Gema Pahlawan: Mengenal Pak Dirman Melalui Monumen
MENGENAL PAK DIRMAN MELALUI MONUMEN
Jendral Soedirman lahir
pada 24 Januari 1916 di Desa Bantar Barang, Rembang, Kabupaten Purbalingga. Beliau diambil anak angkat oleh
kakak ibunya yang menjabat Asisten Wedana, yang kemudian setelah pension
pindah ke Cilacap.
Jendral Soedirman adalah
pejuang, pemimpin yang sangat patut diteladanin. Cara hidupnya
bersahaja; tidurpun dia lebh suka di lantai dengan selembar tikar. Tak
ada kamus untuk manja dan berputus asa.
Salah satu
keberhasilannya adalah ketika berhasil mengusir tentara sekutu dari
Ambarawa dalam peristiwa “Palagan Ambarawa” yang waktu itu ia masih
berpangkat kolonel.
Kemudian dilantik menjadi
Panglima Besar. Sayang, tiga tahun kemudian menderita sakit dan harus
menjalani opersai paru. Jendral Soedirman terpaksa hidup hanya dengan
satu paru saja. Meskipun begitu semangatnya tidak pernah reda.Tetap
tegar memimpin perang gerilya dengan berat.
Jendral Soedirman
terus berjuang dengan gagah dan berani hingga wafatnya, 29
Januari 1950 di Yogyakarta.
Untuk mengenang dan
menghargai jasa-jasanya, pemerintah mengabdikan namanya untuk nama jalan
raya juga untuk nama universitas negeri di Purwokerto.
Selain itu didirikan juga
bangunan-bangunan atau patung-patung. Salah satunya adalah monument
tempat lahirnya beliau yang terletak di Desa Bantar Barang, Kecamatan
Rembang Purbalingga.
Monumen berjarak sekitar
24 km dari kota Purbalingga dan dapat di tempuh 45 menit dengan kendraan
umum dari terminal Purbalingga. Tentu saja akan lebih sedikit waktu
yang diperlukan jika memakai kendaraan pribadi.
Sebenarnya ada dua jalur
yang dapat kita tempuh untuk mencapai lokasi monument. Rute pertama
jaraknya sekitar 40 km, yaitu Purbalingga – Bobotsari, Losari-Rembang.
Sedangkan rute kedua jaraknya 24 km yaitu
Purbalingga-Kaligondang-Pengadegan-Rembang. Rute kedua inilah yang lebih
dekat, rute ini juga yang dapat ditempuh hanya dengan sekali bus dari
terminal Purbalingga.
Begitu turun dari
kendaraan, maka sudah tepat berada di depan kompleks monument, kesan
pertama yang terasakan adalah sejuk dan lapang. Di depan bangunan
monument ada lapangan rumput hijau yang luas dan banyak ditumbuhi
pohon-pohon rindang di tepinya. Lapangan ini dibelah seruas jalan
panjang lebih kurang 50 m yang menghubungkan jalan raya dengan gapura
monument.
Sebelum mencapai gapura
bisa ditemui sebuah kendaraan lapis baja, tank yang ditempatkan di
gapura. Tank ini berwarna hijau lumut dan berkesan sangat aggah. Di
sebelah kanan kiri tank berdiri dengan gagah pula dua buah meriam dengan
warna senada.
Monumen tempat lahir
Jendral Soedirman ini memang cukup luas. Untuk kompleks bangunan monumen
saja luasnya 50 meter kali 100 meter, sedangkan luas keseluruhan
berikut tanah lapangnya adalah 2 hektar.
Di kompleks bangunan
monument yang diresmikan pada 21 Maret 1977 ini ada tiga bangunan utama.
Rumah duplikat, mushola dan aula (balai pertemuan). Selain itu juga ada
bangunan gudang dan kamar kecil. Bangunan-bangunan itu dikelilingi
tembok yang tidak begitu tinggi dan diantara bangunan-bangunan itu
ditata taman yang teratur dan indah.
Begitu melewati gapura,
akan terlihat sebuah relief memanjang setinggi dua meter. Relief ini
menceritakan tentang kehidupan Jendral Soedirman sejak lahir hingga
wafatnya. Tertulis juga motto dari beliau : “Percayalah dan
yakinlah bahwa kemerdekaan sebuah Negara yang didirikan diatas
timbunan/runtuhan ribuan korban jiwa, harta, benda dari rakyat dan
bangsanya tidak dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga.”
Kemudian di belakang itu
terdapat bangunan rumah duplikat. Bangunan ini terbuat dari kayu dan
anyaman bambo dengan nuansa Jawa yang kental. Pada salah satu kamar
dirumah Jendral Soedirman dilahirkan.
Disebelah kiri rumah
duplikat terdapat bangunan aula (balai pertemuan), aula ini adalah
sebuah bangunan terbuka yang juga bernapaskan Jawa. Selain ruang
terbuka, ada dua buah ruang yang tertutup. Salah satunya dipergunakan
sebagai ruang perpustakaan mini yang cukup lengkap. Ada ratusan buku
dikoleksi disini, sebagian besar buku-buku tentang beliau.
Menurut pengelola
monument, perpustakaan mini ini didirikan pada tahun 1983 atas inisiatif
dan bantuan masyarakat Rembang yang hidup diperantauan. Tentu saja pada
mulanya koleksi buku di perpustakaan ini tidak begitu banyak, namun
kemudian jumlah koleksinya semakin bertambah karena mendapat bantuan
dari berbagai pihak.
Tepat di depan aula
terdapat patung Jendral Soedirman dalam pakain kepanduannya. Patung yang
gagah diresmikan 23 Juni 1990 pada saat pembukaan Perkemahan Wirakarya
Nasional 90 yang bertempat di lokasi monument tersebut.
Bangunan utama yang
terakhir adalah mushola. Mushola ini terletak disebelah kanan rumah
duplikat. Jendral Soedirman sering shalat di mushola ini jika kebetulan
tidak sedang bergerilya atau ke Cilacap. Sampai sekarang mushola ini
masih tetap terpakai, utamanya untuk pelaksanaan shalat Jumat warga
sekitar monument.
Untuk terakhir, bolehlah
kita kaji pesan dari Jendral Soedirman yang terdapat di ruang tempat
beliau dilahirkan; “Janganlah bimbang dalam menghadapi
macam-macam penderitaan karena makin dekat cita-cita kita tercapai makin
berat penderitaan yang harus kita alamai.” (ditulis kembali med
09082010-by nenny-hery w-ananto- SMAN1purbalingga-pernah di muat di
BERNAS-GEMA-17101993)
http://sejarah.kompasiana.com/2010/08/09/gema-pahlawanmengenal-pak-dirma-melalui-monumen-220589.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar