-->
CERITA DEWASA
Anak Tetangga ku
Cerita ini
terpaksa saya curahkan di Blogger karena harus ku curahkan di mana lagi hati
dan perasaanku yang mendalam ini.
ok kita
langsung aja ke cerita yang dinanti-nantikan ini.
Minggu sore
hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak
kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya,
rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua
hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak
tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu
berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah
sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya. "Wah gawat gawat nih.
Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian",
gumamku.
Aku bangkit
dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan
tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik
barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri
jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena
penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai
sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi
istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan.
Soalnya dua hari sekali harus nancap. "Sekarang minta jatah..".
Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca
surat kabar pagi yang belum tersentuh.
Tiba-tiba
pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah
suara. Renny anak tetangga mendekat.
"Selamat
sore Om. Tante ada?"
"Sore..
Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?"
"Wah
gimana ya.."
"Silakan
duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa", kataku ramah.
ABG berusia
sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelahku.
"Nah,
ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu", tuturku sambil
menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
"Anu
Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah
apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai
menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
"Apa
saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke
silakan masuk dan pilih sendiri".
Kuletakkan
surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang
tengah aku berhenti.
"Cari
sendiri di rak bawah televisi itu", kataku, kemudian membanting pantat di
sofa.
Renny segera
jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ.
Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya
sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di
baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati
tubuh yang mulai berkembang itu.
"Nggak
ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak lamunan nakalku.
"Ngg..
mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini
aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi
sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku
itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa
sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku,
"inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia
masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang
penting birahimu terlampiaskan".
Akhirnya aku
bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar
majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah
ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum
Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau
lihat CD bagus nggak?"
"CD apa
Om?"
"Filmnya
bagus kok. Ayo duduk di sini."
Gadis itu
tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD
dan menghidupkan televisi kamar.
"Film
apa sih Om?"
"Lihat
saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap
tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..",
jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
"Bagus
kan?"
"Ini
kan film porno Om?!"
"Iya.
Kamu suka kan?"
Dia terus
ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan
pandangannya.
Memasuki
adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.
"Kamu
ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan
Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya.
Kucium
sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau
nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo.."
"Tapi..
tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun
aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak
memberontak.
"Tenang..
tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman.."
Tangan
kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jariku mulai
bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang.
Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai.
Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut
celana warna hitam.
"Ohh..
ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya.
Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas.
Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil,
berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya
juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya.
Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan
dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan
kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam
dan lebih keras lagi.
Oke Non.
Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah.
Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku.
Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya
kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah
kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku
bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.
"Ahh.."
keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara
yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
"Enak
kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii..
iya Om. Tapi.."
"Kamu
pengin lebih enak lagi?"
Tanpa
menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat
ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi
mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga
harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya.
Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke
bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang.
Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit
demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima
menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena
dia tampak menahan nyeri.
"Kalau
sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya sekilas.
Dia
mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan
kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher
penisku mulai masuk.
"Auw..
sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti
sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran
sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi
selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouu..", dia menjerit lagi. Aku
merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada
sepercik darah membasahi sprei.
Aku
meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak
tenang aku mulai menggenjot anak itu.
"Ahh..
ohh.. asshh..", dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di
atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar
itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme.
Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit
lengan atau pundakku.
"Nggak
sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouu
enak sekali Om.."
Sebenarnya
aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali
pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain
kali kan itu masih bisa dilakukan.
Sekitar satu
jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi
perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh
beruntung aku ini.
"Gimana?
Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang
lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
"Tapi
takut Om.."
"Nggak
usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa.
"Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil dong"
Kuelus-elus
rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.
"Kalau
pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD".
"Kalau
ketahuan Tante gimana?"
"Ya
jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa
saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi
menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk
diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG
tetangga.
Murid
Kesayangan Menjadi Lihai
Seperti biasa pada pagi yang cerah Lhian bersiap untuk berangkat sekolah. Lhian S, gadis cantik bertubuh tinggi, sexy dan putih mulus. Gadis berkacamata ini cukup pintar dan rajin dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Dia dikenal sebagai gadis nomor satu disekolahnya. Sifatnya yang tomboy memudahkan para teman prianya untuk menikmati tubuh Lhian dengan memandangi payudara, paha, pinggul, ketiak dan pantatnya yang besar. Karena Lhian sangat mudah bergaul dengan anak cowok. Tinggi Lhian sekitar 168 cm, dan beratnya 55 kg.
Seperti biasa pada pagi yang cerah Lhian bersiap untuk berangkat sekolah. Lhian S, gadis cantik bertubuh tinggi, sexy dan putih mulus. Gadis berkacamata ini cukup pintar dan rajin dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Dia dikenal sebagai gadis nomor satu disekolahnya. Sifatnya yang tomboy memudahkan para teman prianya untuk menikmati tubuh Lhian dengan memandangi payudara, paha, pinggul, ketiak dan pantatnya yang besar. Karena Lhian sangat mudah bergaul dengan anak cowok. Tinggi Lhian sekitar 168 cm, dan beratnya 55 kg.
Lhian memang
mempunyai tubuh yang paling sempurna di sekolahnya. Dengan ukuran bra 36B, ia
kadang tidak memakai bra untuk menyangga susunya ketika bermain dengan
teman-temannya. Para teman cowoknya yang beruntung saat itu, akan dapat
menikmati pemandangan yang membuat jakun pria naik turun. Mereka berharap bisa
menjamah kantong susu itu, dan meminum susunya. Meskipun tidak mengenakan bra,
susu Lhian yang hanya ditutupi kaos terlihat kencang dan tegak. Itu karena
Lhian rajin berolahraga, baik itu push-up, sit-up, jogging, basket, dll.
Sehingga susunya pun sangat padat dan kenyal. Tapi yang paling menonjol adalah
buah pantatnya yang besar dan luar biasa montok. Lhian terpilih mempunyai
pantat terindah oleh teman-teman cowoknya. Disamping itu Lhian selalu memakai
rok birunya yang ketat, pantatnyapun bergantian naik-turun ketika ia berjalan.
Garis celana dalamnya tercetak jelas di belakang roknya, menandakan betapa
padat dan montoknya pantatnya.
Selama
proses belajar mengajar, para guru laki-laki yang mengajarnya sering
memperhatikan Belahan payudara Lhian yang kadang terlihat sedikit menyembul
keluar, dan roknya yang tersingkap sehingga pahanya yang putih mulus terpampang
jelas dimata gurunya. Lhian kadang sengaja membiarkan beberapa bagian tubuhnya
diamati. Lhian mempunyai pinggul yang lebar, pantat yang sekal dan paha yang besar
dan gempal menggairahkan. bahkan tidak jarang teman-teman cowok dikelasnya yang
nekat masturbasi dikelas ketika sedang jam pelajaran, karena tidak tahan
melihat paha atau pantat Lhian didepannya. Lhian sangat bersemangat
disekolahnya. Ia aktif mengikuti kegiatan ekstra di sekolahnya seperti pramuka
dan paskibraka. Lhian sekolah di sebuah SMU swasta yang terkenal dikotanya,
sekarang ia kelas 3.
*****
Pagi sekali
sekitar pukul 06. 30 dia sudah menunggu angkutan kota menuju sekolahan nya,
jarak sekolahnya tidak terlalu jauh sekitar 5 km. Apalagi nanti ada upacara.
Tiba-tiba ketika Lhian sedang asyik-asyiknya jalan sendiri sambil baca buku
pelajaran, ada seorang naik mobil menghampirinya.
"Halo
Lhian kok jalan?", tanya si pengendara mobil itu yang ternyata adalah Pak
Bambang guru Fisikanya.
"Lho
Bapak kok jam segini sudah berangkat?" tanya Lhian spontan.
"Iya
saya habis nginap di tempat saudara, takutnya telat. Kalo mo ke sekolah, ayo
ikut Bapak saja" ajak Pak Bambang.
Karena Lhian
sudah kenal benar dengan yang namanya Pak Bambang. Akhirnya mau juga nebeng Pak
Bambang. Tapi Lhian nggak tahu disitulah awal bencana bagi Lhian.
"Dik
Lhian nggak keberatan khan kalau kita mampir dulu ke rumah adik saya, soalnya
saya baru ingat kalau buku laporan saya tertinggal di sana?" Pak Bambang
membuat alasan.
"Iya
Pak tapi cepetan yah, biar nggak telat"
Tiba-tiba
Pak Bambang mempercepat kecepatan mobilnya dengan sangat tinggi dan arahnya ke
rumah kosong di pedesaan yang jarang terjamah orang.
Sesampainya
disitu Lhian ditarik dengan paksa masuk ke dalam rumah kosong dan disitu sudah
ada Pak Wahyu, Pak Joko yang merupakan wali kelas Lhian yang sudah lama
mengamati Lhian dan nggak ketinggalan kepala sekolah Pak Budi dan wakil kepala
sekolahnya yang namanya Pak Dono. Mereka semua nampaknya sudah menunggu
semenjak tadi.
"Halo
Lhian, sudah ditunggu dari tadi lho?", seru salah seorang dari mereka.
"Apa-apaan
nih? Apa yang Bapak-Bapak lakukan disini?", Lhian mulai kebingungan.
Lhian
menjerit karena dia mulai digerayangi.
"Bangsat
tua bangka jangan coba-coba sentuh saya".
"Diam,
kamu pengin lulus nggak? Berani melawan perintah gurumu yah", kata Pak
Budi selaku guru Matematika.
Lhian
mencoba melawan dengan memukuli dan menendang gurunya. Tapi Lhian kalah setelah
ia dihantam perutnya oleh Pak Joko guru olahraganya, dan di gampar pipinya
berkali-kali sampai Lhian kelenger hingga merah dan bibirnya berdarah. Lhian
meringis kesakitan.
"Nah
sekarang emut dan hisep kontol saya, kontol Pak Andi, kontol Pak Joko dan Pak
Dono yang kenceng nyedotnya, kalo nggak saya obrak-abrik rahim kamu biar nggak
bisa punya anak Mau?",
Karena
ketakutan akhirnya Lhian mengulum kontol para gurunya. Lhian menyedot penis
mereka satu-persatu dengan bibirnya yang merah dan mulutnya yang mungil, sambil
tangannya menggenggam penis para Bapak guru sambil mengocok-ngocoknya.
"Nah
gitu terus yang enak ayo jangan berhenti, telen pejuhnya biar kamu tambah
pinter", seru Pak Bambang.
"Mmmphh,
slerrpp, mmhh" Dengan terpaksa Lhian menghisap kontol-kontol mereka sampe
mereka semua pada orgasme.
"Edan,
nih cewek nyepongnya mantep banget Lhian, lo pasti sudah sering nyepongin
kontol temen-temen lo yah? haa, ha, ha, ha".
Guru Lhian
satu persatu menyemburkan sperma mereka ke dalam mulut Lhian, dan mengalir ke
tenggorokannya. Walaupun Lhian hampir muntah dia memaksakan untuk menelan pejuh
kelima orang itu. Dia masih tak percaya dioral oleh gurunya sendiri. Wajah
Lhian mulai terlihat kelenger lagi, sepertinya ia mabuk sperma, merasakan mual
pada perutnya.
Setelah
mereka puas memperkosa mulut Lhian ternyata mereka langsung menelanjangi Lhian.
Pak Dono memegang kedua tangan Lhian, Pak Budi memelorotkan rok abu-abunya, Pak
Joko merobek pakaian dan kutang Lhian.
"Nih
murid teteknya putih banget, gede lagi, putingnya coklat pasti manis nih Wahh,
kenyal sekali, lembut banget Bapak-Bapak" Pak Joko mengomentari payudara
Lhian, sambil mulai meremas-remas payudara Lhian.
Dalam
sekejap Lhian sudah dalam keadaan tanpa busana.
"Jangan
Pak jangan, atau saya akan melapor ke polisi", seru Lhian sambil teriak.
"Ooo,
coba saja nanti, sekarang sebaiknya kamu persiapkan diri kamu untuk menerima
pelajaran khusus" Seru Pak Budi sambil menjambak rambut Lhian.
Lhian
sekarang hanya mengenakan celana dalam putih saja.
Ketika Pak
Budi hendak beraksi tiba-tiba Pak Bambang protes, "karena saya yang dapat
perek ini maka saya duluan yang memperkosanya."
Tanpa
membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Lhian menjadi tengkurap, kedua
tangannya yang ditarik kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya
menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Pak Bambang itu kini mengusap-usap bagian
pantat Lhian, dirasakan olehnya pantat Lhian yang sekal. Sesekali tangannya
menyabet pantat Lhian dengan keras, bagai seorang Ibu yang tengah menyabet
pantat anaknya yang nakal "Plak, Plak.".
"Wah
sekal sekali pantat kamu Lhian, kenyal, gila nih Don, paha murid kita satu ini
gede amat. Putihnya ya ampun, banyak bulu-bulu halusnya lagi di pahanya"
ujar Pak Bambang sambil terus mengusap-usap dan memijit-mijit pantat Lhian sambil
sesekali mencabuti bulu-bulu di paha Lhian yang putih gempal itu.
Lhian
mengaduh kesakitan.
"Bakal
mabuk nih kita nikmatin pantat segede gini, seperti bokong sapi aja."
"Montoknya,
ya ampun, gede, kenyal lagi" sambil memijat pantat Lhian yang memerah karena
tamparan tangan Pak Bambang.
Pak Dono
lalu menjilati dan menggigiti bongkahan pantat si Lhian.
"Aakhh,
bangsat, keparat, jangan sentuh pantat gue", Lhian membentak mereka.
"Plakk"
sebuah tamparan sangat keras ke pipi Lhian.
"Diam
kamu, pelacur pengin gue rontokin gigi putih loe", Pak Dono balas
membentak.
Lhian hanya
diam pasrah, sementara tangisannya mulai terdengar. Tangisnya terdengar semakin
keras ketika tangan kanan Pak Bambang secara perlahan-lahan mengusap kaki Lhian
mulai dari betis naik terus kebagian paha lalu mengelus-elus paha mulus putih
Lhian dan akhirnya menyusup masuk kedalam roknya hingga menyentuh kebagian
selangkangannya.
"Jangan
paak, saya mohon, saya masih perawan pakk", Lhian teriak ketakutan.
Sesampainya
dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Pak Bambang, yaitu jari tengahnya
menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan
saja hal ini membuat badan Lhian agak menggeliat, dia mulai sedikit
meronta-ronta, namun jari tengah Pak Bambang tadi langsung menusuk lobang
kemaluan Lhian.
"Egghhmm,
oohh, shitt, shitt", Lhian menjerit badannya mengejang tatkala jari
telunjuk Pak Bambang masuk kedalam liang kewanitaannya itu.
Badan Lhian
pun langsung menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan, ketika Pak Bambang
memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Lhian. Nafas Lhian terengah-engah
sambil mengerang kesakitan.
Dengan
tersenyum terus dikorek-koreknyalah lobang kemaluan Lhian, sementara itu badan
Lhian menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan
rintihan-rintihan yang keluar dari mulutnya itu Pak Bambang menciumi bibir
vagina Lhian sambil sesekali memasukkan lidahnya kedalam liang vagina Lhian,
kepala Pak Bambang menghilang di bawah selangkangan Lhian sambil kedua
tangannya dari bawah meremas -remas pantat Lhian. Sementara Pak Dono meremas
payudara kanan Lhian, dan mulutnya mengulum payudara Lhian satunya lagi.
"Pak
Bambang, susu murid kesayanganmu ini gurih sekali, harum lagi, kualitas nomer
satu".
Pak Dono
asyik menyantap payudara Lhian, yang ranum padat dan kenyal sekali.
"Ehhmmpphh,
mmpphh, ouughh, sakii..iit, paa..ak".
Lhian terus
mengerang kesakitan pada kedua buah dadanya dan kenikmatan pada kemaluannya.
Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Lhianpun menjadi basah oleh cairan
kewanitaannya, Pak Bambang kemudian mencabut jarinya.
Melihat
Lhian yang meronta-ronta, Pak Bambang semakin bernafsu dan dia segera
menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Lhian yang masih perawan. Walaupun
vagina Lhian sudah basah oleh air liur Pak Bambang dan cairan vagina Lhian yang
keluar, namun Pak Bambang masih merasakan kesulitan saat memasukkan penisnya,
karena vagina Lhian yang perawan masih sangat sempit. Lhian hanya dapat
menangis dan berteriak kesakitan karena keperawanannya yang telah dia jaga
selama ini akan direnggut dengan paksa seperti itu oleh gurunya sendiri. Lalu
dengan ngacengnya Pak Bambang memasukkan batang penisnya lagi.
"Auw
aduh duh sshh, saakkii..iitt, pakk.. ammpuu..uunn", terdengar suara dari
mulut Lhian yang terlihat kesakitan.
Dia mulai
menangis sambil mendesah menikmati kontol Pak Bambang yang mengaduk-aduk liang
peranakannya. Terlihat jelas raut wajah Lhian yang menahan sakit luar biasa
pada selangkangannya.
Lhian sekarang
lebih terdengar suara tertahan ketika penis disodok-sodokkan ke lubang
memeknya.
"Huek,
hek, hek aah oohh jangan, uh, duh, ampunn pakk", ternyata Lhian telah
orgasme.
Sungguh
mengasyikan melihat expresi Lhian yang merem-merem sambil menggigit bibir bawahnya.
Pak Bambang terus menggenjot memek Lhian. Menit-menitpun berlalu dengan cepat,
masih dengan sekuat tenaga Pak Bambang terus menggenjot tubuh Lhian, Lhianpun
nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Pak Bambang menggenjot tubuhnya.
Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihanpun kini
melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang
terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan
lemah, "Ahh, ahh, oouuhh".
Lalu Pak Bambang
memposisikan tubuh Lhian menungging. Pantat Lhian sekarang terlihat kokoh
menantang, ditopang paha panjangnya yang putih dan tegak. Pak Bambang
memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke vagina Lhian hingga
terbenam seluruhnya, lalu dia menariknya lagi dan dengan tiba-tiba sepenuh
tenaga dihujamkannya benda panjang itu ke dalam rongga vagina Lhian hingga
membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak disertai
teriakan panjang.
"Aaahh,
Stoop, kumohon jangan".
Kedua tangan
Pak Bambang memegang pantat Lhian, sedangkan pinggulnya bergoyang-goyang
berirama. Sesekali tangan Pak Bambang mengelus-elus pantat Lhian dan sesekali
meremas payudara Lhian dari belakang.
Beberapa
menit kemudian, Pak Bambang kembali mempercepat goyangan pinggulnya, kemudian
dia menarik kedua tangan Lhian. Jadi sekarang persis seperti menunggangi kuda
lumping, kedua tangan Lhian dipegang dari belakang sedangkan pantatnya digoyang
seirama sodokan penis Pak Bambang. Karena tidak disangga kedua tangannya lagi,
kini buah dada Lhian tergencet di atas tikar tipis sebagai alas Lhian
disetubuhi. Sedangkan wajah Lhian menghadap keatas dengan mulut menganga
mengerang kesakitan. Melihat keadaan Lhian seperti itu, Pak Bambang semakin
bersemangat mengebor liang vagina Lhian.
"Anjingg,
bangsaatt, perekk, loo, Lhian ngentoott, gue entotin loo".
Pak Bambang
merancau tak jelas. Dan akhirnya Pak Bambangpun berejakulasi di lobang kemaluan
Lhian, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya
memenuhi rahim Lhian.
"Aa,
aakkhh, oohh", sambil mengejan Pak Bambang melolong panjang bak serigala,
tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas.
"Aoohh,
oouuhh, bangsaatt, shitt, shitt".
Lhian
mengumpat sambil mendesah, tubuhnya mengejang merasakan air mani Pak Bambang
membanjiri rahimnya. Puas sudah dia menyetubuhi Lhian, rasa puasnya
berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas
dalam menyetubuhi Lhian, puas dalam merobek keperawanan Lhian dan puas dalam memberi
pelajaran kepada gadis nomor satu di sekolah itu.
Lhian
menyambutnya dengan mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa
gurunya telah berejakulasi karena dirasakannya ada cairan-cairan hangat yang
menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu
memenuhi lobang kemaluan Lhian sampai sampai meluber keluar membasahi paha dan
sprei kasur. Lhian yang menyadari itu semua, mulai menangis namun kini tubuhnya
sudah lemah sekali.
Setelah itu
Pak Andi maju untuk mengambil giliran. Kali ini Pak Andi mengangkat kedua kaki
Lhian ke atas pundaknya, dan kemudian dengan tidak sabar dia segera menancapkan
penisnya yang sudah tegang ke dalam vagina Lhian. Pak Andi masih mengalami
kesulitan saat memasukkan penisnya, meskipun vagina Lhian kini sudah licin oleh
sperma Pak Bambang dan juga cairan vagina Lhian. Vagina Lhian masih sangat
sempit. Kembali vagina Lhian diperkosa secara brutal oleh Pak Andi, dan Lhian
lagi-lagi hanya dapat berteriak kesakitan.
"Bangsatt,
akkhh, bajingaann, sudahh, sudahh, keparaatt"
Namun kali
ini Lhian tidak berontak lagi, karena dia pikir itu hanya akan membuat gurunya
semakin bernafsu saja.
Sementara
itu Pak Andi terus memompa vagina Lhian dengan cepat sambil satu tangannya
meremas-remas payudara Lhian yang bulat kenyal dan tidak lama kemudian dia
mencapai puncaknya dan mengeluarkan seluruh spermanya di dalam vagina Lhian.
"Ooohh,
makan nih pejuh gue".
Lhian hanya
dapat meringis kesakitan, tubuhnya telentang tidak berdaya di lantai. Walaupun
tangan dan kakinya sudah tidak dipegangi lagi, dan membayangkan dirinya akan
hamil karena saat ini adalah masa suburnya. Dia dapat merasakan ada cairan
hangat yang masuk ke dalam vaginanya. Darah perawan Lhian dan sebagian sperma
Pak Andi mengalir lagi keluar dari vaginanya.
"Hmmpphh,
hhmmpp, oohhkk, oughh", Lhian menjerit dengan tubuhnya yang mengejang
ketika Pak Budi mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan
Lhian.
Matanya
terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat
sementara Pak Budi terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya.
Memang agak sulit selain meskipun sudah dimasuki dua penis tadi, usia Lhian
juga masih tergolong muda sehingga kemaluannya masih sangat sempit.
Akhirnya
dengan sekuat tenaganya, Pak Budi berhasil menanamkan seluruh batang
kemaluannya didalam vagina Lhian. Tubuh Lhian berguncang-guncang disaat itu
karena dia menangis merasakan sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu.
Diapun terus memohon kepada Pak Budi agar mau melepaskannya.
"Ahh,
rasain loe, akhirnya aku bisa ngerasain jepitan memek kamu sayang",
bisiknya ketelinga Lhian.
"Oouuhh,
Paakk, saakiitt, Paak, ampuunn", rintih Lhian dengan suara yang
megap-megap.
Jelas Pak
Budi tidak perduli. Dia malahan langsung menggenjot tubuhnya memompakan batang
kemaluannya keluar masuk lobang kemaluan Lhian.
"Aakkhh,
oohh, oouuhh, oohhggh", Lhian merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot
Oleh Pak Budi, badannyapun semakin menggeliat-geliat.
Otot-otot
dinding vaginanya kuat mengurut-urut batang kemaluan Pak Budi yang tertanam
didalamnya, karenanya Pak Budi merasa semakin nikmat. Sambil memukuli perut
Lhian dengan tangannya, berharap agar vagina Lhian mencengkram penisnya dengan
lebih erat karena lobang vagina Lhian semakin mengendur.
Tiba-tiba
Pak Budi mencabut penisnya dan dia duduk di atas dada Lhian. Pak Budi
mendempetkan kedua buah payudara Lhian yang kecil dengan kedua tangannya dan
menggosok-gosokkan penisnya di antara celah kedua payudara Lhian, sampai
akhirnya dia memuncratkan spermanya ke arah wajah Lhian. Lhian gelagapan karena
sperma Pak Budi mengenai bibir dan juga matanya. Setelah itu Pak Budi masih
sempat membersihkan sisa sperma yang menempel di penisnya dengan mengoleskan
penisnya ke payudara Lhian dan ke puting susunya. Kemudian Pak Budi menampar
payudara Lhian yang kiri dan kanan berkali-kali, sehingga payudara Lhian
berwarna kemerahan dan membuat Lhian merasa perih dan kesakitan.
Selanjutnya
dua orang, Pak Joko dan Pak Dono maju. Mereka kini menyuruh Lhian untuk
mengambil posisi seperti merangkak. Kemudian Pak Joko berlutut di belakang
pantat Lhian dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke lubang anus Lhian yang
sangat sempit.
"Gila
nih cewek, bokongnya montok banget kenyal lagi, lihat nih Tin paha si Lhian. Gempal,
gede, Putih banget. Bener kata Pak Bambang" Kata Pak Joko.
"Ampuunn,
jangan sodomi saya paakk, saya mohoonn".
Membayangkan
kesakitan yang akan dialaminya, Lhian mencoba untuk berdiri, tetapi kepalanya
dipegang oleh Pak Dono yang segera mendorong wajah Lhian ke arah penisnya. Kini
Lhian dipaksa mengulum dan menjilat penis Pak Dono. Penis Pak Dono yang tidak
terlalu besar tertelan semuanya di dalam mulut Lhian.
Sementara
itu, Pak Joko masih berusaha membesarkan lubang anus Lhian dengan cara menusuk-nusukkan
jarinya ke dalam lubang anus Lhian.
"Akkhh,
oohh, aahh, sshh, perihh, pakk"
Sesekali Pak
Joko menampar pantat Lhian dengan keras, sehingga Lhian merasakan pantatnya
panas.
"Gila
nih perek, bokongnya gede tapi lobangnya kecil banget" Kemudian Pak Joko
juga berusaha melicinkan lubang anus Lhian dengan cara menjilatinya.
Lhian
merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat lidah Pak
Joko menjilati lubang anusnya. Ia berada dibelakang Lhian dengan posisi
menghadap punggung Lhian.
Ketika
lobang dubur Lhian agak terbuka, Pak Joko menuang sebotol minyak goreng kedalam
lobang dubur Lhian. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Lhian
selebar bahu, dan, "Aaakkhh.", Lhian melolong panjang, badannya
mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Pak Jokol menanamkan batang
kemaluannya didalam lobang anus Lhian. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan
didaerah selangkangannya, dengan agak susah payah kembali Pak Joko berhasil
menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Lhian, meskipun baru masuk
setengahnya. Setelah itu tubuh Lhian kembali disodok-sodok, kedua tangan Pak
Joko meraih payudara Lhian serta meremas-remasnya.
Tidak lama
kemudian Lhian kembali menjerit kesakitan. Rupanya anusnya sudah jebol oleh
penis Pak Joko yang berhasil masuk seluruhnya dengan paksa. Kini Pak Joko
memperkosa anus Lhian perlahan-lahan, karena lubang anus Lhian masih sangat
sempit dan kering. Ketika Pak Joko menarik penisnya, mulut dubur Lhian ikut
tertarik sehingga terlihat monyong keluar. Lalu Pak Joko menyodokkan lagi
penisnya, sehingga kini dubur pantat Lhian mengempot.
"Aaakkhh,
ouughh, sakii..iitt, pak, periihh, akuu, nggakk.. kuatt, pakk, periihh,
sakiitt".
Lhian
menjerit keras sekali, ia baru saja merasakan rasa sakit yang teramat-sangat
yang pernah dirasakannya. Pak Joko merasakan kesakitan sekaligus kenikmatan
yang luar biasa saat penisnya dijepit oleh anus Lhian. Pak Joko merasa penisnya
lecet didalam pantat Lhian. Kenikmatan yang terus-menerus dirasakannya ketika
menunggangi pantat Lhian. Tak terbayang bagaimana wajah orang tua Lhian, jika
menyaksikan persetubuhan yang tidak manusiawi yang dialami putrinya. Anak
perempuan yang mereka rawat dengan kasih sayang hingga remaja dan dibiayai,
sekarang tubuhnya sedang menungging telanjang bulat, pantatnya disodomi oleh
gurunya sendiri.
Seperempat
jam lamanya Pak Joko menyodomi Lhian, waktu yang lama bagi Lhian yang semakin
tersiksa itu.
"Eegghh,
aakkhh, oohh".
Dengan mata
merem-melek serta tubuh tersodok-sodok, Lhian merintih-rintih, sementara itu
kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Pak Joko. Saat Lhian
berteriak, kembali Pak Dono mendorong penisnya ke dalam mulut Lhian, sehingga
kini Lhian hanya dapat mengeluarkan suara erangan yang tertahan, karena
mulutnya penuh oleh penis Pak Dono. Tubuh Lhian terdorong ke depan dan ke
belakang mengikuti gerakan penis di anus dan mulutnya.
Kedua
payudara Lhian yang menggantung dengan indah bergoyang-goyang karena gerakan
tubuhnya diremas-remas dengan brutal oleh Pak Joko. Lhian berteriak-teriak
kesakitan.
"Aakkhh,
oohh, oouhh, aammp, uunn, pakk"
Keadaan ini
terus berlangsung sampai akhirnya Pak Joko dan Pak Dono mencapai klimaks hampir
secara bersamaan. Pak Joko yang sudah tidak tahan karena seret dan panasnya
dubur Lhian menyemburkan spermanya di dalam anus Lhian, Lhian merasakan perih
pada rongga duburnya yang lecet tersiram sperma Pak Joko. Dan Pak Dono
menyemburkan spermanya di dalam mulut Lhian. Lhian terpaksa menelan semua
sperma Pak Dono agar dia dapat tetap bernafas. Lhian hampir muntah merasakan
sperma itu masuk ke dalam kerongkongannya, namun tidak dapat karena penis Pak
Dono masih berada di dalam mulutnya. Lhian membiarkan saja penis Pak Dono
berada di dalam mulutnya untuk beberapa saat sampai Pak Dono menarik keluar
penisnya dari mulut Lhian. Sebagian sisi sperma Pak Dono yang tidak tertelan
meluber keluar bercampur dengan air liur Lhian.
Kemudian Pak
Dono memaksa Lhian untuk membersihkan penisnya dari sperma dengan cara
menjilatinya. Pak Joko juga masih membiarkan penisnya di dalam anus Lhian dan
sesekali masih menggerak-gerakkan penisnya di dalam anus Lhian, mencoba untuk
merasakan kenikmatan yang lebih banyak. Lhian dapat merasakan kehangatan sperma
di dalam lubang anusnya yang secara perlahan mengalir keluar dari lubang anusnya.
Perih yang luar biasa dirasakan lobang pantat Lhian yang lecet-lecet.
Setelah Pak
Joko mencabut penisnya dari anus Lhian, lalu Pak Dion mengambil kursi dan duduk
di atasnya. Dia menarik Lhian mendekati dan mengangkat tubuh Lhian lalu
memposisikan mengangkangi penisnya menghadap dirinya. Pak Dion kemudian
mengarahkan penisnya ke vagina Lhian, dan kemudian memaksa Lhian untuk duduk di
atas pangkuannya, sehingga seluruh penis Pak Dion langsung masuk ke dalam
vagina Lhian.
"Aohh,
oouuhh, sakii..itt, udahh, Paak, ngiluu paakk", Lhian mengerang kesakitan.
Setelah itu,
Lhian dipaksa bergerak naik turun, sementara Pak Dion meremas dan menjilati
kedua payudara dan puting susu Lhian. Sesekali Pak Dion menyuruh Lhian untuk
menghentikan gerakannya untuk menahan orgasmenya. Pak Dion dapat merasakan
vagina Lhian berdenyut-denyut seperti memijat penisnya, dan dia juga dapat
merasakan kehangatan vagina Lhian yang sudah basah.
Pak Dion
masih belum puas. Dia memiringkan tubuh Lhian lalu mengangkat kaki kanan Lhian
ke bahunya dan mulai menyodok-nyodokan penisnya di liang kemaluan Lhian. Lhian
menahan sakit bercampur nikmat itu dengan menggigit bibirnya sendiri hingga
berdarah, wajahnya yang sudah penuh air mata dan memar bekas tamparan itu tidak
membuat iba gurunya itu. Pak Dion tanpa kenal ampun berkali-kali menghujamkan
senjatanya dengan sepenuh tenaga. Temannya yang gendut itu juga menjilati
payudara Lhian yang bergoyang-goyang akibat irama pinggul Pak Dion, lidahnya bermain-main
di ujung putingnya yang sudah sangat keras. Pak Dion tidak dapat bertahan lama,
karena dia sudah sangat terangsang sebelumnya ketika melihat Lhian diperkosa
oleh para rekannya, sehingga dia langsung memuncratkan spermanya ke dalam
vagina Lhian. Lhian kembali merasakan kehangatan yang mengalir di dalam
vaginanya.
Selanjutnya,
Pak Gatot yang mengambil giliran untuk memperkosa Lhian. Dia menarik Lhian dari
pangkuan Pak Dion, kemudian dia sendiri tidur telentang di lantai. Lhian
disuruh untuk berlutut dengan kaki mengangkang di atas penis Pak Gatot.
Kemudian secara kasar Pak Gatot menarik pantat Lhian turun, sehingga vagina
Lhian langsung terhunjam oleh penis Pak Gatot yang sudah berdiri keras.
"Akkhh,
aakkhh, oogghh,". teriakan memilukan keluar dari mulut Lhian.
Penis Pak
Gatot, yang jauh lebih besar daripada penis-penis sebelumnya meskipun tubuhnya
pendek yang memasuki vagina Lhian, masuk semuanya ke dalam vagina Lhian,
membuat Lhian kembali merasakan kesakitan karena ada benda keras yang masuk jauh
ke dalam vaginanya. Lhian merasa vaginanya dikoyak-koyak oleh penis Pak Gatot.
Pak Gatot memaksa Lhian untuk terus menggerakkan pinggulnya naik turun,
sehingga penis Pak Gatot dapat bergerak keluar masuk vagina Lhian dengan
leluasa. Kedua Payudara Lhian besar menggantung bebas, naik turun seirama
tubuhnya.
Kemudian Pak
Gatot menjepit kedua puting susu Lhian dan menariknya ke arah dadanya, sehingga
kini payudara Lhian berhimpit dengan dada Pak Gatot. Pak Gatot benar-benar
terangsang saat merasakan kedua payudara Lhian yang kenyal dan hangat menempel
rapat ke dadanya. Melihat posisi seperti itu, Pak Joko melepas ikat pinggangnya
dan mulai mencambuk punggung dan bongkahan pantat Lhian beberapa kali.
"Akkhh,
aakhh, damn, shitt", Lhian kembali merasakan perih luar biasa pada
punggung, pantat, dan pahanya.
Cambukan Pak
Joko sangat keras sehingga membuat garis lurus merah di kulit punggung pantat,
dan paha Lhian.
Walaupun
cambukan itu tidak terlalu keras, namun Lhian tetap merasakan perih dan panas
di punggung dan pantatnya, sehingga dia berhenti menggerakkan pinggulnya.
Merasakan bahwa gerakan Lhian terhenti, Pak Gatot marah. Kemudian dia
mencengkeram kedua belah pantat Lhian dengan tangannya, dan memaksanya bergerak
naik turun sampai akhirnya Lhian menggerakkan sendiri pantatnya naik turun
secara refleks. Pak Gatot mencengkram pinggul Lhian, lalu membuat goyangan
memutar sehingga ia merasakan sensasi luar biasa dengan goyangan mengebor Lhian
itu.
"Oohh,
sshh, shh", Pak Gatot mendesah kenikmatan, sambil merasakan pantat Lhian
yang empuk basah menduduki selangkanganya.
Ketika Pak
Gatot hampir mencapai klimaks, dia memeluk Lhian dan berguling, sehingga posisi
mereka kini bertukar, Lhian tidur di bawah dan Pak Gatot di atasnya. Sambil
mencium bibir Lhian dengan sangat bernafsu dan meremas payudara Lhian, Pak
Gatot terus menggenjot vagina Lhian. Tidak lama kemudian gerakan Pak Gatot
terhenti. Pak Gatot mencabut penisnya keluar dari vagina Lhian dan segera
menyemprotkan spermanya di sekitar bibir vagina Lhian. Kemudian dia menarik
tangan kanan Lhian dan memaksa Lhian untuk meratakan sperma yang ada di sekitar
vaginanya dengan tangannya sendiri.
Setelah itu
Pak Heru, guru kimianya maju mengambil giliran memperkosa vagina Lhian. Ia
mengangkat kedua kaki Lhian dan menyandarkannya diatas bahunya, Pak Heru
menempelkan kepala penisnya di mulut vagina Lhian. Dengan kasar Pak Heru
menyodokkan Penisnya dengan keras kedalam liang peranakan Lhian. Lalu ia mulai
menggenjotnya. Hampir sepuluh menit Pak Heru memompa vagina Lhian dengan kasar,
membuat vagina Lhian semakin terasa licin dan longgar. Sebelum mencapai
puncaknya, Pak Heru mencabut penisnya dari vagina Lhian dan memaksa Lhian untuk
membuka mulutnya lebar-lebar untuk menampung spermanya. Setelah itu, Pak Heru
memaksa Lhian untuk berkumur dengan spermanya dan kemudian menelannya. Semua
orang disitu tertawa senang melihat itu, sementara Lhian menahan jijik dan rasa
malu yang luar biasa karena diperlakukan dengan hina seperti itu. Kini wajah
Lhian terlihat mBLenger oleh sperma milik Pak Heru.
Semua posisi
yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan oleh para Guru
Lhian terhadap tubuh Lhian. Kali ini Lhian tidak kuat lagi menahan orgasmenya
yang ke 20, dan dia mengalami orgasme hebat, namun tidak sehebat yang pertama.
Cairan Vaginanya sudah mulai habis. Rongga vaginanya mulai mengering, karena
cairan vaginanya sudah hampir habis dkeluarkan. Lhian merasakan sakit luar
biasa pada rongga vaginanya. Ditambah penis para gurunya yang tak
henti-hentinya menyodok dan menggesek rongga vaginanya yang kering, sehingga
membuat rongga vaginanya lecet dan sobek. Hanya darah dari luka di rongga
vaginanya lah yang membasahi daging kemaluannya dan burung yang tengah
bersarang didalamnya.
Setelah
delapan gurunya selesai memperkosa dirinya untuk kesekian kalinya, Lhian
akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang menyerang seluruh
tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah payudaranya. Lhian telah
diperkosa secara habis-habisan selama empat jam lebih oleh gurunya sendiri. Dan
semua kejadian itu direkam oleh Pak Bambang.
lebih-lebih
ketika posisi kedua tangan Lhian yang terikat digantung keatas. Pak Andi
menjilati dan menciumi ketik Lhian.
"Mmuuahh,
ketek lo montok banget sih, rasanya asin tapi gurih dan baunya haruumm"
Liur Pak
Andi membasahi ketiak Lhian. Lhian kembali disetubuhi dari 2 arah tentu saja
lubang anus dan vaginanya. Lhian kini hanya bisa menggigit bibir sambil kakinya
menendang-nendang ke segala arah, sambil sesekali seperti orang mengejan.
"Ouughh,
arrkhh, ouhh, udah paa..ak perih, sakiitt, ouughh, aa, akh"
Lhian terus
berontak seperti orang kesetanan. Karena dubur Lhian mulai mengering, Pak Andi
kembali membasahi dubur Lhian dan batang penisnya sendiri dengan minyak goreng
agar licin. Pak Andi menyodomi Lhian untuk ke 4 kalinya. Dilanjutkan dengan Pak
Joko lagi, yang senang sekali main sodomi. Apalagi dapat pantat semontok pantat
Lhian, ia semakin bernafsu menghancurkan anus Lhian (Anal Destruction).
Kemudian
mereka kembali menelentangkan Lhian di lantai, lalu mereka maju semua mencari
bagian-bagian tubuh Lhian yang bisa di gunakan untuk memuaskan penis mereka.
Pak Joko memasukkan penisnya ke dalam mulut Lhian, dan memaksa mengulumnya. Pak
Bambang menyarangkan Penisnya ke dalam memek Lhian yang berdarah-darah. Pak
Andi melesakkan penisnya yang super besar dan panjang itu ke dalam lobang
pantat Lhian yang sudah hancur. Pak Gatot menjepitkan penisnya di antara
belahan payudara Lhian, kemudian menggosok-gosoknya sambil memelintir dan
menarik puting susu Lhian yang coklat mungil dan membengkak. Pak Dono menaruh
penisnya di tengah-tengah ketiak kanan Lhian yang gemuk putih dengan beberapa
helai rambutnya, lalu menjepitnya dan memaju mundurkan penisnya di dalam
jepitan ketiak Lhian. Sedangkan Pak Budi melakukan hal yang sama seperti yang
dilakukan Pak Dono dengan Menjepitkan penisnya ke ketiak Lhian yang sebelah
kiri. Sedangkan Pak Heru Meraih tangan kanan Lhian, kemudian memaksa tangannya
mencengkram penisnya lalu membantu tangan Lhian untuk mengocoknya. Yang
terakhir yaitu Pak Dion, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh
Pak Heru dengan tangan Kiri Lhian.
Akhirnya
Lhian yang sudah tidak kuatpun pingsan, dengan Vagina dan anusnya yang dalam
keadaan rusak parah, dan terus mengeluarkan darah, sisa sperma, dan sisa cairan
vagina dan duburnya. Kedua payudaranya bengkak memerah dan lecet-lecet, puting
susunya yang coklat mungil sobek. Darah dan sperma berceceran dimana-mana.
Sudah puas para guru tersebut, mereka membersihkan diri lalu meninggalkan tubuh
Lhian yang bugil dan berlepotan darah dan sperma dalam keadaan pingsan.
******
Setelah para
guru Lhian pergi, muncullah beberapa siswa pria di sekolah Lhian yang diam-diam
mengikuti gurunya. Ketika menemui tubuh Lhian yang pingsan dalam keadaan
telanjang bulat. Mereka mulai memperkosa tubuh Lhian yang masih tidak sadar.
Satu diantara mereka menelepon teman-temannya di sekolah. Sekitar 20 menit
kemudian datanglah sekitar 40 siswa laki-laki di sekolah Lhian. Lalu mereka
mulai menikmati tubuh Lhian secara bergantian ataupun bersama-sama. Ketika
sadar, Lhian hanya bisa teriak dan memohon, ia tidak punya cukup tenaga untuk
melawan. Ia hanya bisa menyaksikan dirinya diperkosa oleh teman-temannya
sendiri. Teman-temannya yang sudah lama bermimpi bisa menyetubuhi Lhian,
akhirnya tercapai juga.
Setelah puas
semua, mereka meninggalkan tubuh Lhian yang pingsan lagi untuk kesekian kalinya
itu. Liang vaginanya sudah menganga sangat lebar, merah membengkak, dan sudah
tidak berbentuk lagi. Dengan darah segar yang terus mengalir dari lobang
vaginanya. Lobang duburnya pun sudah sangat lebar dengan keadaan rusak parah
dengan bentuk berantakan, dengan darah, sperma dan cairan kekuningan yang
keluar terus menerus dari liang duburnya. Dan dari sela-sela bibirnya mengalir
sperma dan air liur dari dalam mulutnya. Wajahnya tetap cantik dengan masih
mengenakan kacamata selama ia diperkosa. Tetapi menampakkan penderitaan yang
begitu berat.
Karena
merasa kasihan, beberapa temannya mengantarkan Lhian ke kostnya. Lhian selalu
merasakan perih dan rasa sakit yang teramat sangat ketika ia harus buang air
kecil. Karena liang pengeluaran air seninya masih bengkak dan agak tertutup
lipatan daging mulut vaginanya yang sobek. Dan juga ketika buang air besar,
karena lobang duburnya membuka sangat lebar dan belum mau menutup kembali. Jadi
setiap saat, anusnya mengeluarkan kotorannya tanpa Lhian sadari.
******
Setelah
peristiwa tersebut, Lhian terus mengunci diri dalam kamar dan diam membisu
ketika ditanyai oleh teman ataupun keluarganya. Beberapa hari kemudian Lhian
pulang ke asalnya, dan tinggal dengan ortunya. Lhian mengalami shock berat, dan
tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Sementara para guru yang memperkosa Lhian,
bebas beraktivitas karena Lhian tidak berani memberi kesaksian. Lhian
terperangkap dalam trauma perkosaan itu untuk selama hidupnya. Sedangkan para
guru yang memperkosanya masih sibuk mencari mangsa siswinya yang lain.
My Prince in Dreamland
karya Firdausi F.L
“Uuh…!” keluh Karin seraya membanting tasnya yang lengket karena ditempeli permen karet tadi pagi.
“Gara – gara Kak Radith lagi, Kak?” Tanya Nayla, adik Karin, yang juga masih mengenakan seragam putih birunya. “Sabar ajah, deh, Kak! Satu setengah tahun lagi lulus…”
“Satu setengah tahun itu masih lama, tau!” seru Karin yang masih cemberut, seraya meraih laptopnya.
“Pasti mau chatting sama ‘Sang Pangeran’ itu lagi!” tebak Nayla. Karin hanya tersenyum. “Siapa, sih, Kak, Prince Eric itu sebenarnya? Kakak masih belum ketemu sama orangnya?” Tanya Nayla lagi.
Karin tersenyum melirik Nayla. “Iya, sampe sekarang kakak emang belum ketemu orangnya. Tapi yang jelas, dia asyik!”
Sekarang ia memang punya agenda baru setiap pulang sekolah. Yaitu chatting dengan teman barunya, Prince Eric. Menurut Karin, orang yang menamai akun Facebooknya dengan nama Prince Eric itu memang orang yang asyik diajak mengobrol. Tak jarang Karin juga curhat kepadanya. Sejak mengenal Prince Eric, bebannya sepulang sekolah serasa berkurang. Ia jadi lumayan bisa melupakan kekesalannya kepada Radith, teman sekolahnya yang super jahil itu.
Karin mengenal Prince Eric dari sebuah grup di Facebook yang bernama It’s Dreamland. Grup orang – orang yang menyukai cerita fiksi. Di sana hampir semua member menamai akun Facebooknya dengan nama tokoh favoritnya. Termasuk ia yang menamai akunnya Princess Sugarplum, putri di cerita Nutcracker. Tanpa disangka, ia juga berkenalan dengan seseorang yang menamai akunnya Prince Eric, pangeran di cerita Nutcracker.
“Yippie!” seru Karin tiba – tiba, yang membuat Nayla menjatuhkan novel yang dibacanya.
“Ada apa, sih, Kak?! Bikin orang jantungan ajah!” sungut Nayla.
“Ada kabar bagus, Nay! Dia ngajakin ketemuan!”
“Siapa? Oh… ‘Sang Pangeran’, ya?”
Karin hanya tersenyum. “Katanya, dia ngajakin ketemuan di taman kota, besok jam 5 sore. Dia akan bawa kado special…”
“Ciie…jangan – jangan dia bakal langsung nembak kakak besok! Di taman, waktu pesta kembang api malam – malam…So Sweet!”
“Iih…apaan, sih?!”
Sampai malam, Karin terus memikirkan hal itu. ia benar – benar penasaran, siapakah Prince Eric yang selama ini dikenalnya itu? Bahkan, sampai esoknya di sekolah ia masih memikirkan hal tersebut. Karin jadi tak terlalu konsen ke pelajaran. Tapi anehnya, Radith, yang biasanya tak pernah absen untuk mengisenginya, kini sama sekali tak bertingkah.
Waktu yang dinantikan pun akhirnya tiba. Tepat pukul 04.30 sore, Karin langsung berangkat dari rumahnya.
“Ciie…yang mau ketemu sama si doi!” goda Nayla. Karin hanya melirik adiknya, seraya tersenyum, tanda mengiyakan.
Dua puluh menit kemudian, Karin telah sampai di taman. Setelah selesai memarkirkan motor, tiba – tiba seseorang menabraknya. Karin terkejut. Ia tambah terkejut lagi ketika tahu siapa orang yang telah menabraknya itu.
“Karin?!”
“Radith?!”
“Ngapain lu ada di sini?”
“Harusnya gue yang nanya! Kenapa, sih, lu harus selalu ada di mana – mana dalam hidup gue?! Nggak puas apa lu, tiap hari ngerjain gua di sekolah?!” seru Karin sewot dan langsung berlari meninggalkan Radith. Radith tertegun mendengar bentakan Karin. Tapi, ia tak berkata apa – apa.
Karin segera menuju sebuah bangku yang berada di dekat air mancur di tengah taman. Tapi, tak ada seorangpun di sana, selain anak – anak yang sedang bermain gelembung sabun.
“Katanya, dia akan datang dengan pakaian serba biru, pukul 5 tepat… Tapi, sekarang, kan, masih jam 5 kurang 5 menit. Aku tunggu saja lagi…” ujar Karin dalam hati. Lima menit kemudian, seseorang dengan pakaian serba biru datang dan menghampirinya. Tapi Karin malah jadi cemberut. Ia yakin betul itu bukan yg ditunggunya. Yups! Sebab orang itu adalah….Radith!
“Ngapain, lu ngikutin gua ke sini, juga?!” seru Karin sewot.
“Siapa yang ngikutin lu, gua janjian sama seseorang di sini! Elu kali, yang mata – matain gua!”
“Diih…gua juga lagi janjian sama seseorang di sini! Gua mau ketemu sama pangeran gua, Prince Eric, namanya!”
“Haa?! Jadi…elu yang pake akun FB Princess Sugarplum itu?”
“Ha?! Lu tau dari mana? Apa jangan – jangan lu…”
“Jadi, selama ini?!” seru keduanya kompak.
“Huh! Jadi Princess gua itu elu?!”
“Idih…siapa juga yg mau jadi Princess lu! Jangan harap!” seru Karin seraya langsung meninggalkan Radith.
Sejak itu pun Karin tak pernah lagi chatting dengan Radith yang selama ini dikenalnya dengan Prince Eric itu. Radith pun tak pernah mengisenginya lagi di sekolah. Namun lama – kelamaan, ada rasa tidak nyaman juga yang timbul di hati Karin. Ia merasa kehilangan sekaligus dua sosok yang selama ini membuat hidupnya lebih berwarna. Sosok yang selalu menjadi tempat curhatannya, dan penghibur saat dia sedih, serta sosok yang selalu harinya di sekolah menjadi lebih seru, meski sering kali membuatnya jengkel pula.
“Prince Eric hanyalah pangeran dalam dongeng. Kisah bahagia Prince Eric dan Princess Sugarplum hanyalah dalam dongeng pula. Dan dongeng itu tidak nyata! Dongeng hanyalah fiksi!” Itulah yang selalu diucapkan Karin saat ia merindukan keadaan yang dulu lagi…
Sudah lebih dari dua minggu Radith tidak mengisengi Karin lagi di sekolah. Mereka pun tak pernah saling menyapa. Sampai suatu hari, saat jam istirahat, Karin menemukan sebuah kotak hadiah kecil di kolong mejanya.
“Apa ini kado iseng dari Radith lagi?” piker Karin dalam hati. Dengan hati – hati, Karin pun membuka kado tersebut. Dan ternyata……
Karin terbelalak melihat isinya. Ternyata bukan katak atau mainan ular seperti biasanya. Karin menemukan sebuah kartu bergambar hati yang dihiasi glitter di dalamnya. Indah sekali! Ia juga menemukan selembar kertas bergambar kolam ikan di sebuah taman. Di pojok bawah kertas tersebut, terdapat tanda tangan pengirimnya…Radith!
Karin langsung mengerti maksud hadiah itu. Ia pun segera menuju halaman belakang sekolah. Di sana ada sebuah kolam ikan yang cantik, dan Karin pun menuju ke sana. Seperti dugaannya, Radith telah menantinya di sana.
“Karin…,” ucap Radith, “Elu suka hadiah dari gua?” Tanya Radith agak gugup.
Karin hanya tersenyum, dan wajahnya memerah.
“Karin…Sorry kalo selama ini gua sering ngisengin lu. Tapi, sekarang gua baru sadar, kalo ternyata…gua…gua suka sama lu. Lu mau nggak, jadi pacar gua?” Tanya Radith penuh harap.
“Radith, sebenernya…gua juga baru sadar, kalo ternyata…gua …suka sama lu juga…,” ucap Karin malu – malu.
“Jadi, lu mau jadi pacar gua, kan?” kejar Radith, tak sabar.
Karin mengangguk. Dan entah kapan datangnya, tiba – tiba seluruh teman – teman mereka bertepuk tangan dan bersorak meriah.
Akhirnya, sang Putri dan Pangeran pun bersatu. Dan terbukti, kisah Pangeran dan Putri yang Happy Ending bukan hanya ada di dongeng!
17 Dream
|
A
|
ww... pegal sekali badan ini. Pusing sekali kepala ini. Hanya rasa sakit
yang terasa di tubuh ini. Tapi semua rasa sakit itu menghilang seketika ketika
aku melihat keadaan di sekitarku. Sangat membingungkan. Di sekelilingku hanya
terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi dan yang terdengar hanyalah suara
kicauan burung dan riakan semak belukar yang diterpa angin. Sebuah tempat yang
sangat tidak kukenali. Tapi kupikir ini hanyalah perasaanku saja karena rasa
pusing yang terus menyerang kepala ini.
Ternyata bukan, semua ini bukanlah ilusi. Aku sangat yakin kalau aku sedang
berada di sebuah hutan. Tapi bagaimana bisa? Aku ini adalah orang yang sangat
anti dengan alam dan aku sama sekali tidak pernah ingat bahwa aku ingin atau
berniat pergi ke tempat seperti ini. Apalagi tanpa membawa bekal apapun dan
mengenakan pakaian yang sangat tak lazim untuk dipakai menjelajah. Hanya ada
sebuah handphone dan jam tangan kesayangan yang ada.
Aku terus berjalan menyusuri seramnya hutan untuk mencari sumber air
terdekat. Haus dan lapar sudah tidak bisa tertahankan lagi. Ya meskipun dengan
sangat terpaksa tapi ini lebih baik daripada aku mati konyol di sini. Akhirnya
kutemukan sebuah sungai dan mata air yang mengalir dengan indahnya. Tanpa pikir
panjang aku pun langsung meminumnya dan juga mencuci muka agar pikiran menjadi
lebih fresh.
Setelah pikiran menjadi fresh kembali, aku mencoba mengecek lokasi di mana
aku berada dengan GPS. Tapi sungguh mengejutkan, GPS-ku tidak bisa menyebutkan
dan melacak keberadaanku. Kok bisa? Apa GPS-ku rusak? Atau aku sedang berada di
tempat terlarang yang tidak terjangkau GPS? Setelah aku cek, tidak ada masalah
sama sekali dengan GPS-nya. Pulsa mencukupi, sinyal penuh, tapi kenapa lokasiku
tidak terlacak? Atau aku sebenarnya sedang berada di negeri dongeng? Duh
pikiranku makin ngawur saja.
Aku tidak kehabisan akal, kucoba menghubungi orang tua, teman, dan saudara.
Yups teleponnya nyambung dan mereka angkat, tapi... tidak terdengar suara
apapun. Hanya hening yang ada. Kucoba membuka situs jejaring sosial, tapi
anehnya tidak ada satu pun situs yang bisa dibuka. Duh kacau nih. Aku termasuk
orang yang gaptek akan masalah internet jadi aku tidak bisa melacak masalahnya
lebih lanjut. Hanya kata “aneh” yang ada di kepala ini.
***_____***
Daripada bingung, aku teruskan aja perjalanan tidak pasti ini. Aku akan
terus berjalan lurus dan jika terus berjalan lurus pasti aku akan menemukan
jalan keluar. Hutan ini terlalu menakutkan untuk orang sepenakut aku. Terlebih
lagi jika ada binatang buas yang tiba-tiba menyerang. Ah... sudah-sudah jangan
berpikir yang enggak-enggak. Positive thinking.
Huuaa.... mencari jalan keluar tidak semudah yang aku pikirkan. Aku sudah
mulai muak dengan hal ini. Aku mulai mengeluh dan marah-marah sendiri
sampai-sampai aku menabrak sebuah pohon saking sudah ‘puyengnya’ kepala ini.
Spontan aku tiba-tiba marah-marah pada pohon itu seperti orang gila. Tiba-tiba
terdengar suara raungan harimau. Aku terdiam sejenak kemudian kembali
marah-marah dengan memukul-mukul pohon itu. Suara raungan harimau pun kembali
terdengar dan lebih keras dan lebih lama seolah-olah dia tidak suka dengan apa
yang kulakukan. Aku berhenti marah-marah dan karena takut, tanpa pikir panjang
aku langsung berlari menjauh dari pohon itu.
Tanpa disangka dan diduga, ketika berlari-lari aku tiba-tiba sampai di
sebuah gubuk. Sejenak aku melihat gubuk kecil itu. Setelah kupikir aman, aku
langsung memasuki gubuk itu. Pintunya tidak dikunci. Di dalamnya terdapat
sebuah ruang makan, kamar, dan dapur. Mungkin di gubuk ini ada penghuninya.
Tapi karena rasa lapar semakin menjadi-jadi, aku langsung memakan makanan yang
ada dapur. Ya meskipun tidak semewah makananku sehari-hari, tapi mau bagaimana
lagi, daripada aku mati kelaparan di hutan aneh ini.
Ahh... lega perut ini sudah kenyang. Kini rasa kantuk yang melanda karena
lelah setelah berlari-lari di hutan aneh ini. Aku pun langsung pergi ke kamar.
Busyet... kamarnya Berantakan sekali. Pikiranku langsung tertuju pada satu kata
yaitu “lelaki”. Kamar siapa lagi yang Berantakan dan bau begini, pasti kamar
laki-laki. Aku paling benci sama yang namanya lelaki. Bagiku semua lelaki di
dunia ini sama saja. Bisanya cuma bermain-main dengan wanita. Aku pikir dengan
sedikit membereskan kamar ini, aku akan menghilangkan bau lelaki yang ada di
kamar ini. Rasa kantuk kutekan sejenak untuk mengubah aroma kamar ini. Setelah
itu aku tidur.
***_____***
Prutt.... tidurku yang nyenyak tiba-tiba menghilang karena ada seseorang
menyiramku. Setelah kulihat, ternyata dia adalah laki-laki.
Keyla : Aww... kenapa kau menyiramku, laki-laki?
Ray : Kenapa? Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau dan kenapa kau masuk
istana orang sembarangan?
Keyla : Hah... istana? Gubuk kecil ini kamu bilang istana?
Ray : Gak usah ngalihin pembicaraan. Sekarang jawab aku. Siapa kamu dan mau
apa kamu ke sini?
Keyla : Oke... aku akan jawab. Tunggu sebentar!
Aku kemudian bangun dari tempat tidur kemudian berjalan menuju ruang makan
sambil mendongakkan kepala. Aku kemudian berduduk santai di sebuah kursi
panjang pada ruang makan itu.
Ray : Mengapa kau malah diam di sana? Cepat jawab pertanyaanku.!!!
Keyla : Jangan membentakku seperti itu. Namaku Keyla. Aku sedang tersesat
di hutan ini. Aku tidak tahu tiba-tiba ada di sini. Hutan ini juga sangat aneh.
Sebenarnya di mana ini? Apa kau tahu jalan keluar dari sini?
Ray : Di sini adalah Jakarta. Tidak ada jalan keluar dari hutan ini.
Keyla : Jakarta? Jangan bercanda! Jakarta itu bukan hutan, melainkan
perkotaan yang banyak gedung tingginya.
Ray : Terserah kau mau percaya atau tidak.
..... diam sejenak .....
Keyla : Apa benar-benar tidak ada jalan keluar dari hutan ini?
Ray : Ya, begitu lah.
Keyla : Terus kalau aku mau pulang gimana?
Ray : Entahlah.
Keyla : Jawaban macam apa itu? Apa kau itu tidak punya perasaan, dasar
laki-laki!!?
Ray : Kalau tidak tahu ya mau gimana lagi??
Kemudian teman satu gubuk Ray yaitu Joni kembali dengan membawa buah-buahan
dan daging mentah hasil berburu di hutan.
Joni : Aku pulang. Heh..?? siapa wanita ini, Ray?
Keyla : Ray?? Mengapa laki-laki primitif seperti kalian memiliki nama yang
bagus?
Ray : Dia itu penyusup, Joni.
Keyla : Sudah kubilang aku ini tersesat, masih dibilang penyusup. Dasar
laki-laki tak punya perasaan!!
Joni : Tersesat? Oh begitu.
Keyla : Lagi-lagi jawaban aneh. Hutan ini sama penghuninya sama saja.
Umm... tunggu dulu, sepertinya... (pembicaraannya dipotong Ray)
Ray : Udah deh... kamu kan lagi tersesat, tapi meskipun kita dari kecil
tinggal di sini. Tapi kita benar-benar gak tahu jalan keluar dari hutan ini.
Kalau ingin mencari jalannya sendiri, silahkan. Tapi kita gak bisa bantu. Kita
punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Keyla : Oke deh.
Dengan rasa kesal pun aku akhirnya keluar dari gubuk para lelaki itu. Tapi
ada yang membuatku bingung. Aku merasa pernah melihat mereka tapi entah di
mana. Aku mencoba mengeceknya di HP-ku. Tapi ternyata tidak ada satu pun foto
mereka. Ah mungkin ini hanya perasaanku saja.
Sementara di gubuk, Ray dan Joni melakukan rutinitas mereka seperti biasa
yaitu mencari makanan di hutan, memasak, makan, dan beres-beres.
***_____***
Menakutkan... hutan ini terlalu menakutkan untuk orang manja seperti ku.
Aku memutuskan untuk kembali lagi ke gubuk Ray. Tentu ketika aku ke sana mereka
tidak langsung menerimaku begitu saja.
Ray akhirnya menerimaku ke ‘rumah kecilnya’. Kali ini aku sedikit
memperbaiki sikapku meskipun sebenarnya terpaksa. Aku membantu para laki-laki
itu membereskan rumah mereka. Mau bagaimana lagi, sekarang inilah satu-satunya
cara agar aku bisa selamat dari teror hutan ini.
Hari sudah mulai sore. Aku memutuskan untuk membuka HP dan ingin
mengubur kebosananku. Tapi... aku menemukan hal yang sangat aneh melebihi
keanehan hutan ini. Waktu berjalan mundur. Tadi saat aku sedang di hutan, waktu
menunjukkan jam 10.30, tapi kenapa sekarang waktu menunjukkan pukul 8 pagi? Aku
mencoba bertanya pada Ray dan Joni, tapi jawaban mereka lebih mengejutkan, “Aku
tidak tahu. Aku terbiasa menjalani waktu seperti ini.”... Hah..??? kurasa aku
sedang berada di dalam sebuah dongeng.
***_____***
Satu hari telah berlalu. Aku melakukan sesuatu yang fatal dan tidak
seharusnya kulakukan. Ketika aku membereskan kamar Ray, aku tidak sengaja
memecahkan barang kesayangannya. Ray tidak mengerti meskipun aku bilang
berkali-kali kalau aku ini tidak sengaja melakukannya. Ya... seperti yang kuperkirakan. Ray dan Joni melakukan sesuatu yang
mengerikan padaku. Dengan alasan agar aku tidak mengganggu mereka lagi, aku
diikat di sebuah pohon di tengah hutan. Kejam sekali. Begini kah sebenarnya
sifat laki-laki? Aku mencoba berteriak-teriak. Tapi apa guna? Tidak akan ada
yang menolongku di hutan menyeramkan ini. Aku kelelahan. Aku akhirnya ketiduran
dalam keadaan terikat.
Huuaaahh.... aku terbangun di sebuah kasur. Aku terkejut melihat sesosok
wanita membawa pisau. Pikiranku langsung tertuju pada pembunuh berdarah dingin.
Sontak aku langsung lompat ke pojok kasur. Ternyata aku salah. Setelah
mendengar penjelasannya, ternyata dia adalah orang yang menolongku saat diikat
oleh Ray dan Joni. Aku mendengar penjelasan mereka. Kami saling curhat satu
sama lain. Ternyata sungguh kelam kehidupan mereka. Mereka lebih memilih
tinggal di hutan seram ini daripada hidup di rumah mewah bersama keluarga
mereka. Sekali lagi aku merasa pernah melihat mereka berdua. Tapi kupikir ini
hanyalah perasaanku belaka.
Namanya Kalifa. Orang tuanya sangat materialistis. Bagi mereka, uang dan
harta adalah segalanya. Kalifa kabur karena mendengar bahwa orang tuanya
berniat menjual dia pada salah satu keluarga bangsawan demi mendapatkan harta.
Huummppphh.... kupikir aku harus bersyukur dengan kehidupanku sekarang.
Yang satunya lagi namanya Lisa. Dia merupakan teman Kalifa. Sama-sama
keluarga dari orang kaya. Dia orangnya ingin kebebasan dan tidak ingin terikat
aturan. Orang tuanya selalu mengatur dan menentukan apa pun mengenai Lisa
dengan alasan itulah yang terbaik baginya. Padahal keinginannya tidak semuanya
sama dengan yang diinginkan orang tuanya. Dia memutuskan untuk kabur bersama
Kalifa. Hummphh... aku harus bersyukur lagi.
Aku bertanya apakah mereka tahu cara keluar dari hutan ini karena mereka
semua tidak berasal dari hutan ini. Tapi mereka menjawab bahwa mereka tidak
tahu jalan keluar dari hutan sini dan tidak mau tahu jalan keluar dari hutan
sini. Mereka secara kebetulan kabur ke hutan ini. Huh... susahnya mencari
informasi ini.
Kini giliran mereka yang bertanya padaku. Aku hanya bercerita bahwa aku ini
tersesat dan bertemu dua orang kejam. Aku hanya bilang bahwa aku itu membenci
laki-laki. Kalifa bertanya padaku alasannya. Tapi aku tidak menjawab banyak.
Dia akhirnya mengingatkanku agar tidak harus membenci orang atas hal seperti
itu. Dia bilang tidak semua laki-laki seperti itu. Dia memberikanku seorang
contoh yang membuatku tersadar atas kebodohanku ini. Dia mengingatkanku akan
banyaknya laki-laki di dunia ini yang telah berprestasi dan menjadi pahlawan bahkan
untuk kaum perempuan. Akhirnya berkat sarannya, aku memutuskan untuk meminta
maaf pada Ray dan Joni besok.
***_____***
Hari mulai pagi. Aku berencana membuat kejutan untuk Ray dan Joni. Ketika
hari sudah agak siang. Aku pergi ‘menyusup’ ke rumah kecil Ray. Aku menyulap
rumahnya menjadi sedemikian rupa dan aku juga menyiapkan makanan yang enak
untuk dia. Tentunya dengan bantuan dua temanku, yakni Kalifa dan Lisa.
Jrenk... ketika mereka datang dengan membawa hasil hutan seperti biasa,
seperti yang kuduga mereka terlihat senang dan berbinar-binar melihat kejutan
dariku. Akhirnya aku menunjukkan diriku dan aku meminta maaf pada mereka. Ray
tidak memaafkanku begitu saja. Mungkin karena teringat dengan barang yang
kupecahkan itu. Jreng.... inilah sebenarnya kejutan dari ku. Aku memperbaiki
barangnya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti utuh kembali. Ray diam
sejenak sambil menundukkan kepala. Tapi kemudian tiba-tiba dia berwajah senang
dan ingin merangkulku. Sontak aku langsung menendangnya. Argghh... sifatnya
masih saja menyebalkan. Kalifa dan Lisa kemudian menunjukkan diri mereka pada
Ray dan Joni. Tidak kusangka ternyata mereka telah kenal sebelumnya. Meskipun
sudah hampir 6 bulan tidak bertemu lagi.
Hari ini, kami berlima melakukan tukar cawan sebagai tanda persahabatan.
Sebagai simbolisasi, kami juga mengikatkan pita pada lengan kiri kami. Mulai
hari ini, kami berlima menjadi sahabat dan menjalani hari-hari dengan penuh
ceria. Hutan mengerikan ini berubah menjadi hutan keceriaan. Keanehan-keanehan ini
tidak lagi kupikirkan. Aku seakan lupa dengan kejadian yang menimpaku saat ini.
***_____***
Suatu hari saat aku pergi ke hutan sendirian, seorang sosok misterius
menghampiriku dengan pakaian yang agak aneh. Dia menjelaskan padaku mengenai
waktu yang berjalan mundur di sini. Katanya, jarum penunjukan waktu yang tampak
sebenarnya adalah kebalikan dari waktu sebenarnya. Sebagai contoh, jika waktu
menunjukkan jam 10, maka sebenarnya pada saat itu jam menunjukkan pukul 2.
Waktu hanya menunjukkan sama jika menunjuk jam 6 atau 12.Lebih mencengangkannya
lagi, dia menunjukkan sebuah peta dan cara keluar dari hutan ini. Aku sangat
gembira akan hal ini, tapi aku teringat dengan mereka berempat. Mereka yang
menolongku di saat kesusahan di sini.
Aku kemudian menceritakan semuanya pada mereka. Aku bingung dengan semua
ini. Memilih dua pilihan yang sangat sulit. Akhirnya mereka memutuskan untuk
ikut denganku keluar dari hutan ini, bersama-sama.
Akhirnya kulakukan juga perjalanan ini. Semuanya sudah siap ikut denganku.
Kami ikuti petunjuk-petunjuk dari peta satu persatu. Terdapat tiga rintangan.
Masing-masing rintangan sangat menguji kekompakan dan persahabatan. Singkat
cerita, kami akhirnya berhasil melewati dua rintangan. Benar-benar ujian bagi
persahabatan kami.
***_____***
Rintangan terakhir akhirnya sudah di depan mata. Di sini terdapat sebuah
“gerbang” (lebih nyatanya mirip) yang diapit oleh dua pohon. Dan siapa yang
tidak benar-benar niat keluar dari hutan ini, maka dia tidak akan bisa melewati
gerbang itu. Seperti sepele memang dan aku dengan mudah bisa melewati gerbang
itu. Tapi, mereka berempat tidak melangkahkan kaki melewati gerbang. Kenapa?
Katanya mereka ingin pergi bersama-sama denganku. Mereka bilang katanya mereka
memang tidak ingin keluar dari hutan ini. Hutan ini sudah merupakan tempat
tinggal bagi mereka. Aku berkata kenapa mereka membohongiku? Mereka hanya
menjawab “Kami tidak akan membiarkan sahabat kami berjuang sendirian”. Sungguh
aku terharu.
Aku memutuskan untuk kembali bersama sahabatku. Tapi mereka menghentikanku,
kata mereka aku harus bersyukur dengan apa yang kupunya sekarang. Aku harus
bersyukur karena mempunyai keluarga dan orang tua yang baik. Air mata ini
bercucuran tanpa henti. Kemudian aku berteriak, “Jika aku pergi dan mungkin
tidak akan pernah bertemu lagi dengan kalian, apakah aku masih dianggap sahabat
oleh kalian?”. Mereka hanya diam kemudian berbalik dan melangkah. Lalu mereka
mengangkat tangan kiri mereka dan menunjukkan pita yang merupakan tanda
persahabatan kami. Hiks... hiks... kami memang akan menjadi sahabat selamanya.
Aku pun menunjukkan tanda persahabatan ini. Aku berteriak, “Kita akan menjadi
sahabat selamanya!!”. Cahaya yang sangat terang muncul di depan ku
kemudian......
***_____***
Kubuka mataku. Humpphh... ternyata semua ini hanya mimpi. Aku terbangun di
tempat tidurku seperti biasanya. Luka saat kujatuh dalam mimpi tadi tapi
anehnya juga tampak di alam nyata ini. Apa? Mungkin sebenarnya ini nyata...
tapi..... luka ini tampak sedikit berbeda. Dan ternyata ini hanyalah luka saat
aku mengigau dan membentur tembok.
Aku berdiri bangun dari kasurku kemudian aku melihat foto Kalifa, Lisa,
Ray, Joni, dan aku sendiri dan dalam foto itu juga ada pita yang sama dengan
yang dalam mimpi. Pita itu juga tergeletak di samping foto itu. Pikiranku masih
kacau karena mimpi aneh tadi. Dan ketika aku keluar kamar.... jreng.....
Kalifa, Lisa, Ray, dan Joni datang sambil mengucapkan ulang tahunku yang
ke-17. Akhirnya pikiran ini kembali tenang. Mereka berempat memang sahabatku.
Tanda pita persahabatan ini juga memang nyata dan memang tanda persahabatan
kami. Apa maksud mimpi tadi di ulang tahunku ini? Apakah ini merupakan pesan
dari tuhan agar persahabatan kami selalu terjaga??
THE END
UNTUK MU
Siang itu Rania sedang duduk di teras depan, ia
duduk di bangku malas nya sambil memegang buku diary nya, dan air mata yang
mengalir di mata nya yang indah sangat deras, hidung nya yang putih dan mancung
berubah menjadi warna ke merah mudaan. Ia baru saja kehilangan orang yang
benar-benar ia sayangi, Rafa orang yanag hampir 1 tahun menemani nya kini pergi
meninggalkan nya dan takkan kembali lagi untuk selamanya.
“rafa,, kamu kok tega ninggalin aku,,, kamu kan
dah janji gak bakal tinggalin aku..” tangis rania.
“nak udh jangan nangis.. ibu tahu kamu sangat
terpukul,,,” sahut ibu nya sambil memeluk rania.
“tapi bu,,, rani bener-bener sayang sama dia
bu,, ..” jawab rania sambil terus menangis.
“udah udah,,, sekarang kamu shalat nak, doa kan
rafa biar dia disana tenang dan hati mu tenang nak.,,” saran ibunya.
“..............”
Rania tidak menjawab nya lagi, tapi dia langsung
masuk ke dalam rumahnya dan masuk ke kamar nya, ia shalat dan mengaji.
KE ESOKAN HARINYA
Tepat pukul 04.30 rania bangun dan langsung
mandi dan bersia-siap untuk berangkat kuliah. Pukul 06.00 rania keluar dari
kamar nya dan langsung menuju ruang makan. Ia duduk di kursi makan tanpa
memakan sarapan yang sudah di sediakan ibunya itu.
“nak sarapan dulu, jangan di liatin aja ntar gak
enak roti sama susunya” perintah ibunnya.
“.............”
Rania tidak menjawab, dia langsung saja memakan
rotinya. Matanya yan agak bengkak mengisyaratkan selama semalaman ia menangis.
Rania tidak menghabiskan sarapan nya itu. Ia langsung meminum susu dan
berpamitan kapada ibunya.
“sabar sayang.. kamu pasti bakal dapetin yang
lebih...” bisik ibunya ketika rania sudah berjalan jauh.
Setibanya di kampus, rania tidak seceria
biasanya, dia menunjukkan muka yang sangat sedih. Ketika sedang berjalan menuju
ruang kelas nya ia terhenti sejenak di dekat lapang basket. Ia membayangkan ada
rafa disana yang setiap pagi berlatih basket di lapang. Mata rania pun berkaca-kaca
dan air matanya pun mengalir. Dia sangat terpukul atas kepergian rafa.
“rania,,, sabar ya.. gua tau e’lo pasti sakit
banget...” sahut vania temen dekat nya.
“iya ran, e’lo harus tabah ya,, e’lo jangan
nangis, kallo e’lo nangis rafa pasti ikut sedih...” tambah devanya.
“iya...”jawab singkat rania.
“udah lah sekarang kita masuk kelas aja
ya,, bentar lagi pak suryo masuk...” ajak ke dua temen deketnya itu.
Akhirnya rania pun beranjak dari tempatnya dan
masuk ke ruang kelas nya, di dalam kelas semua temen nya ikut berduka dan
memberi suport pada rania.
Hari-hari rania kini sangat hampa tanpa
kehadiran rafa, dia tak seceria dahulu saat ada rafa di dekat nya, kini dia
menjadi seorang yang sangat pendiam, dia kini tidak banyak bicara dia hanya
melamun dan melamun dan menatap terus foto rafa dan dirinya.
Di rumahnya pun dia tak banyak bicara, setiap
dia pulang ke rumah dia langsung masuk kamarnya dia selau mengurung dirinya,
hingga suatu hari ibunya menemui rania pingsan di kamar mandi, ibu rania
membawa rania ke rumah sakit.
“dok,,, anak saya kenapa dok..?” tanya khawatir
ibu rania.
“dia gak apa-apa bu, dia hanya kecapean atau
mungkin terlalu banyak fikiran bu,” jelas dokter pada ibu rania
“ouh ya udah kallo gitu makasih ya dok,,,”
sambil bersalaman.
Ibu rania pun menuju ruang rania, ibu rania pun
membawa rania pulang ke rumah dan menyuruh rania beristirahat agar kedaannya
semakin membaik.
“bu,, rani pengen ketemu rafa bu...”
“asstagfirullah nak,, rafa sudah tenang di alam
sana, kamu jangan bicara kayak gitu, nanti dia malah gak tenang.”
“iya deh bu,, bu papah juga mungkin tenang ya di
alam sana...” tiba-tiba rania menangis.
Ibu rania tidak menjawab ibu ranai pun ikut
menangis dan memeluk rania.
“nak papah mu insya allah sudah berada di alam
yang sangat indah,, papah mu orang baik nak..” sambil menangis.
Ibu dan anak itu saling berpelukan dan menangis,
karena orang yang sama-sama ia sayangi telah pergi untuk selamanya.
|
Malam... sepi tanpa bintang
Gelap tanpa bulan, yang ada hanya
suara angin malam yang berhembus,
Dingin nya malam, mungkin dapat
mengisyartakan dingin nya juga hati ini,
Daun yang melambai lembut kepadaku
seolah mengerti keadaan q saat ini,
Mereka , orang yag q sayang, kini
telah tenang disana,
Tuhan,, jaga mereka, karena aq sayang
mereka
Rani
|
Rania menulis sebuah puisi untuk mencurahkan isi
hatinya saat ini. Dia memang sangat senang menulis puisi.
3 bulan berlalu dari meninggal nya rafa, rania
masih tetap tidak bersemangat, ia masih tetap dalam pada kesedihan nya.
“rafa,, udah mau hari ke 100 e’lo gua masih
belum bisa lupain e’lo fa,” ucap rania pada fot rafa yang masih ia simpan di
dompetnya.
“udah dong ran, e’lo harus move on, e’lo pasti
bisa lupain dia mesti gua tau itu berat.” Ucap devanya.
“iya ran, e’lo tuh harus bisa ran,” tambah
vania.
“hey,, e’lo tuh gak bakal pernah tau perasaan
gua, karena e’lo berdua belum pernah ngalamin keadaan kayak gua..” marah rania.
“iya maaf ran gua tau, tapi e’lo gk bisa kayak
gini terus,,” sambut vania.
Tapi rania malah pergi keluar ruangan kelas nya
dan menuju kamar mandi. Rania yang tidak tau kalo lantai kamar mandi itu basah
tiba-tiba rania terpeleset, tapi ada yang menahan nya.
“makasi ya,,” ucap rania.
“iya sama-sama..”jawab seorang pria yang
menolong nya.
Rania menatapa pria itu, ia seperti mengenali
wajah pria itu, ia begitu kaget, wajahnya pria tadi hampir mirip dengan rafa.
“rafa,,, e’lo hidup lagi..” teriak rania sambil
memeluk pria itu.
“hah,, maaf gua bukan rafa gua brian,,” jawab
pria itu.
“oh maaf ya,, “sambil melapaskan pelukan nya.
“iya gpp..” sambil mengajak rania jalan dan
duduk di bangku dekat ruang lab.
Rania hanya melamun dan menangis kecil, brian
yang ada di sampingnya merasa aneh dengan sifat rania.
“hey.,, kenpa e’lo nangis?” tanya brian
“...........” rania hanya terdiam dan terus
menangis.
“maafin gua deh kallo gua dah ganggu e’lo..”
“ehh,, e,,eng gak kok..” jawab rania sambil terbata
bata akibat menangis.
“oya.. gua brian anak kelas seni.. e’lo?”
“ouh kamu senior aq ya,,?” Tanya rania..
“iya,,, eh e’lo siiapa?”
“aq rania, panggil aq aja rani,, “ jawab rania.
“ouh,, ya udah gua ke kelas dulu ya ada jadwal
kuliah ni..”
“iya kak..”
Brian pun meninggalkan rania sendiri, dia duduk
termenung, kini hati rania sudah agak mendingan, ia merasa aneh ketika dia
melihat brian pertama kali dia langsung merasa nyaman.
Rania pun pergi dari tempat itu untuk menuju
ruang kelas nya. Dia masih merasa aneh dengan perasaan nya itu.
“rania e’lo dari mana?” tanya vania dan devanya
“gu.. gu gua,, da da...” jawab rani yan
terbata-bata dan terpotong pembicaraan nya oleh vania.
“dari man e’lo..? kok e’lo ngomong nya gagap
gitu sihh..?” tanya devanya
“iihh gua dari kamar mandi,, gua tadi ketemu kak
brian,, gu baru nyadar dia hampir mirip kayak rafa...”
“hahhhh... kak brian..? senior kita?” kaget
vania dan devanya.
Rania hanya menganggut dan wajah nya kini agak
sedikit berbeda, dia sedikit bahagia. Rania, devanya dan vania pun pulang
karena jam kuliah sudah habis.
“ran.. mau ikut kita-kita gak nonton...? tanya
devanya
“ah,, enggak ah makasi dev, mau langsung pulang,
kepala agak sakit nih,,” jawab rania lembut.
“oh ya udh gua sama vania berangkat ya,,,
ati-ati ya,, byyee...”
Rania hanya tersenyum dan melambaikan tangan nya
pada devanya dan vania, dia langsung berjalan ke arah luar gerrbang kampus, dia
terus berjalan dia membayangkan wajah brian seniornya tadi yang mirip dengan
rafa, dia berfikiran kallo brian kakak nya rafa, tapi tidak mungkin, rafa hanay
anak satu-satunya.
Raffa,,, gua kangen e’lo dan
maen di taman ini.. gumam hati rania yang berhenti di taman tempat ia sering bermain bersama
raffa,. Dia duduk di bawah pohon yang rindang, dia membayangkan saat-saat
terakhir kali bersama raffa di taman itu, dari matanya kini telah turun air
mata yang sangat banyak, dia sangat terpukul bila mengingat massa nya itu.
Ketika rania sedang menagis tiba-tiba Hp nya
bergetar, dia melihat Hp nya di sana ada pesan masuk yang melalui jejaring
sosial fb.
“rani,, ini rania kan?”
Rania aneh, dia tidak mengenal namanya, dia pun
melihat profilnya, ketika di lihat ternyat brian, raniapun sedikit terhibur,
dia memberi senyuman kecil bahagia. Rania pun membalas pesan itu.
“iya kak, ini rani”
Rania pun lalu berdiri dari tempat duduknya itu,
rania langsung pergi untuk pulang, setibanya di rumah, rania lalu duduk di
ruanh tamu, dia tidak masuk kamarnya, ibu nya yang aneh dengan perubahan rania
yang sedikit.
“nak,, kamu sangat berbeda..kamu lagi seneng
ya..?” tanya ibu nya.
“enggak bu, rani gak apa-apa.. rani cuman pengen
aja duduk di sini..”jawab rania.
Rania pun mengambil Hp nya yang ada di dalam tas
nya, dia langsung membuka jejaring sosial itu, ternyata pesan nya pun di balas
oleh brian.
“ohh iya,, takut nya gua salah.. hhee”
“enggak kak, nama rania cuman satu kok di kampus
itu, oya kak bentar ya kak rani mau pindah ke laptop.”
“oke gua tuunggu ya ran.”
“ciie siapa tu kakak rian?” ledek ibunya
“brian ibu, bukan rian, dia senior rani bu d
kampus, bu rani mau ke kamar dulu ya..”
Rania pun langsung menuju kamar dan membuka
laptopnya, dia langsung membuka jejaring sosial nya itu dan membalas pesan
brian.
Rania dan briant pun saling membalas chat, rania
sedikit terhibur, rania bercerita pada brian kenapa kelakuan rania saat ketemu
brian sangat aneh. Rania juga bercerita kallo rania sudah kehilangan 2 orang
yang dia sayangi sekaligus dalam satu tahun.
“ya ampun kamu kasian banget sih ran,, yang
tabah yah ran” chat brian
yang memberi semangat pada rania.
“iya kak.. udh sabar kok, oya kakak juga katanya
mau cerita..”
“iya,, kakak sedih banget ran, coz kakak suka
sama cewek eh cewek itu dah punya pacar ran,,”
“ya ampun sabar ya kak, kakak pasti bakal dapet
yang lebih kok..”
“oya ran lanjut di sms ja ya,,”
“tapi kak,,, rania gk punya no kakak.”
“hadeuuhh,,, niih,,,, 085*********
“oke ntar rani sms ya ”Jkak,, y udh deh kak rani
off duluan ya kak bye
Rania pun langsung off dan mematikan laptopnya,
dia langsung mengambil Hp nya dan mulai mengetik pesan untuk di kirim ke brian.
Rania dan brian pun saling membalas pesan, kini
perasaan rania berbeda, dia kini bisa tersenyum meski dia masih merasakan
sakit.
“rani,, ada temen-temen mu,,” panggil ibu rania,
“iya bu,, ntar rania keluar.” Sahut rania dari
dalam kamar nya.
Rania pun keluar dari kamar nya dan menuju ke
ruang tamu, di sana sudah menunggu temen-teman nya yaitu, vania dan devanya.
“e’lo kayak nya seneng banget ran,? E’lo dah
bisa move on ya,,? Jangan-jangan gara-gara ketemu ama kak brian ya,,?” ledek
vania
“ih apaan sih kalian,,,”jawab rania dengan
malu-malu.
Rania dan kedua teman nya itu bermain bersama.
Mereka bercanda bersama, dan kali ini rania sangat berbeda, dia sangat bahagia
dan wajahnya pun kembali segar tak sekusam saat dia belum bertemu dengan brian.
Tepat pukul 17.30 teman-teman rania pulang,
mereka berpamitan kepada ibu rania dan rania. Setelah teman rania pulang, ia
kembali ke kamar nya. Saat ini ia sangat bahagia. Dia merasa brian bisa membuat
hari-harinya menjadi indah.
Setelah sekian lama rania dan brian kenal, brian
menginginkan berkunjung ke rumah rania, rania meminta izin kepada ibu nya agar
brian senior nya itu maen ke rumah nya, ibu nya pun mengijinkan nya. Dan brian
pun datang ke rumah rania tepat pukul 20.00 hari itu hari minggu malam. Brian
dan rania bercanda di ruang tamu. Rania bercerita kepada brian tentang perasaan
nya bahwa dia sebelelum bertemu brian, dia sangat sedih, coz dia baru di
tinggalkan orang yang di sayangi nya.
Brian pun menghibur rania, begitu pula dengan
rania yang menghibur brian karena dia telah gagal mendapatkan wanita yang ia
kagumi. Rania dan brian saling menghibur, akhirnya brian pun izi pulang karena
hari semakin malam, dia pun pulang.
Keesokan harinya raniia bercerita kepada 2 teman
dekatnya, bahwa brian datang berkunjung kerumahnya, dia sangat senang, begitu
pula dengan ke 2 temannya yang sudah bisa melihat perubahan pada diri rania
yang sudah bisa move on.
Hampir tiga bulan lebih rania dan brian dekat,
brian pun sering maen ke rumah rania, dia membawakan makanan favorit rania,
rania sangat senang dengan sikap brian yang sangat baik dan perhatian, dia pun
mulai mengagumi sosok brian. Dia pun sering cerita kepada teman nya bahwa dia
menyukai brian dan berharap brian menjadi pengganti rafa yang sudah tenang di
alam sana.
Semua berjalan sangat lancar, tetapi semua nya
berubah 180 derajat, dia mendengar bahwa brian mendekati wanita lain yang tak
lain teman satu kelas nya sendiri yaitu Nami, dia sangat kaget dengan
pembicaraan itu, awalnya rania gak percaya tapi stelah rani menyelidiki nya
senidiri itu memang benar, rania sangat terpukul dia menangis sendiri di dalam
kelasnya, kedua teman nya pun mengetahui kejadian itu, vania dan devanya pun ikut
sedih dengan kejadian itu, ke 2 teman nya menyupirt agar rania tabah
“gua sakit banget,,, gua udh percaya ama dia
tapi apa balesannya? Kallo emang dia dulu cuman mau kanal gua doang kenapa dia
dudlu ngasih harapan gede sih ke gua..?”ucap rania sedih.
Kedua teman nya hanya tertunduk dan ikut
menangis, tiba-tiba rania sesak dan dia pingsan, ke 2 teman nya kaget dan
membawa ke ruang kesehatan kampusnya, dia di periksa oleh dokter yang ada di
sana, semua teman nya kaget bahwa rania mempunyai penyakit jantung. Vania dan
devanya pun memberi tahukan kejadian itu kepada ibunya rania, tapi ibu rania
tak kaget kalo dia sudah tau sebelum nya, dia juga menyuruh untuk ke 2 teman
nya dan teman yang lain nya menyembunyikan ini semua.
Ketika semuanya mulai membaik rania mulai lagi
menjadi seorang pemurung dia gak seceria dulu lagi. Ke dua temannya pun mencoba
mencari kebenaran nya itu teryata itu semua benar, vania dan devanya pun tak
sangka bahwa cowok setampan dan sebain brian bisa ngelakuin itu.
Hampir 2 bulan kejadian itu berlalu, rania masih
bersedih dan dia mencoba menutup pintu hatinya dan dia berjanji untuk fokus
kuliah dan menggapai cita-cita nya. Tapi kali ini dia benar-benar sakit, dia
melihat nami turun dari mobil brian, kejadian itu ia saksikan langsung dekat.
Tapi brian hanya cuek dan memandang sedikit ke arah rania. Rania sangat sakt
dengat tak sadar air mata nya terjatuh tiba-tiba ke 2 teman nya menghmpiiri
nya, dia pun menceritakan semua nya.
“gua,, gua,, gua sakit banget,,, e’lo bayangin
deh org yg penah gua sayang tega nyakitin gua, tadi dia bawa nami,,” sambil
menangis tersedu,
“udah sabar-sabar,, cowok kayak dia gak pantes
buat cewek sebaik e’lo ran..” ucap vania
“ia ran, banyak yang lebuh dari dia, gua yakin
tuh hubungan gak bakal lama ran..” tambah devanya.
Rania terus menangis kedua teman nya pun
berusaha menghibur rania, tapi apa boleh dikata hatinya yang sakit susah untuk
diajak bercanada.
Dia berfikir kenapa dahualu brian deketin rania
dan nagsih harap sama dirinya, kalo cuman ingin berteman gak semestinya sifat
brian seperti itu, dia tak habis fikir brian ngelakuin itu semua padanya, dan
juga nami, temen deketnya yang pernah dia ajak curhat tega nusuk rania dari
belakang, dahulu nami berbicara dia tak akan mencintai brian karena dia sudah
mempunyai kekasih, tapi apa yang terjadi nami membohongi pembicaraannya
sendiri. Rania sangat terpukul apabila dia mengingat masa-masa bersama brian.
Rania terus menangis di rumah nya, ibu nya tak
pernah tahu apa yang terjadi, karena ia tak ingin ibunya ikut membenci
brian. Dia hanya menyimpan semua sakitnya sendiri.
Tepat pukul 19.00 rania sedang mengaji, rania
menjerit kesakitan dan memgang dada nya yang sakit dan sesak, ibunya kaget dan
menhampiri kamar rania. Ibu rania sangat panik.
“rania... kamu kenapa,, nak,, sadar nak,,”
“rania sakit bu,,, ra ra rani gak kuat bu, sakit
banget bu, bu.. ra ran, rani sayang ibu, rani juga sayang brian. Katakan rania
sayang dia,,,” tiba-tiba mata rania terpejam
Ibu rania sangat kaget dengan kejadian itu, ibu
rania langsung membawa rania ke rmh sakit, dan langsung masuk ke ruang UGD tapi
apa yang terjadi tubuh rania langsung di tutup seimut dari bawah sampai atas,
ibu rania shock dengan kejadian itu.
“dok kenapa anak saya dok?” tanya ibu rania
sambil menangis.
“maaf bu, rania sudah meninggal,,” jawab dokter
Ibu rania kaget dan menangis tersedu-sedu dia
tak sangka semua orang yang ia sayangi telah tiada.
Ke esokan harinya pemakaman pun di mulai ibu
rania sangat histeris teman-teman rania pun sangat terpukul oleh kejadian itu,
teman-teman rania berusaha menenagkan ibunya rania. Brian pun datang ia
mendapat kabar dari teman nya. Brian datang dengan wajah menyesal dan sedih,
dia datang bersama nami.
“e’lo mau apa datang kesini brian? Puas e’lo dah
nyakitin hati rania sampe dia mati?”teriak vania
Brian tidak berkata apa-apa dan menangis di
depan pusara makam rania.
“e’lo cowok gak punya hati brian dia dah sayang
ama e’lo tapi e’lo ngebalesnya pake kayak gini, air susu e’lo bales air tuba,,
dasar cowok php..” tambah vania.
Nami menunjukan muka biasa saja, dia menunjukan
muka yang tak peduli dan tak punya salah. Dia terus saja mengajak brian pulang,
tapi brian menolaknya dan memarahi nami. Nami pun kesal dan akhirnya pulang
sendiri.
Brian terus menangis di atas pusara rania, dia
menyesal telah berbuat seperti itu, dia menyesal udah permainin hati rania.
“nih e’lo baca semua,,,”ucap devanya sambil
memberikan buku diary nya rania.
Brian sangat kaget dengan semua tulisan berisi
tentang dirinya, brian tambah sedih dan menyesal.
“ran,, maafin aq,, aq dah salah,,”sambil
menangis.
“alah,, udah lah cowok biadab balik aja sana,
samperin tuh cewek e’lo..” teriak vania sambil mendiring brian
Tapi ibu rania menahan nya, dan menyampaikan
ucapak terakhir rania, bahwa dia sangat menyayangi brian.
Brian sangat menyesal dia pun meminta maaf pada
ibu nya rania dan ke 2 teman nya, awalnya vania tidak mau memaafkan nya tapi
karena di bujuk oleh ibu dan devanya akhirnya dia pun mau memaaf kan. Akhir nya
brian menyadari kesalahan nya dan mereka pun memutuskan untuk pulang.
Selamat jalan almarhumah rania, semoga engkau
tenang di sisi-NYA, cinta mu tetap abadi bersama dia. Kelak kau akan bahagia
disana.
“Brian meski kau telah menyakiti hati q, tapi
benci ini tak sebesar cinta q, semoga kau bahagia dengan pilihan hati mu, miss
u.”
THE END
Buat
yang punya artikel ini maaf ia aku ngga mencantumkan alamatnya, sorry aku lupa
hehehe
5 Novel Paling Romantis di Dunia
Apakah Anda penggemar cerita-cerita cinta yang romantis dan mengharu biru?
Jika ya, maka lima novel di bawah ini wajib untuk Anda baca.
imdb.com
Pride And Prejudice. Meskipun novel ini telah diterbitkan hampir dua abad yang lalu, tetapi
kisah cinta Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy tetap menjadi favorit bagi banyak
orang di dunia. Kisah cinta yang mengambil latar kehidupan bangsawan Inggris di
abad 19 ini masih dianggap sebagai kisah paling romantis yang pernah ada.
Wuthering Heights. Emliy Brontë memang hanya menerbitkan satu novel selama hidupnya, tetapi
karyanya ini sudah cukup untuk membuat namanya dikenal hingga saat ini. Jangan
bayangkan Anda akan mendapatkan karya yang penuh dengan perasaan cinta yang
meletup-letup, karena kisah cinta Heathcliff dan Catherine di novel
bertema gothic romance sangat kelam dan penuh dengan kesedihan serta
tragedi.
tcpl-teens.blogspot.com
The Time Traveler’s Wife. Sulit untuk mendeskripsikan genre novel yang satu ini, apakah science
fiction, romantis, atau justru pedofil? Hal itu disampaikan oleh agen sang
penulis, Audrey Niffeneger yang merasa kesulitan ketika ingin mendapatkan
penerbit yang mau menerbitkan novel ini. Meskipun begitu, ketika diterbitkan
novel ini mendapat sambutan yang sangat hangat dari masyarakat karena ceritanya
yang kaya dan membuat banyak orang memikirkan kembali definisi cinta yang tidak
lekang oleh tempat mupun waktu.
nighthawknews.wordpress.com
The Great Gatsby. Novel klasik karya ini membuat nama F. Scott Fitzgerald dipandang sebagai
sastrawan dunia. Novel ini telah diadaptasi dalam berbagai bentuk, mulai dari
drama, opera, hingga layar lebar. Selain itu, The Great Gatsby juga gianggap
sebagai novel terbaik sepanjang masa dan menjadi bacaan wajib bagi pelajaran
literatur Amerika. Versi terbaru adaptasi novel ini akan kembali hadir di layar
lebar akhir tahun ini, dengan Leonardo diCaprio berperan sebagai tokoh
flamboyan Jay Gatsby, yang menjadi pusat cerita novel ini.
bibliojunkie.wordpress.com
Norwegian Wood. Novel karya penulis Jepang, Murakami Haruki, ini berdasar pada lagu The
Beatles, yang didengarkan oleh tokoh utama novel ini, Toru, dalam perjalanannya
ke Jerman. Toru berangkat ke Jerman untuk mengunjungi Naoko, perempuan yang
dicintainya. Naoko mengalami kehilangan yang mendalam setelah kekasihnya, yang
adalah sahabat Toru, bunuh diri. [Tika/Mizan.com, Diolah dari: TIME]
Novel Cinta Remaja - Gita
Kali ini saya akan berbagi novel
cinta remaja bergenre sedih dengan judul Gita.
Selamat membaca novel cinta sedih ini ya.
Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.
Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.
“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.
“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita
“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.
Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.
Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....
“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.
Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.
“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.
Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.
“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.
“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.
“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.
“Gita,” jawab Qori.
Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.
Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.
“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.
“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.
Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.
“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.
Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.
“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.
Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.
Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.
“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.
“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.
Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.
“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.
Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.
Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?
“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.
Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.
Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.
Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.
“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.
“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita
“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.
Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.
Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....
“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.
Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.
“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.
Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.
“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.
“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.
“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.
“Gita,” jawab Qori.
Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.
Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.
“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.
“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.
Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.
“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.
Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.
“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.
Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.
Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.
“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.
“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.
Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.
“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.
Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.
Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?
“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.
Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.
Terimkasih sudah membaca novel cinta remaja sedih yang berjudul Gita,
semoga Bermanfaat
Senyummu
adalah Hidupku
ini dikirim oleh Sarah Aulia.
Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.
“Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.
“Maaf ya… maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.
Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar. “Apa-apaan sih lo?” katakku kasar
“Aduh… maaf banget ya… tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku.” Katanya kemudian tersenyum kepadakku.
“Orang stress.” Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.
“Eh La… lo dari mana aja?” Tanya Dina menghampiriku.
“Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang.” Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.
“Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG… beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.”
“Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini.” Katakku ketus.
“Lo tau nggak dia siapa?” tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. “Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget.” Katanya kemudian histeris
“Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman?” katakku polos.
“Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.”
“Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!!” ajakku kepada sahabatku itu.
“Ah nggak seru lo… yaudah ayo balik.” Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.
Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.
“Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.
“Maaf ya… maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.
Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar. “Apa-apaan sih lo?” katakku kasar
“Aduh… maaf banget ya… tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku.” Katanya kemudian tersenyum kepadakku.
“Orang stress.” Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.
“Eh La… lo dari mana aja?” Tanya Dina menghampiriku.
“Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang.” Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.
“Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG… beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.”
“Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini.” Katakku ketus.
“Lo tau nggak dia siapa?” tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. “Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget.” Katanya kemudian histeris
“Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman?” katakku polos.
“Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.”
“Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!!” ajakku kepada sahabatku itu.
“Ah nggak seru lo… yaudah ayo balik.” Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.
***
Hari berganti. Sekarang aku sudah mengenakan
kemeja putih dan rok abu-abu selututku. Akupun bersiap untuk segera berangkat
ke sekolah.
“Kamu udah bangun La?” seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. “Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.”
“Dari siapa ma?”
“Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu.” Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.
Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.
“Kamu udah bangun La?” seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. “Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.”
“Dari siapa ma?”
“Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu.” Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.
Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.
***
Aku sampai di sekolah. “Pagi Lala.
Sendiri aja?” seseorang mengagetkanku dari belakang.
“Eh, Ilham? Keliatannya?” katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.
“Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?”
“Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?”
“Sejak kapan kita sohiban?” tanyanya menggoda. “Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?”
“Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina.” Katakku sedih.
“Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…”
“Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?”
“Boy Band.”
“Ia deh apakatalo.”
“Baik lah. Emang kenapa?”
“Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo?” candakku. “Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?”
“Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. “Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas.
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan… apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?
“Eh, Ilham? Keliatannya?” katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.
“Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?”
“Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?”
“Sejak kapan kita sohiban?” tanyanya menggoda. “Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?”
“Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina.” Katakku sedih.
“Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…”
“Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?”
“Boy Band.”
“Ia deh apakatalo.”
“Baik lah. Emang kenapa?”
“Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo?” candakku. “Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?”
“Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. “Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas.
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan… apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?
***
“Bisa gila gue lama-lama….” Jeritku ketika aku melihat sebuah
karangan bunga lagi di meja belajarku.
“Kenapa lo La?” Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.
“Itu!” katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.
“So? Apa yang salah? Bunganya bagus.” Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.
“Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja.” Katakku emosi
“Terus?”
“Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!!” katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. “Bisa gila gue lama-lama!!” jeritku lagi.
“Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah… wah… kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?”
“Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah….”
“Itu berarti lo punya pengagum rahasia.”
“Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?”
“Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.”
“Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.
“Kenapa lo La?” Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.
“Itu!” katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.
“So? Apa yang salah? Bunganya bagus.” Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.
“Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja.” Katakku emosi
“Terus?”
“Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!!” katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. “Bisa gila gue lama-lama!!” jeritku lagi.
“Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah… wah… kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?”
“Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah….”
“Itu berarti lo punya pengagum rahasia.”
“Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?”
“Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.”
“Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.
***
“Hai La… Din.” Seseorang menepuk pundakku.
“Eh lo Ham….” Sapaku kepada Ilham.
“Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.”
“Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih… pasti ada udang di balik batu?” Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.
“Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.
“Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.
“Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya….” Ilham memohon.
“Kapan?” Tanyaku.
“Hari minggu. Please dateng ya….” Katanya memohon.
“Oke deh Ham. Gue usahain.” katakku.
“Kok usahaiin sih… lo berdua harus dateng, nggak mau tau.”
“Ia deh… gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh.” Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.
“Eh lo Ham….” Sapaku kepada Ilham.
“Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.”
“Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih… pasti ada udang di balik batu?” Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.
“Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.
“Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.
“Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya….” Ilham memohon.
“Kapan?” Tanyaku.
“Hari minggu. Please dateng ya….” Katanya memohon.
“Oke deh Ham. Gue usahain.” katakku.
“Kok usahaiin sih… lo berdua harus dateng, nggak mau tau.”
“Ia deh… gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh.” Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.
***
Sesuai janjiku yang kemarin, aku dan Pramudina
datang ke acara peluncuran single terbarunya Ilham. Di sana rencananya Ilham
akan mengenalkanku pada personel Boy bandnya.
“Hei!!!” seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. “Gue kira kalian nggak datang.”
“Eh Ham… Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati.” Katakku.
“Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue.” Katanya mengajakku masuk ke dalam.
Di dalam aku melihat enam orang lainnya. “Guys, ini teman-teman gue.” Kata Ilham kepada teman-temannya. “Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael.” Katanya menjelaskan satu per satu.
“Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.
Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah. “Kamu Lala , novelis terkenal itu kan?” tanyanya.
“Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan?” katakku.
“Kaaakkk Landry…..” Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.
“Lo udah kenal dia?” Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.
“Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.”
“Haha… ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?”
“Gue? Kok bisa?”
“Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat.” Kata Ilham menjelaskan semuanya.
“Masa sih, novel gue bisa sesukses itu?” kataku tak percaya.
“Kelihatnnya?” Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?
Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.
“Hei!!!” seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. “Gue kira kalian nggak datang.”
“Eh Ham… Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati.” Katakku.
“Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue.” Katanya mengajakku masuk ke dalam.
Di dalam aku melihat enam orang lainnya. “Guys, ini teman-teman gue.” Kata Ilham kepada teman-temannya. “Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael.” Katanya menjelaskan satu per satu.
“Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.
Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah. “Kamu Lala , novelis terkenal itu kan?” tanyanya.
“Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan?” katakku.
“Kaaakkk Landry…..” Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.
“Lo udah kenal dia?” Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.
“Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.”
“Haha… ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?”
“Gue? Kok bisa?”
“Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat.” Kata Ilham menjelaskan semuanya.
“Masa sih, novel gue bisa sesukses itu?” kataku tak percaya.
“Kelihatnnya?” Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?
Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.
***
Tok… tok
Terdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah. “Sebentar…” teriakku dari dalam.
“Elo?” katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.
“Boleh masuk?” katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.
“Silahkan.” Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. “Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?”
“Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku.” katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. “Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya?” katannya lagi
“Maksud lo?”
“Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. “Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.”
Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti. “Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?”
“Yup… bisa dibilang begitu.”
“Sama cokelat dan note itu?” katakku lagi.
“Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.”
“Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?”
Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.
LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.
Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.
“Kamu mau kemana?” tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.
“Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut?” Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit.
Terdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah. “Sebentar…” teriakku dari dalam.
“Elo?” katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.
“Boleh masuk?” katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.
“Silahkan.” Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. “Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?”
“Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku.” katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. “Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya?” katannya lagi
“Maksud lo?”
“Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. “Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.”
Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti. “Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?”
“Yup… bisa dibilang begitu.”
“Sama cokelat dan note itu?” katakku lagi.
“Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.”
“Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?”
Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.
LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.
Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.
“Kamu mau kemana?” tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.
“Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut?” Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit.
***
“Kok bisa
penyakit jantungnya Dina kambuh? Emangnya kenapa?”
tanyaku kepada Ilham yang sedang berada di ruang tunggu.
“Jadi begini….”
“Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat.” Tanya Reza kakanya Ilham
“Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong….”
“Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.”
“Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. “Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.”
Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.
“Jadi… lo suka sama gue?” Ilham mengangguk. “Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue?” Ia kembali mengangguk. “Dan Dina tau.” Ilham kembali mengangguk. “Ya ampun, Ham… lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?”
“Sorry, La… gue nggak tau.” Ilham terlihat menyesal.
“Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya.” Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah…
Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina. “Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?”
“Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. “Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.”
“Maksud dokter?” tanyaku.
“Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya.” Kata dokter itu.
Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.
“Ayo kita selesaikan ini semua.” Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.
“Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.
“Lala, Ilham.” Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.
“Din, sorry ya… gara-gara gue, lo jadi… jadi… ya… jadi begini.” Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.
“Gue juga minta maaf ya...” katakku kepada Dina
“Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.”
“Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.”
“Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. “Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.”
“Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.
“Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.
Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan…
Brak….
Nitt…..
Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.
Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah.
Tamat
Terimakasih Atas Kedatanganmu di Blogku,
Road To Hell Mobile Hell Blog,
http://roadtohell.mywapblog.com
“Jadi begini….”
“Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat.” Tanya Reza kakanya Ilham
“Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong….”
“Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.”
“Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. “Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.”
Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.
“Jadi… lo suka sama gue?” Ilham mengangguk. “Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue?” Ia kembali mengangguk. “Dan Dina tau.” Ilham kembali mengangguk. “Ya ampun, Ham… lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?”
“Sorry, La… gue nggak tau.” Ilham terlihat menyesal.
“Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya.” Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah…
Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina. “Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?”
“Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. “Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.”
“Maksud dokter?” tanyaku.
“Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya.” Kata dokter itu.
Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.
“Ayo kita selesaikan ini semua.” Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.
“Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.
“Lala, Ilham.” Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.
“Din, sorry ya… gara-gara gue, lo jadi… jadi… ya… jadi begini.” Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.
“Gue juga minta maaf ya...” katakku kepada Dina
“Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.”
“Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.”
“Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. “Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.”
“Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.
“Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.
Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan…
Brak….
Nitt…..
Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.
Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah.
Tamat
Terimakasih Atas Kedatanganmu di Blogku,
Road To Hell Mobile Hell Blog,
http://roadtohell.mywapblog.com
5 Novel Paling Romantis di Dunia
Apakah Anda penggemar cerita-cerita cinta yang romantis dan mengharu biru?
Jika ya, maka lima novel di bawah ini wajib untuk Anda baca.
imdb.com
Pride And Prejudice. Meskipun novel ini telah diterbitkan hampir dua abad yang lalu, tetapi
kisah cinta Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy tetap menjadi favorit bagi banyak
orang di dunia. Kisah cinta yang mengambil latar kehidupan bangsawan Inggris di
abad 19 ini masih dianggap sebagai kisah paling romantis yang pernah ada.
Wuthering Heights. Emliy Brontë memang hanya menerbitkan satu novel selama hidupnya, tetapi
karyanya ini sudah cukup untuk membuat namanya dikenal hingga saat ini. Jangan
bayangkan Anda akan mendapatkan karya yang penuh dengan perasaan cinta yang
meletup-letup, karena kisah cinta Heathcliff dan Catherine di novel
bertema gothic romance sangat kelam dan penuh dengan kesedihan serta
tragedi.
tcpl-teens.blogspot.com
The Time Traveler’s Wife. Sulit untuk mendeskripsikan genre novel yang satu ini, apakah science
fiction, romantis, atau justru pedofil? Hal itu disampaikan oleh agen sang
penulis, Audrey Niffeneger yang merasa kesulitan ketika ingin mendapatkan
penerbit yang mau menerbitkan novel ini. Meskipun begitu, ketika diterbitkan
novel ini mendapat sambutan yang sangat hangat dari masyarakat karena ceritanya
yang kaya dan membuat banyak orang memikirkan kembali definisi cinta yang tidak
lekang oleh tempat mupun waktu.
nighthawknews.wordpress.com
The Great Gatsby. Novel klasik karya ini membuat
nama F. Scott Fitzgerald dipandang sebagai sastrawan dunia. Novel ini telah
diadaptasi dalam berbagai bentuk, mulai dari drama, opera, hingga layar lebar.
Selain itu, The Great Gatsby juga gianggap sebagai novel terbaik sepanjang masa
dan menjadi bacaan wajib bagi pelajaran literatur Amerika. Versi terbaru
adaptasi novel ini akan kembali hadir di layar lebar akhir tahun ini, dengan
Leonardo diCaprio berperan sebagai tokoh flamboyan Jay Gatsby, yang menjadi
pusat cerita novel ini.
bibliojunkie.wordpress.com
Norwegian Wood. Novel karya penulis Jepang,
Murakami Haruki, ini berdasar pada lagu The Beatles, yang didengarkan oleh
tokoh utama novel ini, Toru, dalam perjalanannya ke Jerman. Toru berangkat ke
Jerman untuk mengunjungi Naoko, perempuan yang dicintainya. Naoko mengalami
kehilangan yang mendalam setelah kekasihnya, yang adalah sahabat Toru, bunuh
diri. [Tika/Mizan.com, Diolah dari: TIME]
Novel Cinta Remaja - Gita
Kali ini saya akan berbagi novel cinta remaja bergenre sedih dengan judul Gita.
Selamat membaca novel cinta sedih ini ya. Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.
Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.
“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.
“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita
“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.
Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.
Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....
“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.
Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.
“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.
Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.
“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.
“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.
“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.
“Gita,” jawab Qori.
Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.
Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.
“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.
“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.
Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.
“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.
Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.
“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.
Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.
Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.
“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.
“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.
Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.
“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.
Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.
Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?
“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.
Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.
Terimkasih sudah membaca novel cinta remaja sedih yang berjudul Gita,
semoga Bermanfaat
Senyummu
adalah Hidupku
ini dikirim oleh Sarah Aulia.
Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.
“Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.
“Maaf ya… maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.
Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar. “Apa-apaan sih lo?” katakku kasar
“Aduh… maaf banget ya… tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku.” Katanya kemudian tersenyum kepadakku.
“Orang stress.” Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.
“Eh La… lo dari mana aja?” Tanya Dina menghampiriku.
“Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang.” Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.
“Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG… beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.”
“Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini.” Katakku ketus.
“Lo tau nggak dia siapa?” tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. “Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget.” Katanya kemudian histeris
“Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman?” katakku polos.
“Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.”
“Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!!” ajakku kepada sahabatku itu.
“Ah nggak seru lo… yaudah ayo balik.” Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.
Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.
“Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.
“Maaf ya… maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.
Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar. “Apa-apaan sih lo?” katakku kasar
“Aduh… maaf banget ya… tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku.” Katanya kemudian tersenyum kepadakku.
“Orang stress.” Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.
“Eh La… lo dari mana aja?” Tanya Dina menghampiriku.
“Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang.” Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.
“Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG… beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.”
“Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini.” Katakku ketus.
“Lo tau nggak dia siapa?” tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. “Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget.” Katanya kemudian histeris
“Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman?” katakku polos.
“Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.”
“Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!!” ajakku kepada sahabatku itu.
“Ah nggak seru lo… yaudah ayo balik.” Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.
***
Hari berganti. Sekarang aku sudah mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu
selututku. Akupun bersiap untuk segera berangkat ke sekolah.
“Kamu udah bangun La?” seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. “Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.”
“Dari siapa ma?”
“Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu.” Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.
Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.
“Kamu udah bangun La?” seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. “Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.”
“Dari siapa ma?”
“Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu.” Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.
Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.
***
Aku sampai di sekolah. “Pagi Lala. Sendiri aja?” seseorang mengagetkanku dari belakang.
“Eh, Ilham? Keliatannya?” katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.
“Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?”
“Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?”
“Sejak kapan kita sohiban?” tanyanya menggoda. “Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?”
“Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina.” Katakku sedih.
“Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…”
“Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?”
“Boy Band.”
“Ia deh apakatalo.”
“Baik lah. Emang kenapa?”
“Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo?” candakku. “Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?”
“Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. “Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas.
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan… apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?
“Eh, Ilham? Keliatannya?” katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.
“Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?”
“Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?”
“Sejak kapan kita sohiban?” tanyanya menggoda. “Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?”
“Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina.” Katakku sedih.
“Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…”
“Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?”
“Boy Band.”
“Ia deh apakatalo.”
“Baik lah. Emang kenapa?”
“Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo?” candakku. “Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?”
“Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. “Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas.
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan… apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?
***
“Bisa gila gue lama-lama….” Jeritku ketika aku melihat sebuah karangan bunga lagi di meja
belajarku.
“Kenapa lo La?” Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.
“Itu!” katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.
“So? Apa yang salah? Bunganya bagus.” Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.
“Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja.” Katakku emosi
“Terus?”
“Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!!” katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. “Bisa gila gue lama-lama!!” jeritku lagi.
“Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah… wah… kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?”
“Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah….”
“Itu berarti lo punya pengagum rahasia.”
“Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?”
“Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.”
“Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.
“Kenapa lo La?” Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.
“Itu!” katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.
“So? Apa yang salah? Bunganya bagus.” Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.
“Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja.” Katakku emosi
“Terus?”
“Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!!” katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. “Bisa gila gue lama-lama!!” jeritku lagi.
“Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah… wah… kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?”
“Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah….”
“Itu berarti lo punya pengagum rahasia.”
“Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?”
“Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.”
“Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.
***
“Hai La… Din.” Seseorang menepuk pundakku.
“Eh lo Ham….” Sapaku kepada Ilham.
“Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.”
“Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih… pasti ada udang di balik batu?” Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.
“Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.
“Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.
“Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya….” Ilham memohon.
“Kapan?” Tanyaku.
“Hari minggu. Please dateng ya….” Katanya memohon.
“Oke deh Ham. Gue usahain.” katakku.
“Kok usahaiin sih… lo berdua harus dateng, nggak mau tau.”
“Ia deh… gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh.” Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.
“Eh lo Ham….” Sapaku kepada Ilham.
“Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.”
“Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih… pasti ada udang di balik batu?” Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.
“Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.
“Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.
“Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya….” Ilham memohon.
“Kapan?” Tanyaku.
“Hari minggu. Please dateng ya….” Katanya memohon.
“Oke deh Ham. Gue usahain.” katakku.
“Kok usahaiin sih… lo berdua harus dateng, nggak mau tau.”
“Ia deh… gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh.” Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.
***
Sesuai janjiku yang kemarin, aku dan Pramudina datang ke acara peluncuran
single terbarunya Ilham. Di sana rencananya Ilham akan mengenalkanku pada
personel Boy bandnya.
“Hei!!!” seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. “Gue kira kalian nggak datang.”
“Eh Ham… Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati.” Katakku.
“Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue.” Katanya mengajakku masuk ke dalam.
Di dalam aku melihat enam orang lainnya. “Guys, ini teman-teman gue.” Kata Ilham kepada teman-temannya. “Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael.” Katanya menjelaskan satu per satu.
“Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.
Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah. “Kamu Lala , novelis terkenal itu kan?” tanyanya.
“Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan?” katakku.
“Kaaakkk Landry…..” Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.
“Lo udah kenal dia?” Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.
“Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.”
“Haha… ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?”
“Gue? Kok bisa?”
“Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat.” Kata Ilham menjelaskan semuanya.
“Masa sih, novel gue bisa sesukses itu?” kataku tak percaya.
“Kelihatnnya?” Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?
Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.
“Hei!!!” seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. “Gue kira kalian nggak datang.”
“Eh Ham… Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati.” Katakku.
“Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue.” Katanya mengajakku masuk ke dalam.
Di dalam aku melihat enam orang lainnya. “Guys, ini teman-teman gue.” Kata Ilham kepada teman-temannya. “Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael.” Katanya menjelaskan satu per satu.
“Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.
Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah. “Kamu Lala , novelis terkenal itu kan?” tanyanya.
“Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan?” katakku.
“Kaaakkk Landry…..” Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.
“Lo udah kenal dia?” Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.
“Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.”
“Haha… ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?”
“Gue? Kok bisa?”
“Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat.” Kata Ilham menjelaskan semuanya.
“Masa sih, novel gue bisa sesukses itu?” kataku tak percaya.
“Kelihatnnya?” Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?
Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.
***
Tok… tok
Terdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah. “Sebentar…” teriakku dari dalam.
“Elo?” katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.
“Boleh masuk?” katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.
“Silahkan.” Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. “Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?”
“Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku.” katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. “Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya?” katannya lagi
“Maksud lo?”
“Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. “Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.”
Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti. “Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?”
“Yup… bisa dibilang begitu.”
“Sama cokelat dan note itu?” katakku lagi.
“Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.”
“Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?”
Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.
LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.
Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.
“Kamu mau kemana?” tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.
“Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut?” Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit.
Terdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah. “Sebentar…” teriakku dari dalam.
“Elo?” katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.
“Boleh masuk?” katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.
“Silahkan.” Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. “Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?”
“Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku.” katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. “Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya?” katannya lagi
“Maksud lo?”
“Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. “Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.”
Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti. “Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?”
“Yup… bisa dibilang begitu.”
“Sama cokelat dan note itu?” katakku lagi.
“Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.”
“Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?”
Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.
LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.
Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.
“Kamu mau kemana?” tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.
“Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut?” Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit.
***
“Kok bisa penyakit jantungnya
Dina kambuh? Emangnya kenapa?” tanyaku kepada Ilham
yang sedang berada di ruang tunggu.
“Jadi begini….”
“Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat.” Tanya Reza kakanya Ilham
“Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong….”
“Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.”
“Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. “Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.”
Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.
“Jadi… lo suka sama gue?” Ilham mengangguk. “Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue?” Ia kembali mengangguk. “Dan Dina tau.” Ilham kembali mengangguk. “Ya ampun, Ham… lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?”
“Sorry, La… gue nggak tau.” Ilham terlihat menyesal.
“Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya.” Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah…
Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina. “Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?”
“Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. “Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.”
“Maksud dokter?” tanyaku.
“Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya.” Kata dokter itu.
Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.
“Ayo kita selesaikan ini semua.” Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.
“Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.
“Lala, Ilham.” Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.
“Din, sorry ya… gara-gara gue, lo jadi… jadi… ya… jadi begini.” Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.
“Gue juga minta maaf ya...” katakku kepada Dina
“Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.”
“Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.”
“Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. “Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.”
“Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.
“Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.
Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan…
Brak….
Nitt…..
Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.
Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah.
Tamat
Terimakasih Atas Kedatanganmu di Blogku,
Road To Hell Mobile Hell Blog,
http://roadtohell.mywapblog.com
“Jadi begini….”
“Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat.” Tanya Reza kakanya Ilham
“Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong….”
“Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.”
“Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. “Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.”
Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.
“Jadi… lo suka sama gue?” Ilham mengangguk. “Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue?” Ia kembali mengangguk. “Dan Dina tau.” Ilham kembali mengangguk. “Ya ampun, Ham… lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?”
“Sorry, La… gue nggak tau.” Ilham terlihat menyesal.
“Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya.” Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah…
Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina. “Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?”
“Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. “Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.”
“Maksud dokter?” tanyaku.
“Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya.” Kata dokter itu.
Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.
“Ayo kita selesaikan ini semua.” Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.
“Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.
“Lala, Ilham.” Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.
“Din, sorry ya… gara-gara gue, lo jadi… jadi… ya… jadi begini.” Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.
“Gue juga minta maaf ya...” katakku kepada Dina
“Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.”
“Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.”
“Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. “Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.”
“Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.
“Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.
Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan…
Brak….
Nitt…..
Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.
Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah.
Tamat
Terimakasih Atas Kedatanganmu di Blogku,
Road To Hell Mobile Hell Blog,
http://roadtohell.mywapblog.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar