Erick
Setiawan, Novelis Indonesia yang Mendunia
Kita
tentu mengenal nama Andrea Hirata, penulis Indonesia yang terkenal dengan
karyanya Laskar Pelangi. tapi, apakah kita mengenal nama Erick Setiawan? Erick
Setiawan adalah novelis asal Indonesia yang sejak tahun 1991 pindah ke Amerika
dan menetap disana. ia terkenal karena novelnya yang fenomenal, Of Bees And
Mist, yang terbit tahun 2009. Berbeda dengan Andrea Hirata [...]
Kita tentu mengenal nama
Andrea Hirata, penulis Indonesia yang terkenal dengan karyanya Laskar Pelangi.
tapi, apakah kita mengenal nama Erick Setiawan?Erick Setiawan adalah novelis asal Indonesia yang sejak tahun 1991 pindah ke Amerika dan menetap disana. ia terkenal karena novelnya yang fenomenal, Of Bees And Mist, yang terbit tahun 2009. Berbeda dengan Andrea Hirata yang sukses lebih dulu di negara sendiri, Erick Setiawan pertama meraih kesuksesannya di Amerika.
Penulis kelahiran Jakarta tahun 1975 yang pernah menuntut ilmu di Stanford University, Amerika Serikat dalam bidang psikologi dan komputer ini adalah seorang kutubuku dan suka menulis. Sebelum Of Bees and Mist, Erick telah menulis dua novel namun dua naskahnya tersebut mendapat ratusan penolakan dari para agen sastra, sehingga ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk menerbitkan karyanya.
Penolakan tersebut untungnya tidak menyurutkan semangatnya dalam menulis. Erick lalu menulis of Bees and Mist yang diselesaikannya dalam waktu 4 tahun. berbeda dengan dua naskah novel terdahulunya, kali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama ia memperoleh agen sastra hingga akhirnya pada tahun 2009 novelnya ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan Simon & Schuster. Tak hanya itu saja, Of Bees and Mist mendapat sambutan yang positif dari pembaca dan kritikus sastra. Novel ini menjadi finalis QPB New Voices Award 2010 dan masuk dalam longlist penghargaan sastra bergengsi internasional IMPAC Dublin Literary Award 2011.
Of Bees and Mist sendiri merupakan kisah epik cinta, drama keluarga, dan misteri yang berlangsung selama tiga puluh tahun. Tokoh sentralnya adalah seorang wanita bernama Meridia yang memiliki ‘konflik’ dengan ibu serta mertuanya.
Walau inti dari kisah dalam novel ini adalah perseteruan antara anak dan mertua namun Erick mengemasnya dengan begitu menarik sehingga novel ini menjadi tidak membosankan. Di novel ini ada begitu banyak konflik yang dikisahkan, selain perseteruan antara Meridia dan mertuanya, dikisahkan pula konflik antara kedua orang tuanya, Revena dan Gabriel, lalu ada juga kisah kedua adik iparnya, hingga Patinna, pembantu mertuanya yang ternyata memiliki kisah rahasia antara dirinya dengan Eva.
Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah balutan misteri dan mistis yang membungkus kisah cinta dan drama dalam novel ini. Baik keluarga Meridia maupun keluarga mertuanya memiliki sisi kelam yang sedikit demi sedikit akan terungkap di sepanjang novel ini. tak heran novel setebal 416 halaman ini mendapat ulasan bagus dari banyak media di Amerika. (baca ulasannya disini)
Novel ini ditulis dalam Bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa yaitu Spanyol, Belanda, Cina dan tentu saja, Indonesia. novel yang dipuji oleh Washington Post ‘Drama rumah tangga yang mengagumkan’ ini telah beredar di empat benua, Amerika, Asia, Eropa dan Australia. Novel ini juga bisa dibeli secara online melalui toko buku terkenal,Barnes and Noble, dan situs jual beli internasional lain seperti Powell’s, Indiebound serta Amazon.
sumber: official website of Of Bees and Mist
ditulis di Good News From Indonesia oleh Farah Fitriani (@farafit / farahfitrianifaruq@gmail.com)
ANDREA HIRATA
Bulan Februari 2013
ini, ramai dibicarakan soal polemik Andrea Hirata, penulis novel Laskar
Pelangi, dengan Damar Juniarto alias Amang Suramang, seorang publisis dan
moderator komunitas baca Goodreads. Polemik berawal, ketika Damar menulis
sebuah artikel di Kompasiana berjudul “Pengakuan Internasional Laskar Pelangi:
Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya.” Dalam tulisannya tersebut, jika
dibaca dengan jeli, Damar sesungguhnya tak sedang memojokkan Laskar Pelangi
karya Andrea Hirata. Menurut pengakuannya di Tempo edisi 20 Februari 2013, ia
cuma melakukan verifikasi terkait karya Andrea tersebut. Ada tiga hal yang
Damar pertanyakan dalam tulisannya di Kompasiana.
Pertama, ia melakukan kroscek soal
benar atau tidaknya Laskar Pelangi diterbitkan ulang oleh penerbit
internasional yang menerbitkan karya-karya pemenang nobel sastra, yakni Farrar,
Straus, dan Girroux (FSG). Menurut pengakuan Damar dalam artikelnya, ia telah
terlebih dahulu melakukan wawancara dengan CEO Bentang Pustaka, Salman Faridi.
Damar menyimpulkan, Laskar Pelangi yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan
judul The Rainbow Troops diterbitkan oleh Sarah Crichton Books, sebuah imprint
penerbit FSG. Kedua, Damar menyebutkan kalau gelar international best seller
untuk bukunya itu tidak jelas. Yang menarik dan membuat saya sedikit kaget
adalah, temuan ketiga Damar yang ia dapatkan dari situs berita Metronews.com
edisi 12 Februari 2013. Dalam situs tersebut, Andrea bilang, “hampir seratus
tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdulillah hari
ini semua terbukti setelah buku saya menjadi best seller dunia.”
Pernyataan ini menarik. Sebab, mengundang banyak “kicauan” dari berbagai kalangan. Meski Damar sendiri mengakui, tidak bisa datang langsung ke konferensi persnya dan mungkin salah kutip.”Kalau begitu, apa semua media yang datang salah kutip?” kata Damar dalam Tempo, edisi 25 Februari 2013. Buntut dari polemik ini, Damar akan dimejahujaukan oleh Andrea, karena dinilai mengganggu integritasnya sebagai penulis. Menurutnya, penulis harus mempertahankan integritas karyanya dan hal itu sifatnya prinsipil.
Lalu di mana posisi Pram dan lain-lain?
Pernyataan ini menarik. Sebab, mengundang banyak “kicauan” dari berbagai kalangan. Meski Damar sendiri mengakui, tidak bisa datang langsung ke konferensi persnya dan mungkin salah kutip.”Kalau begitu, apa semua media yang datang salah kutip?” kata Damar dalam Tempo, edisi 25 Februari 2013. Buntut dari polemik ini, Damar akan dimejahujaukan oleh Andrea, karena dinilai mengganggu integritasnya sebagai penulis. Menurutnya, penulis harus mempertahankan integritas karyanya dan hal itu sifatnya prinsipil.
Lalu di mana posisi Pram dan lain-lain?
Menurut beberapa sumber, Laskar Pelangi
dapat predikat international best seller di Turki. Penerbit-penerbit ternama,
termasuk penerbit Butik Yayinlari di Turki yang menerbitkan Laskar Pelangi
dengan judul Gokkusagi Askerleri telah mencantumkan predikat tadi di kover
bukunya. Menurut Andrea, di beberapa negara, seperti Australia, Selandia Baru,
Amerika, Cina, Korea, dan Vietnam, novel Laskar Pelangi mengalami penjualan
yang mengesankan. Tapi, yang sangat disayangkan adalah pernyataan Andrea
terkait tak ada karya anak bangsa yang mendunia.
Pernyataan Andrea ini langsung memicu perdebatan di kalangan sastrawan dan kritikus sastra. Komentar pedas datang dari penyair dan kritikus sastra, Saut Situmorang. Ia mengatakan, “padahal sastrawan Pramoedya Ananta Toer telah berkali-kali jadi nominasi hadiah nobel sastra sebelum Andrea bisa cebok sendiri….” (Rimanews.com, 25/02/2013).
Pramoedya Ananta Toer merupakan salah seorang sastrawan Indonesia yang mendunia. Sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 dan wafat pada 30 April 2006 lalu, ini sudah menyabet berbagai penghargaan sastra dunia, di antaranya Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat pada 1988; The Fund for Free Expression, Amerika Serikat, pada 1989; Wertheim Award, Leiden, Belanda, pada 1995; Ramon Magsaysay Award, Manila, Filipina, pada 1995; Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang, pada 2000; The Norwegian Authors Union pada 2004; dan Centenario Pablo Neruda, Chili, pada 2004.
Karya monumental Pram, tetralogi Pulau Buru, yakni Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca, sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa. Bumi Manusia, yang mengisahkan perjuangan seorang wartawan bernama R.M. Tirto Adi Soerjo, ia ketik di mesin tik tua yang sudah bobrok dalam masa tahanannya di Pulau Buru pada 1973. Pram sebenarnya mendapatkan kiriman mesin tik penulis dan filsuf Prancis, Jean Paul Sartre. Tapi, mesin tik itu tak pernah sampai ke tangannya, lantaran tentara menggantinya dengan mesin tik bobrok, yang pitanya dibuat sendiri oleh para tahanan.
Pram juga menulis ratusan karya sastra fiksi dan nonfiksi, yang sampai sekarang masih diburu penikmat sastra. Yang membuat karya Pram diakui dunia internasional adalah kualitas tulisannya yang sangat baik. Pesan-pesan dalam tulisan Pram juga sangat realis. Pembaca diajaknya untuk menikmati karyanya seperti menonton film. Tulisannya menyiratkan pesan moral, humanitas, dan antifeodalisme. Artinya, pesannya bisa diterima secara universal. Namun, dari semua jerih payahnya selama hidup, Pram pernah bilang,”karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia.”
Selain Pram, ada N.H. Dini, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, dan lain-lain. Nurhayato Sri Hardini Siti Nukatin atau yang populer dengan N.H. Dini, dilahirkan di Semarang pada 29 Februari 1936. N.H. Dini banyak menulis karya sastra yang mengisahkan kehidupan perempuan. Beberapa karyanya yang terkenal, antara lain Pada Sebuah Kapal, La Barka, Orang-Orang Tran, Pertemuan Dua Hati, dan Hati yang Damai. Selain itu, ia menulis cerita pendek, novelet, dan cerita kenang-kenangan. Perempuan yang kini berusia 76 tahun ini pernah mendapatkan penghargaan SEA Write Award di bidang sastra di pemerintah Thailand. Ahmad Tohari pun tak kalah mendunia, kok. Pria kelahiran Banyuwangi pada 13 Juni 1948 ini terkenal dengan karyanya Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala). Selain itu, novelnya yang lain, di antaranya Kubah (1980), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), dan Bekisar Merah (1993). Ia juga menulis cerita pendek. Trilogi Ronggeng Dukuh Pruk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, seperti Jepang, Jerman, Belanda, dan Inggris. Pada 1990, ia mendapatkan penghargaan The Fellow of The University of Iowa. Jasa-jasa Buat Sanwirya, salah satu cerpennya, mendapat hadiah hiburan sayembara Kincir Emas pada 1975 yang diadakan oleh Radio Nederlands Wereldomroep. Pada 1995, Tohari mendapat hadiah sastra Asean, SEA Write Award.
Lalu ada Mochtar Lubis yang kelahiran Padang pada 7 Maret 1922. Karya-karyanya berupa novel dan cerpen, antara lain Si Jamal dan Cerita-cerita Lain (1951), Perempuan (1956), Kuli Kontrak (1982), dan Harimau! Harimau! (1975). Ia mendapatkan penghargaan Magsaysay dari pemerintah Filipina pada 1958 dan Pena Emas dari World federation of Editor and Publisher (1967). Masih ada banyak sastrawan yang saya rasa punya kualitas baik dan diakui dunia, sebut saja Umar Kayam, Achdiat K. Mihardja, Goenawan Mohamad, Moetinggo Boesje, Seno Gumira Adjidarma, dan lain-lain. Kalau kita membaca pernyataan Andrea Hirata di awal tulisan ini, lalu pantas kita bertanya-tanya, lantas di mana posisi Pramoedya dan lain-lain?
Kepala boleh panas, tapi hati tetap dingin
Pernyataan Andrea ini langsung memicu perdebatan di kalangan sastrawan dan kritikus sastra. Komentar pedas datang dari penyair dan kritikus sastra, Saut Situmorang. Ia mengatakan, “padahal sastrawan Pramoedya Ananta Toer telah berkali-kali jadi nominasi hadiah nobel sastra sebelum Andrea bisa cebok sendiri….” (Rimanews.com, 25/02/2013).
Pramoedya Ananta Toer merupakan salah seorang sastrawan Indonesia yang mendunia. Sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 dan wafat pada 30 April 2006 lalu, ini sudah menyabet berbagai penghargaan sastra dunia, di antaranya Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat pada 1988; The Fund for Free Expression, Amerika Serikat, pada 1989; Wertheim Award, Leiden, Belanda, pada 1995; Ramon Magsaysay Award, Manila, Filipina, pada 1995; Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang, pada 2000; The Norwegian Authors Union pada 2004; dan Centenario Pablo Neruda, Chili, pada 2004.
Karya monumental Pram, tetralogi Pulau Buru, yakni Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca, sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa. Bumi Manusia, yang mengisahkan perjuangan seorang wartawan bernama R.M. Tirto Adi Soerjo, ia ketik di mesin tik tua yang sudah bobrok dalam masa tahanannya di Pulau Buru pada 1973. Pram sebenarnya mendapatkan kiriman mesin tik penulis dan filsuf Prancis, Jean Paul Sartre. Tapi, mesin tik itu tak pernah sampai ke tangannya, lantaran tentara menggantinya dengan mesin tik bobrok, yang pitanya dibuat sendiri oleh para tahanan.
Pram juga menulis ratusan karya sastra fiksi dan nonfiksi, yang sampai sekarang masih diburu penikmat sastra. Yang membuat karya Pram diakui dunia internasional adalah kualitas tulisannya yang sangat baik. Pesan-pesan dalam tulisan Pram juga sangat realis. Pembaca diajaknya untuk menikmati karyanya seperti menonton film. Tulisannya menyiratkan pesan moral, humanitas, dan antifeodalisme. Artinya, pesannya bisa diterima secara universal. Namun, dari semua jerih payahnya selama hidup, Pram pernah bilang,”karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia.”
Selain Pram, ada N.H. Dini, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, dan lain-lain. Nurhayato Sri Hardini Siti Nukatin atau yang populer dengan N.H. Dini, dilahirkan di Semarang pada 29 Februari 1936. N.H. Dini banyak menulis karya sastra yang mengisahkan kehidupan perempuan. Beberapa karyanya yang terkenal, antara lain Pada Sebuah Kapal, La Barka, Orang-Orang Tran, Pertemuan Dua Hati, dan Hati yang Damai. Selain itu, ia menulis cerita pendek, novelet, dan cerita kenang-kenangan. Perempuan yang kini berusia 76 tahun ini pernah mendapatkan penghargaan SEA Write Award di bidang sastra di pemerintah Thailand. Ahmad Tohari pun tak kalah mendunia, kok. Pria kelahiran Banyuwangi pada 13 Juni 1948 ini terkenal dengan karyanya Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala). Selain itu, novelnya yang lain, di antaranya Kubah (1980), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), dan Bekisar Merah (1993). Ia juga menulis cerita pendek. Trilogi Ronggeng Dukuh Pruk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, seperti Jepang, Jerman, Belanda, dan Inggris. Pada 1990, ia mendapatkan penghargaan The Fellow of The University of Iowa. Jasa-jasa Buat Sanwirya, salah satu cerpennya, mendapat hadiah hiburan sayembara Kincir Emas pada 1975 yang diadakan oleh Radio Nederlands Wereldomroep. Pada 1995, Tohari mendapat hadiah sastra Asean, SEA Write Award.
Lalu ada Mochtar Lubis yang kelahiran Padang pada 7 Maret 1922. Karya-karyanya berupa novel dan cerpen, antara lain Si Jamal dan Cerita-cerita Lain (1951), Perempuan (1956), Kuli Kontrak (1982), dan Harimau! Harimau! (1975). Ia mendapatkan penghargaan Magsaysay dari pemerintah Filipina pada 1958 dan Pena Emas dari World federation of Editor and Publisher (1967). Masih ada banyak sastrawan yang saya rasa punya kualitas baik dan diakui dunia, sebut saja Umar Kayam, Achdiat K. Mihardja, Goenawan Mohamad, Moetinggo Boesje, Seno Gumira Adjidarma, dan lain-lain. Kalau kita membaca pernyataan Andrea Hirata di awal tulisan ini, lalu pantas kita bertanya-tanya, lantas di mana posisi Pramoedya dan lain-lain?
Kepala boleh panas, tapi hati tetap dingin
Pada 1984, Ahmad Tohari pernah juga berpolemik dengan F Rahadi dalam majalah Horison edisi Januari 1984. F Rahadi menulis sebuah kritik berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal.” Dalam tulisan tersebut, Rahadi di antaranya menulis,”penulis berulangkali menekankan bahwa Dukuh Paruk adalah sebuah pedukuhan miskin. Sampai-sampai, anak-anak makan dengan menggunakan daun pisang tiap hari. Ini terlalu ekstrim. Orang desa itu bisanya praktis. Tahun 50-an memang belum ada plastik termasuk piring plastik. Tapi toh sudah ada piring seng atau alumunium? Bagaimana kalau mereka tak kuat beli piring seng atau alumunium? Biasanya pakai layah atau cobek tanah atau tempurung kelapa. Daun pisang itu mahal dan bagi warga Dukuh Paruk terlalu berharga untuk disobeki tiap hari. Mending dibawa ke pasar ditukar garam dan sabun” (fharadi.wordpress.com).
Kemudian, ditanggapi lagi dengan tulisan oleh Ahmad Tohari berjudul “Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra: salam Buat Pak Guru Biologi” di majalah Horison edisi Maret 1984. Lalu, F Rahardi membalas lagi dengan tulisan berjudul “Masih Sekitar Ronggeng Dukuh Paruk: Hantam Kromo Bikin Keqi” dalam majalah Horison edisi Mei 1984. Tapi, melalui polemik ini, Ahmad Tohari tetap berkarya, sehingga lahir trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, yakni Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986), setelah Ronggeng Dukuh Paruk sendiri terbit pada 1982. Bahkan, karyanya ini mendapat sambutan dari pembacanya, diterjemahkan dalam bahasa asing dan difilmkan dengan judul Sang Penari pada 2011 lalu.
Benar, banyak faktor yang menjadikan sebuah karya diakui oleh pembaca. Banyak juga faktor buku laku di pasaran. Salah satunya melalui marketing atau promosi yang gencar. Sebuah karya, yang sudah dilempar ke publik, tentu tak hanya mengundang decak kagum. Tentu ada pula kritik. Nah, nasib karya ya di tangan pembacanya. Bisa jadi karya kita dikritik habis, bisa pula dilempar pujian bertubi-tubi. Tentu sikap bijak kita lah sebagai penulis menanggapi itu semua. Sebagai seorang penulis—karena tak mau disebut sastrawan—harusnya Andrea membalas tulisan Damar itu dengan tulisan pula. Konon, orang besar harus berbuat lebih bijak dalam melangkah, kepala boleh panas, tapi hati harus tetap dingin. Saya yakin, karya Andrea Hirata tetap ada dan tidak akan tenggelam begitu saja, jika Andrea tetap bersikap dingin dan terus berkarya.
Dhea
Penulis Cilik
Prestasi Gemilang Dhea, Penulis
Cilik dari SDI Raudlatul Jannah
Alhamdulillah,
sekali lagi SDI Raudlatul Jannah mendapatkan penghargaan melalui prestasi
siswa-siswinya. Kali ini penghargaan tersebut diraih oleh siswi kelas 4 dalam
event perlombaan menulis se-Jawa Timur yang diadakan oleh Asa Media di Royal
Plaza. Dia adalah Gusti Ayu Dhea Kirana Anjani atau biasa dipanggil Dhea.
Dalam event perlombaan kali ini,
Dhea berhasil menyingkirkan peserta lainnya yang juga mempunyai bakat luar
biasa dalam dunia tulis menulis. Dia berhasil menyabet juara 2 dalam lomba
tersebut. Beberapa prestasi lain yang berhasil ditorehkan Dhea diantaranya
juara 3 dalam lomba matematika di Raudlatul Jannah dan Juara 1 dalam lomba
karya tulis terbaik yang diadakan oleh Klub Penulis Cilik di Surabaya
Prestasi-prestasi gemilang yang
telah Dhea raih tersebut tidak lepas dari peran kedua orang tuanya dan motivasi
dari guru pembimbing yang ada di jurnalistik Club SDI Raudlatul Jannah serta
motto dirinya ' Dengan membaca kita tahu dunia dengan menulis dunia akan tahu
kita'. Rupanya motivasi inilah yang mengilhaminya untuk bersungguh-sungguh
dalam berkarya, khususnya dalam bidang karya tulis. Bakat menulis ini,
sepertinya menurun dari mamanya yang dulu ketika masih sekolah juga sering
menulis di media sekolah.
Ke depan, Dhea ingin menjadikan
karya-karyanya dalam bidang menulis membumi sehingga menjadikan kebermanfaatan
untuk umat manusia. Cita-cita mulia ini tentunya membutuhkan kerja keras serta
do'a dari kita semua.
Dhea juga berharap kepada seluruh
teman-temannya agar terus mencoba berkarya supaya dapat bermanfaat untuk umat
manusia. Pesan tersebut terangkum dalam kata-kata'Jangan Menyerah Sebelum
Mencoba'. Mudah-mudahan pesan Dhea ini menjadi motivasi bagi teman-temannya
sehingga semakin banyak yang mencoba maka akan semakin besar pula peluang untuk
menjadi siswa-siswi yang produktif. Amin. (w_One)
BIODATA Nama : Gusti Ayu Dhea Kirana
Anjani Nama Panggilan : Dhea TTL : Sidoarjo, 27 November 2002 Nama Ortu : 1. I
Gusti Made Anis 2. Desi Kurnia Anak Ke : 1 dari 3 bersaudara Hobby : Menulis,
membaca, memasak Kelas : 4 B SDI Raudlatul Jannah Cita-cita : Penulis Motto :
Dengan membaca kita tahu dunia dengan menulis dunia akan tahu kita http://raudlatuljannah.com/berita-134-prestasi-gemilang-dhea-penulis-cilik-dari-sdi-raudlatul-jannah.html.
ASMA NADIA
Dia adalah seorang guru
matimatika yang kemudian berhenti mengajar dan memutuskan karielnya menjadi
seorang penulis. Ternyata pilihanya tidak salah, ia menjadi penulis yang aktif
hingga nyaris menerbitkan 1 bukunya setiap bulan, terkenal akan karyanya Sepatu
Kaca, menempatkan dirinya dengan pendapatan lebih dari 400 juta keuntungan
pribadi dan belum termasuk hak cipta film untuk karyanya.
Kiprah wanita yang satu ini memang luar biasa. Puluhan bukunya baik yang berupa novel, kumpulan cerpen dan kumpulan essai telah terbit. Dan hampir semuanya best seller. Tulisan-tulisan Asma Nadia banyak ditemukan di majalah hingga koran. Salah satu bukunya yang best seller adalah Catatan Hati Seorang Isteri yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing dan Kumcer Emak Ingin Naik Haji. Tulisan-tulisan yang dibuat oleh Asma tentu saja banyak memberikan inspirasi dan motivasi. Nilai-nilai yang syar’I dapat ditemukan di setiap tulisannya. Hebatnya lagi, Asma mampu mengemasnya dengan cantik bahkan meremaja sekali. Sehingga banyak sekali remaja yang menyukai tulisan-tulisannya. Konon ibu muda ini mengumpulkan lebih dari 300 juta dari karyanya yang beredar dan beberapa hak cipta film untuk novelnya.
Kiprah wanita yang satu ini memang luar biasa. Puluhan bukunya baik yang berupa novel, kumpulan cerpen dan kumpulan essai telah terbit. Dan hampir semuanya best seller. Tulisan-tulisan Asma Nadia banyak ditemukan di majalah hingga koran. Salah satu bukunya yang best seller adalah Catatan Hati Seorang Isteri yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing dan Kumcer Emak Ingin Naik Haji. Tulisan-tulisan yang dibuat oleh Asma tentu saja banyak memberikan inspirasi dan motivasi. Nilai-nilai yang syar’I dapat ditemukan di setiap tulisannya. Hebatnya lagi, Asma mampu mengemasnya dengan cantik bahkan meremaja sekali. Sehingga banyak sekali remaja yang menyukai tulisan-tulisannya. Konon ibu muda ini mengumpulkan lebih dari 300 juta dari karyanya yang beredar dan beberapa hak cipta film untuk novelnya.
Read more: zonaunikdanmenarik.blogspot.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar