng. Pertemuan demi pertemuan selama kuliah di Bandung kemudian saling menautkan hati keduanya, namun pada saat yang sama, Kugy masih memiliki Ojos, yang telah bersamanya selama hampir tiga tahun. Sedangkan Keenan akhirnya dekat dengan Wanda, salah satu anak pemilik gallery lukis Warsita yang cukup ternama, dan akan membantu Keenan dalam proses karya lukisnya hasil pencomblangan Noni yang merupakan teman Wanda.
Dalam salah satu kesempatan, Keenan sempat membuatkan Kugy ilustrasi untuk dongeng-dongeng yang telah ia tulis. Kugy merasa ada seseorang yang akan mewujudkan mimpinya, pelukis yang akan membuatkan ilustrasi untuk dongeng-dongengnya. Selama ini, tidak ada seorang pun yang bisa memahami tentang obesinya, atau pun orang yang bisa menuangkan karakter-karakter khayalannya dalam ilustrasi yang sesuai dengan apa yang ada dalam benaknya. Keenan bisa mewujudkan karakter itu dalam sekejap, hingga Kugy makin merasa dekat dengan mimpinya.
Rasa yang disimpannya untuk Keenan akhirnya menjadi masalah tersediri, terutama dalam langkah hidup Kugy selanjutnya. Demi mengetahui Keenan dekat dengan Wanda, Kugy akhirnya menghindar dengan menjadi pengajar untuk anak-anak  keluarga miskin di salah satu perkampungan. Kugy tidak ingin bertemu Keenan yang kemudian bisa membuatnya sakit hati dan makin membuat pikirannya kacau.
Keenan dan Wanda sebenarnya juga tidak baik-baik saja, Keenan masih belum yakin akan ketulusan hati Wanda, selain perasaannya sendiri yang masih tertuju pada Kugy. Sampai pada akhirnya, ada kejadian Keenan kecewa dengan Wanda karena mengetahui bahwa lukisan-lukisan Keenan yang laku di Gallery ternyata telah dibeli oleh Wanda sendiri bukan kolektor betulan. Kekecewaan itu bertumpuk manakala hari sebelumnya Keenan bertengkar hebat dengan papanya, Keenan memutuskan untuk berhenti kuliah dan ingin hidup dari melukis karena merasa  bisa hidup dari melukis. Setelah kejadian itu, lukisan-lukisannya yang sebelumnya ada di Wanda dikirim ke rumah Pak Wayan teman baik Ibunya yang memiliki gallery lukisan. Keenan memutuskan untuk menetap di Ubud-Bali, tinggal di rumah Pak Wayan, setelah lukisannya laku dibeli oleh seorang kolektor dari Jakarta.
Sementara Kugy, makin tidak bisa membendung perasaannya sendiri. Hingga akhirnya, memutuskan untuk berpisah dengan Ojos. Hari-hari berganti, dan pertemuan dengan orang-orang baru baik Kugy dan Keenan mengisi keduanya. Akankah Keenan dan Kugy akhirnya bertemu kembali dan hati mereka saling bertaut dan impian terpendamnya akan terwujud?
Drama Korea
Saat selesai membaca Perahu Kertas ini, sebenarnya yang terlintas di benak saya adalah cerita ini akan lebih cocok jika diwujudkan dalan bentuk seperti drama seri Korea. Sehingga ceritanya akan lebih detil dan karakter-karakternya bisa lebih lama dinikmati oleh penggemarnya.
Dee cukup piawai merangkai cerita remajanya yang  nama salah satu tokoh utamanya; Keenan, diambil dari nama anak pertamanya. Selayaknya cerita remaja, memang kisahnya tidak terlalu berat atau rumit yang bikin kening berkerut-kerut. Justru kisahnya sangat mudah dicerna dan dinikmati.
Meskipun ringan, tetap ada isi yang ingin disampaikan, bahwa bagaimanapun impian adalah salah satu bahan bakar manusia untuk tetap bisa bersemangat dalam menjalani hidup. Hingga hidup ini tidak  tanpa arah menjalaninya, namun ada tujuan dan impian yang ingin dicapai. Upaya meraih impian tersebut mungkin tidak mudah, dan tidak mulus, tapi tetap terus diperjuangkan. Selain itu juga, ada kejujuran tentang perasaan dan hati yang tidak baik jika terus disembunyikan dan disimpan. Mungkin ketika harus diketahui dan dibuka, ada rasa sakit atau rasa pahit yang dirasa, terutama olah orang-orang lain. Namun, kadang rasa sakit dan pahit tersebut, akan lebih baik dari pada disembunyikan dan akhirnya akan menyakiti lebih dalam pada orang lain. Kisah Perahu Kertas ini seolah memberi  gambaran, perjalanan menuju kejujuran itu juga tidak semulus jalan tol, ada guncangan ombak dan kadang badai yang harus dihadapi. Apapun nantinya yang terjadi, kejujuran akan memberikan cahaya baru dalam kehidupan. ***
Cheers..

http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3088975953505288611#editor/target=page;pageID=105693997394333817



Hafalan Shalat Delisa (Ganti cover)
Oleh: Tere Liye
ISBN      :               9789793210605
Rilis        :               2010
Penerbit  :           Republika
Bahasa  :               Indonesia
Bencana Tsunami di Aceh yang terjadi pada akhir tahun 2004, menjadi latar kisah dalam buku ini. Menceritakan tentang seorang anak; Alisa Delisa yang sedang berjuang untuk menghafal bacaan shalat.  Delisa, anak perempuan 6 tahun tinggal di Lhok Nga bersama ummi dan ketiga saudaranya yang kesemuanya perempuan. Kakak tertuanya  Cut Fatimah, kakak keduanya kembar, Cut Aisyah dan Cut Zahra. Abi mereka bekerja di sebuah kapal asing yang berlayar keliling dunia, biasanya pulang ke Lhok Nga setiap 3 bulan sekali, sehingga saat tidak berada di rumah, Abi hanya berkomunikasi melalui telepon dengan ummi dan anak-anaknya.
Sudah menjadi tradisi dalam keluarga tersebut, setiap anak-anak yang sudah hafal bacaan shalatnya, maka dia berhak untuk menerima hadiah berupa kalung emas seberat 2 gram yang bisa dipilih sendiri di toko emas langganan, milik Ko Acan. Demikian juga dengan Delisa. Delisa sangat senang sewaktu diajak untuk memilih kalung yang akan menjadi hadiahnya. Ketika berada di toko tersebut, kebetulan Ko Acan, yang sudah kenal baik mengusulkan untuk memilih kalung dengan hiasan huruf D, D berarti Delisa. Delisa setuju. Namun ternyata pilihan tersebut sedikit menimbulkan masalah ketika diketahui salah satu kakaknya, Aisyah. Karena merasa kalung Delisa lebih bagus, Aisyah merajuk dan cemburu kenapa kalung Delisa lebih bagus dari kalung miliknya. Setelah diberikan pengertian oleh Ummi dan sudaranya akhirnya Aisyah bisa menerimanya.  “Jangan pernah lihat hadiah dari bentuknya… Lihat dari niatnya.. –Kalau kamu lihat hadiah dari niatnya, Isya Allah hadiahnya terasa lebih indah…” (hal. 33).
Setiap sore, selepas pulang sekolah Delisa belajar mengaji di muenasah di dekat rumahnya, belajar dengan ustadz Rahman bersama dengan teman-teman seumurannya. Abi juga menjanjikan untuk membelikan sepeda jika Delisa sudah hafal bacaan shalatnya, sehingga makin semangatlah Delisa menghafal, Aisyah membantunya dengan memberikan “jembatan keledai” yang memudahkan untuk bisa menghafal. Setiap  habis bermain sore di pantai, Delisa belajar naik  sepeda dengan Tiur, teman seumurannya yang kebetulan memiliki sepeda.
Suatu hari, Ustadz Rahman pernah mengatakan pada anak-anak didiknya;  Aku mencintai Ummi karena Allah.  “Nah, coba kalian katakan kepada Ummi masing-masing, nanti kalau Umminya sampai menangis, Ustadz beri hadiah..” (hal. 55). Dua hari kemudian, Delisa mengatakannya sesaat setelah melaksanaan shalat subuh berjamaah, dengan memeluk Umminya. Ummi sampai menangis demi mendegar putrinya membisikkan kata-kata tersebut, kemudian kakak-kakaknya ikut memeluk dan mengakatan kalimat yang sama sambil menangis. Ketika bertemu lagi dengan Ustadz Rahman, Delisa meminta hadiah yang dijanjikan, yang ternyata berupa coklat. Hadiah tersebut tak sengaja diketemukan oleh Aisyah, tapi ketika ditanya tentang kenapa Ustadz Rahman sampai memberikan hadiah, Delisa enggan mengatakan kejadian yang sebenarnya.  “Delisa akan cerita deh…Tetapi besok-besok ceritanya” Sayang, ternyata besok-besok itu adalah misteri Allah yang tidak mengijinkan Delisa untuk terus berkumpul dan bertemu dengan saudara-saudaranya, juga Ummi yang sangat dikasihinya..
26 Desember 2004, jadwal Delisa untuk mengikuti ujian hafalan shalat. Ujian itu dilaksanakan di hari Ahad pagi, supaya tidak mengganggu jam belajar regular anak-anak kelas satu Ibtidaiyah. Satu persatu anak-anak yang mengikuti ujian dipanggil oleh Ibu Guru Nur, guru penguji untuk ujian hafalan shalat anak-anak. Saat giliran Delisa, perlahan-lahan Delisa mengucapkan kalimat-kalimat bacaan shalat, namun bersamaan dengan itu, alam bergejolak, menghentak bumi Aceh, meluluh lantakkan semua benda tanpa kecuali. Hingga akhirnya, air datang tak terduga yang meratakan semua bangunan, beribu-ribu manusia tak berdaya dalam aliran dan genangannya. Demikian juga dengan Delisa.. Namun, ternyata, Allah masih memberikan Delisa kesempatan, dalam nafasnya yang masih tersisa..  Akankah Delisa dapat meneruskan kembali hafalan  shalatnya?

Khusyuk – Fokus
Shalat adalah tiang agama dalam Islam. Oleh karenanya, perlu diajarkan sedari dini, agar anak-anak mengenal agamanya.  Sangat beruntung jika sekiranya, orang tua bisa memiliki anak-anak yang shaleh dan shalehah, yang mau belajar agama sedari kecil, menurut,  dan tanpa penolakan.  Jika mengingat anak-anak jaman sekarang, tentunya orang tua memiliki tantangan yang lebih besar, karena dengan hadirnya teknologi, anak-anak  kadang cenderung untuk lebih memilih bermain game, nonton tv dibandingkan dengan belajar membaca buku atau belajar mengaji Al-Qur’an.  Oleh karenanya, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membentuk mereka, utamanya dalam proses anak-anak yang serba ingin tahu di masa pertumbuhannya.
Kisah Delisa ini, lebih untuk memberi contoh pada orang tua, bahwa anak-anak harus diberikan teladan, terutama oleh orang tuanya, sehingga mereka punya contoh nyata. Dan keteguhan Delisa untuk menghafal bacaan shalatnya, juga salah satu contoh untuk terus fokus jika mengerjakan sesuatu perkara.  Demikian juga jika mengerjakan shalat, maka harus fokus, sehingga bisa khusyuk dalam shalat.
Fokus dalam sesuatu perkara, akan menjadikan kita bisa mencapai tujuan, dan maksimal dalam mengerjakannya, tidak terombang-ambing oleh perkara-perkara yang lain yang menyebabkan perkara tersebut tidak tuntas dan kadang malah terbengkalai. Fokus, akan mengantarkan kita untuk bisa memilih mana yang prioritas, dan mana yang bukan prioritas.
Kita akan banyak belajar tentang kehidupan dari Delisa. Kisah yang ditulis oleh Tere Liye ini juga telah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Bencana akan selalu mengingatkan kita tentang besarnya kekuasaan Allah SWT. Bahwasanya, kita sebagai manusia yang masih bisa menghirup udara hari ini, berbuatlah yang terbaik, karena kita tidak pernah tahu, kita masih diberi kesempatan untuk bertemu hari esok, ataukah tidak. Buku ini juga banyak mengajarkan tentang makna hidup sederhana, ikhlas, tulus, bekerja keras, dan senantiasa bersyukur. ***
 Cheers..
http://eviwidi.wordpress.com/2012/10/28/review-buku-hafalan-shalat-delisa-khusyuk-fokus-dalam-sesuatu-perkara/#more-2238


Resensi Buku Fiksi

Judul : Matilda.
Pengarang : Ronald Dahl
(Ilustrasi oleh Quentin Blake).
Alihbahasa : Agus Setiadi.
Penerbit : Gramedia, 1991.
Tebal : 259 halaman.
Ukuran : 13,5 x 19,8 cm. Enak rasanya memahami dunia anak-anak dan berkecimpung di dalamnya. Anak-anak dapat berpikir seperti orang dewasa, bahkan lebih bijak lagi tanpa meninggalkan citra anak-anak yang suci dan polos. Itu kira-kira yang ingin disampaikan oleh Ronald Dahl kepada pembaca Matilda. Buku setebal 259 halaman yang tidak terasa tebal jika dibaca ini menampilkan sosok Matilda, bocah 5 tahun yang hobinya membaca. Buku-buku karya pengarang dunia seperti Charles Dickens, Voltaire, Hemingway, Kliping, Tagori, Shakespiere sudah dibacanya saat umurnya belum genap 5 tahun.
Buku ini menarik karena diberi ilustrasi yang menunjang. Katakatanya enak dibaca, dan memiliki adegan-adegan di luar batas kenormalan. Mungkinkah ada kepala sekolah SD yang tega menarik kepang rambut muridnya dan membuat anak itu seperti baling-baling di atas kepala Kepsek hanya karena si anak tidak memotong rambut keemasannya? (hlm. 123). Mungkinkah pula ada seorang Kepsek yang mempunyai alat-alat untuk menghukum siswa bandel bak alat-alat penyiksaan di kamp Nazi; dan menyuruh seorang anak kecil memakan kue tar coklat berdiameter 20 cm? Dan rasanya tidak ada di dunia ini orangtua menganggap anak perempuannya yang bungsu (Matilda) sebagai bisul yang mengganggu (hlm. 10).
Meskipun cerita-ceritanya memberi kesan menyeramkan, kala membacanya kita tidak merasa merinding karena gaya penceritaan dibuat seringan mungkin, sesuai dengan sasaran pembaca buku ini, yaitu anak-anak SD di Inggris sana. Yang mungkin agak membuat pembaca Indonesia bingung adalah siapa sasaran pembaca buku ini. Dalam katalog, buku ini dikatagorikan sebagai fiksi anak-anak. Namun, mengingat jumlah halaman dan kosakatanya, buku ini terasa berat bagi anak-anak SD di Indonesia.
Matilda menceritakan seorang anak berumur 5 tahun yang memiliki kepandaian di atas ukuran orang dewasa. Sialnya, kepandaiannya ini tidak diperhatikan orangtuanya karena mereka tergolong orangtua yang menganggap anaknya sebagai kutu yang menjijikkan. Bahkan, orangtuanya menganggap Matilda tidak berguna dan bodoh (hlm. 27). Hampir separoh kisah Matilda bercerita tentang ”pembalasan” Matilda terhadap sikap dan ucapan orang tuanya. Dengan kemampuan supernya, yaitu mampu menggerakkan barang hanya dengan pikiran saja, Matilda berhasil membantu Miss. Honey mendapatkan rumah dan uangnya yang diambil Kepala Sekolah SD, Ibu Thrunchbull.
Pembalasan Matilda dimungkinkan terjadi karena selain cerdas, Matilda juga banyak membaca. Matilda yang tersia-sia ini akhirnya tinggal dengan Miss. Honey, gurunya, karena orangtuanya dan kakaknya pindah ke Spanyol akibat kasus kejahatan yang mereka lakukan. Ronald Dahl tampaknya menekankan pentingnya kegemaran membaca. Tokoh-tokoh baik dan pintar dalam buku ini adalah orangorang yang gemar membaca, sedangkan tokoh-tokoh jahat seperti orangtua Matilda dan Kepsek adalah orang-orang yang hobinya bermain.

1 komentar: