Buku cerita Anak, Remaja, Dewasa dan segala usia

-->
CERITA DEWASA
Anak Tetangga ku

Cerita ini terpaksa saya curahkan di Blogger karena harus ku curahkan di mana lagi hati dan perasaanku yang mendalam ini.
ok kita langsung aja ke cerita yang dinanti-nantikan ini.
Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya. "Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian", gumamku.

Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. "Sekarang minta jatah..". Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.

Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.
"Selamat sore Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa", kataku ramah.

ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelahku.
"Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu", tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".

Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.
"Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku, kemudian membanting pantat di sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.

"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak lamunan nakalku.
"Ngg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, "inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan".

Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."

Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.

Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman.."

Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna hitam.

"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.

Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.

"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"

Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.

"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk.
"Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouu..", dia menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.

Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.
"Ahh.. ohh.. asshh..", dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau pundakku.

"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouu enak sekali Om.."
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.

Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil dong"
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.

"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG tetangga.

Murid Kesayangan Menjadi Lihai

Seperti biasa pada pagi yang cerah Lhian bersiap untuk berangkat sekolah. Lhian S, gadis cantik bertubuh tinggi, sexy dan putih mulus. Gadis berkacamata ini cukup pintar dan rajin dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Dia dikenal sebagai gadis nomor satu disekolahnya. Sifatnya yang tomboy memudahkan para teman prianya untuk menikmati tubuh Lhian dengan memandangi payudara, paha, pinggul, ketiak dan pantatnya yang besar. Karena Lhian sangat mudah bergaul dengan anak cowok. Tinggi Lhian sekitar 168 cm, dan beratnya 55 kg.

Lhian memang mempunyai tubuh yang paling sempurna di sekolahnya. Dengan ukuran bra 36B, ia kadang tidak memakai bra untuk menyangga susunya ketika bermain dengan teman-temannya. Para teman cowoknya yang beruntung saat itu, akan dapat menikmati pemandangan yang membuat jakun pria naik turun. Mereka berharap bisa menjamah kantong susu itu, dan meminum susunya. Meskipun tidak mengenakan bra, susu Lhian yang hanya ditutupi kaos terlihat kencang dan tegak. Itu karena Lhian rajin berolahraga, baik itu push-up, sit-up, jogging, basket, dll. Sehingga susunya pun sangat padat dan kenyal. Tapi yang paling menonjol adalah buah pantatnya yang besar dan luar biasa montok. Lhian terpilih mempunyai pantat terindah oleh teman-teman cowoknya. Disamping itu Lhian selalu memakai rok birunya yang ketat, pantatnyapun bergantian naik-turun ketika ia berjalan. Garis celana dalamnya tercetak jelas di belakang roknya, menandakan betapa padat dan montoknya pantatnya.

Selama proses belajar mengajar, para guru laki-laki yang mengajarnya sering memperhatikan Belahan payudara Lhian yang kadang terlihat sedikit menyembul keluar, dan roknya yang tersingkap sehingga pahanya yang putih mulus terpampang jelas dimata gurunya. Lhian kadang sengaja membiarkan beberapa bagian tubuhnya diamati. Lhian mempunyai pinggul yang lebar, pantat yang sekal dan paha yang besar dan gempal menggairahkan. bahkan tidak jarang teman-teman cowok dikelasnya yang nekat masturbasi dikelas ketika sedang jam pelajaran, karena tidak tahan melihat paha atau pantat Lhian didepannya. Lhian sangat bersemangat disekolahnya. Ia aktif mengikuti kegiatan ekstra di sekolahnya seperti pramuka dan paskibraka. Lhian sekolah di sebuah SMU swasta yang terkenal dikotanya, sekarang ia kelas 3.

*****

Pagi sekali sekitar pukul 06. 30 dia sudah menunggu angkutan kota menuju sekolahan nya, jarak sekolahnya tidak terlalu jauh sekitar 5 km. Apalagi nanti ada upacara. Tiba-tiba ketika Lhian sedang asyik-asyiknya jalan sendiri sambil baca buku pelajaran, ada seorang naik mobil menghampirinya.
"Halo Lhian kok jalan?", tanya si pengendara mobil itu yang ternyata adalah Pak Bambang guru Fisikanya.
"Lho Bapak kok jam segini sudah berangkat?" tanya Lhian spontan.
"Iya saya habis nginap di tempat saudara, takutnya telat. Kalo mo ke sekolah, ayo ikut Bapak saja" ajak Pak Bambang.

Karena Lhian sudah kenal benar dengan yang namanya Pak Bambang. Akhirnya mau juga nebeng Pak Bambang. Tapi Lhian nggak tahu disitulah awal bencana bagi Lhian.
"Dik Lhian nggak keberatan khan kalau kita mampir dulu ke rumah adik saya, soalnya saya baru ingat kalau buku laporan saya tertinggal di sana?" Pak Bambang membuat alasan.
"Iya Pak tapi cepetan yah, biar nggak telat"
Tiba-tiba Pak Bambang mempercepat kecepatan mobilnya dengan sangat tinggi dan arahnya ke rumah kosong di pedesaan yang jarang terjamah orang.

Sesampainya disitu Lhian ditarik dengan paksa masuk ke dalam rumah kosong dan disitu sudah ada Pak Wahyu, Pak Joko yang merupakan wali kelas Lhian yang sudah lama mengamati Lhian dan nggak ketinggalan kepala sekolah Pak Budi dan wakil kepala sekolahnya yang namanya Pak Dono. Mereka semua nampaknya sudah menunggu semenjak tadi.
"Halo Lhian, sudah ditunggu dari tadi lho?", seru salah seorang dari mereka.
"Apa-apaan nih? Apa yang Bapak-Bapak lakukan disini?", Lhian mulai kebingungan.

Lhian menjerit karena dia mulai digerayangi.
"Bangsat tua bangka jangan coba-coba sentuh saya".
"Diam, kamu pengin lulus nggak? Berani melawan perintah gurumu yah", kata Pak Budi selaku guru Matematika.
Lhian mencoba melawan dengan memukuli dan menendang gurunya. Tapi Lhian kalah setelah ia dihantam perutnya oleh Pak Joko guru olahraganya, dan di gampar pipinya berkali-kali sampai Lhian kelenger hingga merah dan bibirnya berdarah. Lhian meringis kesakitan.
"Nah sekarang emut dan hisep kontol saya, kontol Pak Andi, kontol Pak Joko dan Pak Dono yang kenceng nyedotnya, kalo nggak saya obrak-abrik rahim kamu biar nggak bisa punya anak Mau?",

Karena ketakutan akhirnya Lhian mengulum kontol para gurunya. Lhian menyedot penis mereka satu-persatu dengan bibirnya yang merah dan mulutnya yang mungil, sambil tangannya menggenggam penis para Bapak guru sambil mengocok-ngocoknya.
"Nah gitu terus yang enak ayo jangan berhenti, telen pejuhnya biar kamu tambah pinter", seru Pak Bambang.
"Mmmphh, slerrpp, mmhh" Dengan terpaksa Lhian menghisap kontol-kontol mereka sampe mereka semua pada orgasme.
"Edan, nih cewek nyepongnya mantep banget Lhian, lo pasti sudah sering nyepongin kontol temen-temen lo yah? haa, ha, ha, ha".
Guru Lhian satu persatu menyemburkan sperma mereka ke dalam mulut Lhian, dan mengalir ke tenggorokannya. Walaupun Lhian hampir muntah dia memaksakan untuk menelan pejuh kelima orang itu. Dia masih tak percaya dioral oleh gurunya sendiri. Wajah Lhian mulai terlihat kelenger lagi, sepertinya ia mabuk sperma, merasakan mual pada perutnya.

Setelah mereka puas memperkosa mulut Lhian ternyata mereka langsung menelanjangi Lhian. Pak Dono memegang kedua tangan Lhian, Pak Budi memelorotkan rok abu-abunya, Pak Joko merobek pakaian dan kutang Lhian.
"Nih murid teteknya putih banget, gede lagi, putingnya coklat pasti manis nih Wahh, kenyal sekali, lembut banget Bapak-Bapak" Pak Joko mengomentari payudara Lhian, sambil mulai meremas-remas payudara Lhian.
Dalam sekejap Lhian sudah dalam keadaan tanpa busana.
"Jangan Pak jangan, atau saya akan melapor ke polisi", seru Lhian sambil teriak.
"Ooo, coba saja nanti, sekarang sebaiknya kamu persiapkan diri kamu untuk menerima pelajaran khusus" Seru Pak Budi sambil menjambak rambut Lhian.
Lhian sekarang hanya mengenakan celana dalam putih saja.

Ketika Pak Budi hendak beraksi tiba-tiba Pak Bambang protes, "karena saya yang dapat perek ini maka saya duluan yang memperkosanya."
Tanpa membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Lhian menjadi tengkurap, kedua tangannya yang ditarik kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Pak Bambang itu kini mengusap-usap bagian pantat Lhian, dirasakan olehnya pantat Lhian yang sekal. Sesekali tangannya menyabet pantat Lhian dengan keras, bagai seorang Ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal "Plak, Plak.".
"Wah sekal sekali pantat kamu Lhian, kenyal, gila nih Don, paha murid kita satu ini gede amat. Putihnya ya ampun, banyak bulu-bulu halusnya lagi di pahanya" ujar Pak Bambang sambil terus mengusap-usap dan memijit-mijit pantat Lhian sambil sesekali mencabuti bulu-bulu di paha Lhian yang putih gempal itu.
Lhian mengaduh kesakitan.
"Bakal mabuk nih kita nikmatin pantat segede gini, seperti bokong sapi aja."
"Montoknya, ya ampun, gede, kenyal lagi" sambil memijat pantat Lhian yang memerah karena tamparan tangan Pak Bambang.
Pak Dono lalu menjilati dan menggigiti bongkahan pantat si Lhian.
"Aakhh, bangsat, keparat, jangan sentuh pantat gue", Lhian membentak mereka.
"Plakk" sebuah tamparan sangat keras ke pipi Lhian.
"Diam kamu, pelacur pengin gue rontokin gigi putih loe", Pak Dono balas membentak.

Lhian hanya diam pasrah, sementara tangisannya mulai terdengar. Tangisnya terdengar semakin keras ketika tangan kanan Pak Bambang secara perlahan-lahan mengusap kaki Lhian mulai dari betis naik terus kebagian paha lalu mengelus-elus paha mulus putih Lhian dan akhirnya menyusup masuk kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya.
"Jangan paak, saya mohon, saya masih perawan pakk", Lhian teriak ketakutan.
Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Pak Bambang, yaitu jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Lhian agak menggeliat, dia mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Pak Bambang tadi langsung menusuk lobang kemaluan Lhian.

"Egghhmm, oohh, shitt, shitt", Lhian menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Pak Bambang masuk kedalam liang kewanitaannya itu.
Badan Lhian pun langsung menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan, ketika Pak Bambang memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Lhian. Nafas Lhian terengah-engah sambil mengerang kesakitan.

Dengan tersenyum terus dikorek-koreknyalah lobang kemaluan Lhian, sementara itu badan Lhian menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan rintihan-rintihan yang keluar dari mulutnya itu Pak Bambang menciumi bibir vagina Lhian sambil sesekali memasukkan lidahnya kedalam liang vagina Lhian, kepala Pak Bambang menghilang di bawah selangkangan Lhian sambil kedua tangannya dari bawah meremas -remas pantat Lhian. Sementara Pak Dono meremas payudara kanan Lhian, dan mulutnya mengulum payudara Lhian satunya lagi.
"Pak Bambang, susu murid kesayanganmu ini gurih sekali, harum lagi, kualitas nomer satu".
Pak Dono asyik menyantap payudara Lhian, yang ranum padat dan kenyal sekali.

"Ehhmmpphh, mmpphh, ouughh, sakii..iit, paa..ak".
Lhian terus mengerang kesakitan pada kedua buah dadanya dan kenikmatan pada kemaluannya. Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Lhianpun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Pak Bambang kemudian mencabut jarinya.

Melihat Lhian yang meronta-ronta, Pak Bambang semakin bernafsu dan dia segera menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Lhian yang masih perawan. Walaupun vagina Lhian sudah basah oleh air liur Pak Bambang dan cairan vagina Lhian yang keluar, namun Pak Bambang masih merasakan kesulitan saat memasukkan penisnya, karena vagina Lhian yang perawan masih sangat sempit. Lhian hanya dapat menangis dan berteriak kesakitan karena keperawanannya yang telah dia jaga selama ini akan direnggut dengan paksa seperti itu oleh gurunya sendiri. Lalu dengan ngacengnya Pak Bambang memasukkan batang penisnya lagi.
"Auw aduh duh sshh, saakkii..iitt, pakk.. ammpuu..uunn", terdengar suara dari mulut Lhian yang terlihat kesakitan.
Dia mulai menangis sambil mendesah menikmati kontol Pak Bambang yang mengaduk-aduk liang peranakannya. Terlihat jelas raut wajah Lhian yang menahan sakit luar biasa pada selangkangannya.

Lhian sekarang lebih terdengar suara tertahan ketika penis disodok-sodokkan ke lubang memeknya.
"Huek, hek, hek aah oohh jangan, uh, duh, ampunn pakk", ternyata Lhian telah orgasme.
Sungguh mengasyikan melihat expresi Lhian yang merem-merem sambil menggigit bibir bawahnya. Pak Bambang terus menggenjot memek Lhian. Menit-menitpun berlalu dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Pak Bambang terus menggenjot tubuh Lhian, Lhianpun nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Pak Bambang menggenjot tubuhnya. Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihanpun kini melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan lemah, "Ahh, ahh, oouuhh".

Lalu Pak Bambang memposisikan tubuh Lhian menungging. Pantat Lhian sekarang terlihat kokoh menantang, ditopang paha panjangnya yang putih dan tegak. Pak Bambang memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke vagina Lhian hingga terbenam seluruhnya, lalu dia menariknya lagi dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu ke dalam rongga vagina Lhian hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak disertai teriakan panjang.
"Aaahh, Stoop, kumohon jangan".
Kedua tangan Pak Bambang memegang pantat Lhian, sedangkan pinggulnya bergoyang-goyang berirama. Sesekali tangan Pak Bambang mengelus-elus pantat Lhian dan sesekali meremas payudara Lhian dari belakang.

Beberapa menit kemudian, Pak Bambang kembali mempercepat goyangan pinggulnya, kemudian dia menarik kedua tangan Lhian. Jadi sekarang persis seperti menunggangi kuda lumping, kedua tangan Lhian dipegang dari belakang sedangkan pantatnya digoyang seirama sodokan penis Pak Bambang. Karena tidak disangga kedua tangannya lagi, kini buah dada Lhian tergencet di atas tikar tipis sebagai alas Lhian disetubuhi. Sedangkan wajah Lhian menghadap keatas dengan mulut menganga mengerang kesakitan. Melihat keadaan Lhian seperti itu, Pak Bambang semakin bersemangat mengebor liang vagina Lhian.

"Anjingg, bangsaatt, perekk, loo, Lhian ngentoott, gue entotin loo".
Pak Bambang merancau tak jelas. Dan akhirnya Pak Bambangpun berejakulasi di lobang kemaluan Lhian, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya memenuhi rahim Lhian.
"Aa, aakkhh, oohh", sambil mengejan Pak Bambang melolong panjang bak serigala, tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas.
"Aoohh, oouuhh, bangsaatt, shitt, shitt".
Lhian mengumpat sambil mendesah, tubuhnya mengejang merasakan air mani Pak Bambang membanjiri rahimnya. Puas sudah dia menyetubuhi Lhian, rasa puasnya berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas dalam menyetubuhi Lhian, puas dalam merobek keperawanan Lhian dan puas dalam memberi pelajaran kepada gadis nomor satu di sekolah itu.

Lhian menyambutnya dengan mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa gurunya telah berejakulasi karena dirasakannya ada cairan-cairan hangat yang menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu memenuhi lobang kemaluan Lhian sampai sampai meluber keluar membasahi paha dan sprei kasur. Lhian yang menyadari itu semua, mulai menangis namun kini tubuhnya sudah lemah sekali.

Setelah itu Pak Andi maju untuk mengambil giliran. Kali ini Pak Andi mengangkat kedua kaki Lhian ke atas pundaknya, dan kemudian dengan tidak sabar dia segera menancapkan penisnya yang sudah tegang ke dalam vagina Lhian. Pak Andi masih mengalami kesulitan saat memasukkan penisnya, meskipun vagina Lhian kini sudah licin oleh sperma Pak Bambang dan juga cairan vagina Lhian. Vagina Lhian masih sangat sempit. Kembali vagina Lhian diperkosa secara brutal oleh Pak Andi, dan Lhian lagi-lagi hanya dapat berteriak kesakitan.

"Bangsatt, akkhh, bajingaann, sudahh, sudahh, keparaatt"
Namun kali ini Lhian tidak berontak lagi, karena dia pikir itu hanya akan membuat gurunya semakin bernafsu saja.

Sementara itu Pak Andi terus memompa vagina Lhian dengan cepat sambil satu tangannya meremas-remas payudara Lhian yang bulat kenyal dan tidak lama kemudian dia mencapai puncaknya dan mengeluarkan seluruh spermanya di dalam vagina Lhian.
"Ooohh, makan nih pejuh gue".
Lhian hanya dapat meringis kesakitan, tubuhnya telentang tidak berdaya di lantai. Walaupun tangan dan kakinya sudah tidak dipegangi lagi, dan membayangkan dirinya akan hamil karena saat ini adalah masa suburnya. Dia dapat merasakan ada cairan hangat yang masuk ke dalam vaginanya. Darah perawan Lhian dan sebagian sperma Pak Andi mengalir lagi keluar dari vaginanya.

"Hmmpphh, hhmmpp, oohhkk, oughh", Lhian menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Pak Budi mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Lhian.
Matanya terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sementara Pak Budi terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya. Memang agak sulit selain meskipun sudah dimasuki dua penis tadi, usia Lhian juga masih tergolong muda sehingga kemaluannya masih sangat sempit.

Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Pak Budi berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya didalam vagina Lhian. Tubuh Lhian berguncang-guncang disaat itu karena dia menangis merasakan sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu. Diapun terus memohon kepada Pak Budi agar mau melepaskannya.
"Ahh, rasain loe, akhirnya aku bisa ngerasain jepitan memek kamu sayang", bisiknya ketelinga Lhian.
"Oouuhh, Paakk, saakiitt, Paak, ampuunn", rintih Lhian dengan suara yang megap-megap.
Jelas Pak Budi tidak perduli. Dia malahan langsung menggenjot tubuhnya memompakan batang kemaluannya keluar masuk lobang kemaluan Lhian.

"Aakkhh, oohh, oouuhh, oohhggh", Lhian merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot Oleh Pak Budi, badannyapun semakin menggeliat-geliat.
Otot-otot dinding vaginanya kuat mengurut-urut batang kemaluan Pak Budi yang tertanam didalamnya, karenanya Pak Budi merasa semakin nikmat. Sambil memukuli perut Lhian dengan tangannya, berharap agar vagina Lhian mencengkram penisnya dengan lebih erat karena lobang vagina Lhian semakin mengendur.

Tiba-tiba Pak Budi mencabut penisnya dan dia duduk di atas dada Lhian. Pak Budi mendempetkan kedua buah payudara Lhian yang kecil dengan kedua tangannya dan menggosok-gosokkan penisnya di antara celah kedua payudara Lhian, sampai akhirnya dia memuncratkan spermanya ke arah wajah Lhian. Lhian gelagapan karena sperma Pak Budi mengenai bibir dan juga matanya. Setelah itu Pak Budi masih sempat membersihkan sisa sperma yang menempel di penisnya dengan mengoleskan penisnya ke payudara Lhian dan ke puting susunya. Kemudian Pak Budi menampar payudara Lhian yang kiri dan kanan berkali-kali, sehingga payudara Lhian berwarna kemerahan dan membuat Lhian merasa perih dan kesakitan.

Selanjutnya dua orang, Pak Joko dan Pak Dono maju. Mereka kini menyuruh Lhian untuk mengambil posisi seperti merangkak. Kemudian Pak Joko berlutut di belakang pantat Lhian dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke lubang anus Lhian yang sangat sempit.
"Gila nih cewek, bokongnya montok banget kenyal lagi, lihat nih Tin paha si Lhian. Gempal, gede, Putih banget. Bener kata Pak Bambang" Kata Pak Joko.
"Ampuunn, jangan sodomi saya paakk, saya mohoonn".
Membayangkan kesakitan yang akan dialaminya, Lhian mencoba untuk berdiri, tetapi kepalanya dipegang oleh Pak Dono yang segera mendorong wajah Lhian ke arah penisnya. Kini Lhian dipaksa mengulum dan menjilat penis Pak Dono. Penis Pak Dono yang tidak terlalu besar tertelan semuanya di dalam mulut Lhian.

Sementara itu, Pak Joko masih berusaha membesarkan lubang anus Lhian dengan cara menusuk-nusukkan jarinya ke dalam lubang anus Lhian.
"Akkhh, oohh, aahh, sshh, perihh, pakk"
Sesekali Pak Joko menampar pantat Lhian dengan keras, sehingga Lhian merasakan pantatnya panas.
"Gila nih perek, bokongnya gede tapi lobangnya kecil banget" Kemudian Pak Joko juga berusaha melicinkan lubang anus Lhian dengan cara menjilatinya.
Lhian merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat lidah Pak Joko menjilati lubang anusnya. Ia berada dibelakang Lhian dengan posisi menghadap punggung Lhian.

Ketika lobang dubur Lhian agak terbuka, Pak Joko menuang sebotol minyak goreng kedalam lobang dubur Lhian. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Lhian selebar bahu, dan, "Aaakkhh.", Lhian melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Pak Jokol menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Lhian. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, dengan agak susah payah kembali Pak Joko berhasil menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Lhian, meskipun baru masuk setengahnya. Setelah itu tubuh Lhian kembali disodok-sodok, kedua tangan Pak Joko meraih payudara Lhian serta meremas-remasnya.

Tidak lama kemudian Lhian kembali menjerit kesakitan. Rupanya anusnya sudah jebol oleh penis Pak Joko yang berhasil masuk seluruhnya dengan paksa. Kini Pak Joko memperkosa anus Lhian perlahan-lahan, karena lubang anus Lhian masih sangat sempit dan kering. Ketika Pak Joko menarik penisnya, mulut dubur Lhian ikut tertarik sehingga terlihat monyong keluar. Lalu Pak Joko menyodokkan lagi penisnya, sehingga kini dubur pantat Lhian mengempot.
"Aaakkhh, ouughh, sakii..iitt, pak, periihh, akuu, nggakk.. kuatt, pakk, periihh, sakiitt".
Lhian menjerit keras sekali, ia baru saja merasakan rasa sakit yang teramat-sangat yang pernah dirasakannya. Pak Joko merasakan kesakitan sekaligus kenikmatan yang luar biasa saat penisnya dijepit oleh anus Lhian. Pak Joko merasa penisnya lecet didalam pantat Lhian. Kenikmatan yang terus-menerus dirasakannya ketika menunggangi pantat Lhian. Tak terbayang bagaimana wajah orang tua Lhian, jika menyaksikan persetubuhan yang tidak manusiawi yang dialami putrinya. Anak perempuan yang mereka rawat dengan kasih sayang hingga remaja dan dibiayai, sekarang tubuhnya sedang menungging telanjang bulat, pantatnya disodomi oleh gurunya sendiri.

Seperempat jam lamanya Pak Joko menyodomi Lhian, waktu yang lama bagi Lhian yang semakin tersiksa itu.
"Eegghh, aakkhh, oohh".
Dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok-sodok, Lhian merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Pak Joko. Saat Lhian berteriak, kembali Pak Dono mendorong penisnya ke dalam mulut Lhian, sehingga kini Lhian hanya dapat mengeluarkan suara erangan yang tertahan, karena mulutnya penuh oleh penis Pak Dono. Tubuh Lhian terdorong ke depan dan ke belakang mengikuti gerakan penis di anus dan mulutnya.

Kedua payudara Lhian yang menggantung dengan indah bergoyang-goyang karena gerakan tubuhnya diremas-remas dengan brutal oleh Pak Joko. Lhian berteriak-teriak kesakitan.
"Aakkhh, oohh, oouhh, aammp, uunn, pakk"
Keadaan ini terus berlangsung sampai akhirnya Pak Joko dan Pak Dono mencapai klimaks hampir secara bersamaan. Pak Joko yang sudah tidak tahan karena seret dan panasnya dubur Lhian menyemburkan spermanya di dalam anus Lhian, Lhian merasakan perih pada rongga duburnya yang lecet tersiram sperma Pak Joko. Dan Pak Dono menyemburkan spermanya di dalam mulut Lhian. Lhian terpaksa menelan semua sperma Pak Dono agar dia dapat tetap bernafas. Lhian hampir muntah merasakan sperma itu masuk ke dalam kerongkongannya, namun tidak dapat karena penis Pak Dono masih berada di dalam mulutnya. Lhian membiarkan saja penis Pak Dono berada di dalam mulutnya untuk beberapa saat sampai Pak Dono menarik keluar penisnya dari mulut Lhian. Sebagian sisi sperma Pak Dono yang tidak tertelan meluber keluar bercampur dengan air liur Lhian.

Kemudian Pak Dono memaksa Lhian untuk membersihkan penisnya dari sperma dengan cara menjilatinya. Pak Joko juga masih membiarkan penisnya di dalam anus Lhian dan sesekali masih menggerak-gerakkan penisnya di dalam anus Lhian, mencoba untuk merasakan kenikmatan yang lebih banyak. Lhian dapat merasakan kehangatan sperma di dalam lubang anusnya yang secara perlahan mengalir keluar dari lubang anusnya. Perih yang luar biasa dirasakan lobang pantat Lhian yang lecet-lecet.

Setelah Pak Joko mencabut penisnya dari anus Lhian, lalu Pak Dion mengambil kursi dan duduk di atasnya. Dia menarik Lhian mendekati dan mengangkat tubuh Lhian lalu memposisikan mengangkangi penisnya menghadap dirinya. Pak Dion kemudian mengarahkan penisnya ke vagina Lhian, dan kemudian memaksa Lhian untuk duduk di atas pangkuannya, sehingga seluruh penis Pak Dion langsung masuk ke dalam vagina Lhian.
"Aohh, oouuhh, sakii..itt, udahh, Paak, ngiluu paakk", Lhian mengerang kesakitan.
Setelah itu, Lhian dipaksa bergerak naik turun, sementara Pak Dion meremas dan menjilati kedua payudara dan puting susu Lhian. Sesekali Pak Dion menyuruh Lhian untuk menghentikan gerakannya untuk menahan orgasmenya. Pak Dion dapat merasakan vagina Lhian berdenyut-denyut seperti memijat penisnya, dan dia juga dapat merasakan kehangatan vagina Lhian yang sudah basah.

Pak Dion masih belum puas. Dia memiringkan tubuh Lhian lalu mengangkat kaki kanan Lhian ke bahunya dan mulai menyodok-nyodokan penisnya di liang kemaluan Lhian. Lhian menahan sakit bercampur nikmat itu dengan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, wajahnya yang sudah penuh air mata dan memar bekas tamparan itu tidak membuat iba gurunya itu. Pak Dion tanpa kenal ampun berkali-kali menghujamkan senjatanya dengan sepenuh tenaga. Temannya yang gendut itu juga menjilati payudara Lhian yang bergoyang-goyang akibat irama pinggul Pak Dion, lidahnya bermain-main di ujung putingnya yang sudah sangat keras. Pak Dion tidak dapat bertahan lama, karena dia sudah sangat terangsang sebelumnya ketika melihat Lhian diperkosa oleh para rekannya, sehingga dia langsung memuncratkan spermanya ke dalam vagina Lhian. Lhian kembali merasakan kehangatan yang mengalir di dalam vaginanya.

Selanjutnya, Pak Gatot yang mengambil giliran untuk memperkosa Lhian. Dia menarik Lhian dari pangkuan Pak Dion, kemudian dia sendiri tidur telentang di lantai. Lhian disuruh untuk berlutut dengan kaki mengangkang di atas penis Pak Gatot. Kemudian secara kasar Pak Gatot menarik pantat Lhian turun, sehingga vagina Lhian langsung terhunjam oleh penis Pak Gatot yang sudah berdiri keras.
"Akkhh, aakkhh, oogghh,". teriakan memilukan keluar dari mulut Lhian.
Penis Pak Gatot, yang jauh lebih besar daripada penis-penis sebelumnya meskipun tubuhnya pendek yang memasuki vagina Lhian, masuk semuanya ke dalam vagina Lhian, membuat Lhian kembali merasakan kesakitan karena ada benda keras yang masuk jauh ke dalam vaginanya. Lhian merasa vaginanya dikoyak-koyak oleh penis Pak Gatot. Pak Gatot memaksa Lhian untuk terus menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga penis Pak Gatot dapat bergerak keluar masuk vagina Lhian dengan leluasa. Kedua Payudara Lhian besar menggantung bebas, naik turun seirama tubuhnya.

Kemudian Pak Gatot menjepit kedua puting susu Lhian dan menariknya ke arah dadanya, sehingga kini payudara Lhian berhimpit dengan dada Pak Gatot. Pak Gatot benar-benar terangsang saat merasakan kedua payudara Lhian yang kenyal dan hangat menempel rapat ke dadanya. Melihat posisi seperti itu, Pak Joko melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk punggung dan bongkahan pantat Lhian beberapa kali.
"Akkhh, aakhh, damn, shitt", Lhian kembali merasakan perih luar biasa pada punggung, pantat, dan pahanya.
Cambukan Pak Joko sangat keras sehingga membuat garis lurus merah di kulit punggung pantat, dan paha Lhian.

Walaupun cambukan itu tidak terlalu keras, namun Lhian tetap merasakan perih dan panas di punggung dan pantatnya, sehingga dia berhenti menggerakkan pinggulnya. Merasakan bahwa gerakan Lhian terhenti, Pak Gatot marah. Kemudian dia mencengkeram kedua belah pantat Lhian dengan tangannya, dan memaksanya bergerak naik turun sampai akhirnya Lhian menggerakkan sendiri pantatnya naik turun secara refleks. Pak Gatot mencengkram pinggul Lhian, lalu membuat goyangan memutar sehingga ia merasakan sensasi luar biasa dengan goyangan mengebor Lhian itu.
"Oohh, sshh, shh", Pak Gatot mendesah kenikmatan, sambil merasakan pantat Lhian yang empuk basah menduduki selangkanganya.

Ketika Pak Gatot hampir mencapai klimaks, dia memeluk Lhian dan berguling, sehingga posisi mereka kini bertukar, Lhian tidur di bawah dan Pak Gatot di atasnya. Sambil mencium bibir Lhian dengan sangat bernafsu dan meremas payudara Lhian, Pak Gatot terus menggenjot vagina Lhian. Tidak lama kemudian gerakan Pak Gatot terhenti. Pak Gatot mencabut penisnya keluar dari vagina Lhian dan segera menyemprotkan spermanya di sekitar bibir vagina Lhian. Kemudian dia menarik tangan kanan Lhian dan memaksa Lhian untuk meratakan sperma yang ada di sekitar vaginanya dengan tangannya sendiri.

Setelah itu Pak Heru, guru kimianya maju mengambil giliran memperkosa vagina Lhian. Ia mengangkat kedua kaki Lhian dan menyandarkannya diatas bahunya, Pak Heru menempelkan kepala penisnya di mulut vagina Lhian. Dengan kasar Pak Heru menyodokkan Penisnya dengan keras kedalam liang peranakan Lhian. Lalu ia mulai menggenjotnya. Hampir sepuluh menit Pak Heru memompa vagina Lhian dengan kasar, membuat vagina Lhian semakin terasa licin dan longgar. Sebelum mencapai puncaknya, Pak Heru mencabut penisnya dari vagina Lhian dan memaksa Lhian untuk membuka mulutnya lebar-lebar untuk menampung spermanya. Setelah itu, Pak Heru memaksa Lhian untuk berkumur dengan spermanya dan kemudian menelannya. Semua orang disitu tertawa senang melihat itu, sementara Lhian menahan jijik dan rasa malu yang luar biasa karena diperlakukan dengan hina seperti itu. Kini wajah Lhian terlihat mBLenger oleh sperma milik Pak Heru.

Semua posisi yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan oleh para Guru Lhian terhadap tubuh Lhian. Kali ini Lhian tidak kuat lagi menahan orgasmenya yang ke 20, dan dia mengalami orgasme hebat, namun tidak sehebat yang pertama. Cairan Vaginanya sudah mulai habis. Rongga vaginanya mulai mengering, karena cairan vaginanya sudah hampir habis dkeluarkan. Lhian merasakan sakit luar biasa pada rongga vaginanya. Ditambah penis para gurunya yang tak henti-hentinya menyodok dan menggesek rongga vaginanya yang kering, sehingga membuat rongga vaginanya lecet dan sobek. Hanya darah dari luka di rongga vaginanya lah yang membasahi daging kemaluannya dan burung yang tengah bersarang didalamnya.

Setelah delapan gurunya selesai memperkosa dirinya untuk kesekian kalinya, Lhian akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang menyerang seluruh tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah payudaranya. Lhian telah diperkosa secara habis-habisan selama empat jam lebih oleh gurunya sendiri. Dan semua kejadian itu direkam oleh Pak Bambang.

lebih-lebih ketika posisi kedua tangan Lhian yang terikat digantung keatas. Pak Andi menjilati dan menciumi ketik Lhian.
"Mmuuahh, ketek lo montok banget sih, rasanya asin tapi gurih dan baunya haruumm"
Liur Pak Andi membasahi ketiak Lhian. Lhian kembali disetubuhi dari 2 arah tentu saja lubang anus dan vaginanya. Lhian kini hanya bisa menggigit bibir sambil kakinya menendang-nendang ke segala arah, sambil sesekali seperti orang mengejan.
"Ouughh, arrkhh, ouhh, udah paa..ak perih, sakiitt, ouughh, aa, akh"
Lhian terus berontak seperti orang kesetanan. Karena dubur Lhian mulai mengering, Pak Andi kembali membasahi dubur Lhian dan batang penisnya sendiri dengan minyak goreng agar licin. Pak Andi menyodomi Lhian untuk ke 4 kalinya. Dilanjutkan dengan Pak Joko lagi, yang senang sekali main sodomi. Apalagi dapat pantat semontok pantat Lhian, ia semakin bernafsu menghancurkan anus Lhian (Anal Destruction).

Kemudian mereka kembali menelentangkan Lhian di lantai, lalu mereka maju semua mencari bagian-bagian tubuh Lhian yang bisa di gunakan untuk memuaskan penis mereka. Pak Joko memasukkan penisnya ke dalam mulut Lhian, dan memaksa mengulumnya. Pak Bambang menyarangkan Penisnya ke dalam memek Lhian yang berdarah-darah. Pak Andi melesakkan penisnya yang super besar dan panjang itu ke dalam lobang pantat Lhian yang sudah hancur. Pak Gatot menjepitkan penisnya di antara belahan payudara Lhian, kemudian menggosok-gosoknya sambil memelintir dan menarik puting susu Lhian yang coklat mungil dan membengkak. Pak Dono menaruh penisnya di tengah-tengah ketiak kanan Lhian yang gemuk putih dengan beberapa helai rambutnya, lalu menjepitnya dan memaju mundurkan penisnya di dalam jepitan ketiak Lhian. Sedangkan Pak Budi melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pak Dono dengan Menjepitkan penisnya ke ketiak Lhian yang sebelah kiri. Sedangkan Pak Heru Meraih tangan kanan Lhian, kemudian memaksa tangannya mencengkram penisnya lalu membantu tangan Lhian untuk mengocoknya. Yang terakhir yaitu Pak Dion, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Pak Heru dengan tangan Kiri Lhian.

Akhirnya Lhian yang sudah tidak kuatpun pingsan, dengan Vagina dan anusnya yang dalam keadaan rusak parah, dan terus mengeluarkan darah, sisa sperma, dan sisa cairan vagina dan duburnya. Kedua payudaranya bengkak memerah dan lecet-lecet, puting susunya yang coklat mungil sobek. Darah dan sperma berceceran dimana-mana. Sudah puas para guru tersebut, mereka membersihkan diri lalu meninggalkan tubuh Lhian yang bugil dan berlepotan darah dan sperma dalam keadaan pingsan.

******

Setelah para guru Lhian pergi, muncullah beberapa siswa pria di sekolah Lhian yang diam-diam mengikuti gurunya. Ketika menemui tubuh Lhian yang pingsan dalam keadaan telanjang bulat. Mereka mulai memperkosa tubuh Lhian yang masih tidak sadar. Satu diantara mereka menelepon teman-temannya di sekolah. Sekitar 20 menit kemudian datanglah sekitar 40 siswa laki-laki di sekolah Lhian. Lalu mereka mulai menikmati tubuh Lhian secara bergantian ataupun bersama-sama. Ketika sadar, Lhian hanya bisa teriak dan memohon, ia tidak punya cukup tenaga untuk melawan. Ia hanya bisa menyaksikan dirinya diperkosa oleh teman-temannya sendiri. Teman-temannya yang sudah lama bermimpi bisa menyetubuhi Lhian, akhirnya tercapai juga.

Setelah puas semua, mereka meninggalkan tubuh Lhian yang pingsan lagi untuk kesekian kalinya itu. Liang vaginanya sudah menganga sangat lebar, merah membengkak, dan sudah tidak berbentuk lagi. Dengan darah segar yang terus mengalir dari lobang vaginanya. Lobang duburnya pun sudah sangat lebar dengan keadaan rusak parah dengan bentuk berantakan, dengan darah, sperma dan cairan kekuningan yang keluar terus menerus dari liang duburnya. Dan dari sela-sela bibirnya mengalir sperma dan air liur dari dalam mulutnya. Wajahnya tetap cantik dengan masih mengenakan kacamata selama ia diperkosa. Tetapi menampakkan penderitaan yang begitu berat.

Karena merasa kasihan, beberapa temannya mengantarkan Lhian ke kostnya. Lhian selalu merasakan perih dan rasa sakit yang teramat sangat ketika ia harus buang air kecil. Karena liang pengeluaran air seninya masih bengkak dan agak tertutup lipatan daging mulut vaginanya yang sobek. Dan juga ketika buang air besar, karena lobang duburnya membuka sangat lebar dan belum mau menutup kembali. Jadi setiap saat, anusnya mengeluarkan kotorannya tanpa Lhian sadari.

******

Setelah peristiwa tersebut, Lhian terus mengunci diri dalam kamar dan diam membisu ketika ditanyai oleh teman ataupun keluarganya. Beberapa hari kemudian Lhian pulang ke asalnya, dan tinggal dengan ortunya. Lhian mengalami shock berat, dan tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Sementara para guru yang memperkosa Lhian, bebas beraktivitas karena Lhian tidak berani memberi kesaksian. Lhian terperangkap dalam trauma perkosaan itu untuk selama hidupnya. Sedangkan para guru yang memperkosanya masih sibuk mencari mangsa siswinya yang lain.


My Prince in Dreamland

karya Firdausi F.L

“Uuh…!” keluh Karin seraya membanting tasnya yang lengket karena ditempeli permen karet tadi pagi.
“Gara – gara Kak Radith lagi, Kak?” Tanya Nayla, adik Karin, yang juga masih mengenakan seragam putih birunya. “Sabar ajah, deh, Kak! Satu setengah tahun lagi lulus…”
“Satu setengah tahun itu masih lama, tau!” seru Karin yang masih cemberut, seraya meraih laptopnya.
“Pasti mau chatting sama ‘Sang Pangeran’ itu lagi!” tebak Nayla. Karin hanya tersenyum. “Siapa, sih, Kak, Prince Eric itu sebenarnya? Kakak masih belum ketemu sama orangnya?” Tanya Nayla lagi.
Karin tersenyum melirik Nayla. “Iya, sampe sekarang kakak emang belum ketemu orangnya. Tapi yang jelas, dia asyik!”
               Sekarang ia memang punya agenda baru setiap pulang sekolah. Yaitu chatting dengan teman barunya, Prince Eric. Menurut Karin, orang yang menamai akun Facebooknya dengan nama Prince Eric itu memang orang yang asyik diajak mengobrol. Tak jarang Karin juga curhat kepadanya. Sejak mengenal Prince Eric, bebannya sepulang sekolah serasa berkurang. Ia jadi lumayan bisa melupakan kekesalannya kepada Radith, teman sekolahnya yang super jahil itu.
               Karin mengenal Prince Eric dari sebuah grup di Facebook yang bernama It’s Dreamland. Grup orang – orang yang menyukai cerita fiksi. Di sana hampir semua member menamai akun Facebooknya dengan nama tokoh favoritnya. Termasuk ia yang menamai akunnya Princess Sugarplum, putri di cerita Nutcracker. Tanpa disangka, ia juga berkenalan dengan seseorang yang menamai akunnya Prince Eric, pangeran di cerita Nutcracker.
“Yippie!” seru Karin tiba – tiba, yang membuat Nayla menjatuhkan novel yang dibacanya.
“Ada apa, sih, Kak?! Bikin orang jantungan ajah!” sungut Nayla.
“Ada kabar bagus, Nay! Dia ngajakin ketemuan!”
“Siapa? Oh… ‘Sang Pangeran’, ya?”
Karin hanya tersenyum. “Katanya, dia ngajakin ketemuan di taman kota, besok jam 5 sore. Dia akan bawa kado special…”
“Ciie…jangan – jangan dia bakal langsung nembak kakak besok! Di taman, waktu pesta kembang api malam – malam…So Sweet!”
“Iih…apaan, sih?!”
               Sampai malam, Karin terus memikirkan hal itu. ia benar – benar penasaran, siapakah Prince Eric yang selama ini dikenalnya itu? Bahkan, sampai esoknya di sekolah ia masih memikirkan hal tersebut. Karin jadi tak terlalu konsen ke pelajaran. Tapi anehnya, Radith, yang biasanya tak pernah absen untuk mengisenginya, kini sama sekali tak bertingkah.
               Waktu yang dinantikan pun akhirnya tiba. Tepat pukul 04.30 sore, Karin langsung berangkat dari rumahnya.
“Ciie…yang mau ketemu sama si doi!” goda Nayla. Karin hanya melirik adiknya, seraya tersenyum, tanda mengiyakan.
               Dua puluh menit kemudian, Karin telah sampai di taman. Setelah selesai memarkirkan motor, tiba – tiba seseorang menabraknya. Karin terkejut. Ia tambah terkejut lagi ketika tahu siapa orang yang telah menabraknya itu.
“Karin?!”
“Radith?!”
“Ngapain lu ada di sini?”
“Harusnya gue yang nanya! Kenapa, sih, lu harus selalu ada di mana – mana dalam hidup gue?! Nggak puas apa lu, tiap hari ngerjain gua di sekolah?!” seru Karin sewot dan langsung berlari meninggalkan Radith. Radith tertegun mendengar bentakan Karin. Tapi, ia tak berkata apa – apa.
               Karin segera menuju sebuah bangku yang berada di dekat air mancur di tengah taman. Tapi, tak ada seorangpun di sana, selain anak – anak yang sedang bermain gelembung sabun.
“Katanya, dia akan datang dengan pakaian serba biru, pukul 5 tepat… Tapi, sekarang, kan, masih jam 5 kurang 5 menit. Aku tunggu saja lagi…” ujar Karin dalam hati. Lima menit kemudian, seseorang dengan pakaian serba biru datang dan menghampirinya. Tapi Karin malah jadi cemberut. Ia yakin betul itu bukan yg ditunggunya. Yups! Sebab orang itu adalah….Radith!
“Ngapain, lu ngikutin gua ke sini, juga?!” seru Karin sewot.
“Siapa yang ngikutin lu, gua janjian sama seseorang di sini! Elu kali, yang mata – matain gua!”
“Diih…gua juga lagi janjian sama seseorang di sini! Gua mau ketemu sama pangeran gua, Prince Eric, namanya!”
“Haa?! Jadi…elu yang pake akun FB Princess Sugarplum itu?”
“Ha?! Lu tau dari mana? Apa jangan – jangan lu…”
“Jadi, selama ini?!” seru keduanya kompak.
“Huh! Jadi Princess gua itu elu?!”
“Idih…siapa juga yg mau jadi Princess lu! Jangan harap!” seru Karin seraya langsung meninggalkan Radith.
               Sejak itu pun Karin tak pernah lagi chatting dengan Radith yang selama ini dikenalnya dengan Prince Eric itu. Radith pun tak pernah mengisenginya lagi di sekolah. Namun lama – kelamaan, ada rasa tidak nyaman juga yang timbul di hati Karin. Ia merasa kehilangan sekaligus dua sosok yang selama ini membuat hidupnya lebih berwarna. Sosok yang selalu menjadi tempat curhatannya, dan penghibur saat dia sedih, serta sosok yang selalu harinya di sekolah menjadi lebih seru, meski sering kali membuatnya jengkel pula.
“Prince Eric hanyalah pangeran dalam dongeng. Kisah bahagia Prince Eric dan Princess Sugarplum hanyalah dalam dongeng pula. Dan dongeng itu tidak nyata! Dongeng hanyalah fiksi!” Itulah yang selalu diucapkan Karin saat ia merindukan keadaan yang dulu lagi…
               Sudah lebih dari dua minggu Radith tidak mengisengi Karin lagi di sekolah. Mereka pun tak pernah saling menyapa. Sampai suatu hari, saat jam istirahat, Karin menemukan sebuah kotak hadiah kecil di kolong mejanya.
“Apa ini kado iseng dari Radith lagi?” piker Karin dalam hati. Dengan hati – hati, Karin pun membuka kado tersebut. Dan ternyata……
               Karin terbelalak melihat isinya. Ternyata bukan katak atau mainan ular seperti biasanya. Karin menemukan sebuah kartu bergambar hati yang dihiasi glitter di dalamnya. Indah sekali! Ia juga menemukan selembar kertas bergambar kolam ikan di sebuah taman. Di pojok bawah kertas tersebut, terdapat tanda tangan pengirimnya…Radith!
               Karin langsung mengerti maksud hadiah itu. Ia pun segera menuju halaman belakang sekolah. Di sana ada sebuah kolam ikan yang cantik, dan Karin pun menuju ke sana. Seperti dugaannya, Radith telah menantinya di sana.
“Karin…,” ucap Radith, “Elu suka hadiah dari gua?” Tanya Radith agak gugup.
               Karin hanya tersenyum, dan wajahnya memerah.
“Karin…Sorry kalo selama ini gua sering ngisengin lu. Tapi, sekarang gua baru sadar, kalo ternyata…gua…gua suka sama lu. Lu mau nggak, jadi pacar gua?” Tanya Radith penuh harap.
“Radith, sebenernya…gua juga baru sadar, kalo ternyata…gua …suka sama lu juga…,” ucap Karin malu – malu.
“Jadi, lu mau jadi pacar gua, kan?” kejar Radith, tak sabar.
               Karin mengangguk. Dan entah kapan datangnya, tiba – tiba seluruh teman – teman mereka bertepuk tangan dan bersorak meriah.
               Akhirnya, sang Putri dan Pangeran pun bersatu. Dan terbukti, kisah Pangeran dan Putri yang Happy Ending bukan hanya ada di dongeng!


17 Dream

A
ww... pegal sekali badan ini. Pusing sekali kepala ini. Hanya rasa sakit yang terasa di tubuh ini. Tapi semua rasa sakit itu menghilang seketika ketika aku melihat keadaan di sekitarku. Sangat membingungkan. Di sekelilingku hanya terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi dan yang terdengar hanyalah suara kicauan burung dan riakan semak belukar yang diterpa angin. Sebuah tempat yang sangat tidak kukenali. Tapi kupikir ini hanyalah perasaanku saja karena rasa pusing yang terus menyerang kepala ini.
Ternyata bukan, semua ini bukanlah ilusi. Aku sangat yakin kalau aku sedang berada di sebuah hutan. Tapi bagaimana bisa? Aku ini adalah orang yang sangat anti dengan alam dan aku sama sekali tidak pernah ingat bahwa aku ingin atau berniat pergi ke tempat seperti ini. Apalagi tanpa membawa bekal apapun dan mengenakan pakaian yang sangat tak lazim untuk dipakai menjelajah. Hanya ada sebuah handphone dan jam tangan kesayangan yang ada.
Aku terus berjalan menyusuri seramnya hutan untuk mencari sumber air terdekat. Haus dan lapar sudah tidak bisa tertahankan lagi. Ya meskipun dengan sangat terpaksa tapi ini lebih baik daripada aku mati konyol di sini. Akhirnya kutemukan sebuah sungai dan mata air yang mengalir dengan indahnya. Tanpa pikir panjang aku pun langsung meminumnya dan juga mencuci muka agar pikiran menjadi lebih fresh.
Setelah pikiran menjadi fresh kembali, aku mencoba mengecek lokasi di mana aku berada dengan GPS. Tapi sungguh mengejutkan, GPS-ku tidak bisa menyebutkan dan melacak keberadaanku. Kok bisa? Apa GPS-ku rusak? Atau aku sedang berada di tempat terlarang yang tidak terjangkau GPS? Setelah aku cek, tidak ada masalah sama sekali dengan GPS-nya. Pulsa mencukupi, sinyal penuh, tapi kenapa lokasiku tidak terlacak? Atau aku sebenarnya sedang berada di negeri dongeng? Duh pikiranku makin ngawur saja.
Aku tidak kehabisan akal, kucoba menghubungi orang tua, teman, dan saudara. Yups teleponnya nyambung dan mereka angkat, tapi... tidak terdengar suara apapun. Hanya hening yang ada. Kucoba membuka situs jejaring sosial, tapi anehnya tidak ada satu pun situs yang bisa dibuka. Duh kacau nih. Aku termasuk orang yang gaptek akan masalah internet jadi aku tidak bisa melacak masalahnya lebih lanjut. Hanya kata “aneh” yang ada di kepala ini.

***_____***
Daripada bingung, aku teruskan aja perjalanan tidak pasti ini. Aku akan terus berjalan lurus dan jika terus berjalan lurus pasti aku akan menemukan jalan keluar. Hutan ini terlalu menakutkan untuk orang sepenakut aku. Terlebih lagi jika ada binatang buas yang tiba-tiba menyerang. Ah... sudah-sudah jangan berpikir yang enggak-enggak. Positive thinking.
Huuaa.... mencari jalan keluar tidak semudah yang aku pikirkan. Aku sudah mulai muak dengan hal ini. Aku mulai mengeluh dan marah-marah sendiri sampai-sampai aku menabrak sebuah pohon saking sudah ‘puyengnya’ kepala ini. Spontan aku tiba-tiba marah-marah pada pohon itu seperti orang gila. Tiba-tiba terdengar suara raungan harimau. Aku terdiam sejenak kemudian kembali marah-marah dengan memukul-mukul pohon itu. Suara raungan harimau pun kembali terdengar dan lebih keras dan lebih lama seolah-olah dia tidak suka dengan apa yang kulakukan. Aku berhenti marah-marah dan karena takut, tanpa pikir panjang aku langsung berlari menjauh dari pohon itu.
Tanpa disangka dan diduga, ketika berlari-lari aku tiba-tiba sampai di sebuah gubuk. Sejenak aku melihat gubuk kecil itu. Setelah kupikir aman, aku langsung memasuki gubuk itu. Pintunya tidak dikunci. Di dalamnya terdapat sebuah ruang makan, kamar, dan dapur. Mungkin di gubuk ini ada penghuninya. Tapi karena rasa lapar semakin menjadi-jadi, aku langsung memakan makanan yang ada dapur. Ya meskipun tidak semewah makananku sehari-hari, tapi mau bagaimana lagi, daripada aku mati kelaparan di hutan aneh ini.
Ahh... lega perut ini sudah kenyang. Kini rasa kantuk yang melanda karena lelah setelah berlari-lari di hutan aneh ini. Aku pun langsung pergi ke kamar. Busyet... kamarnya Berantakan sekali. Pikiranku langsung tertuju pada satu kata yaitu “lelaki”. Kamar siapa lagi yang Berantakan dan bau begini, pasti kamar laki-laki. Aku paling benci sama yang namanya lelaki. Bagiku semua lelaki di dunia ini sama saja. Bisanya cuma bermain-main dengan wanita. Aku pikir dengan sedikit membereskan kamar ini, aku akan menghilangkan bau lelaki yang ada di kamar ini. Rasa kantuk kutekan sejenak untuk mengubah aroma kamar ini. Setelah itu aku tidur.

***_____***

Prutt.... tidurku yang nyenyak tiba-tiba menghilang karena ada seseorang menyiramku. Setelah kulihat, ternyata dia adalah laki-laki.
Keyla : Aww... kenapa kau menyiramku, laki-laki?
Ray : Kenapa? Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau dan kenapa kau masuk istana orang sembarangan?
Keyla : Hah... istana? Gubuk kecil ini kamu bilang istana?
Ray : Gak usah ngalihin pembicaraan. Sekarang jawab aku. Siapa kamu dan mau apa kamu ke sini?
Keyla : Oke... aku akan jawab. Tunggu sebentar!
Aku kemudian bangun dari tempat tidur kemudian berjalan menuju ruang makan sambil mendongakkan kepala. Aku kemudian berduduk santai di sebuah kursi panjang pada ruang makan itu.
Ray : Mengapa kau malah diam di sana? Cepat jawab pertanyaanku.!!!
Keyla : Jangan membentakku seperti itu. Namaku Keyla. Aku sedang tersesat di hutan ini. Aku tidak tahu tiba-tiba ada di sini. Hutan ini juga sangat aneh. Sebenarnya di mana ini? Apa kau tahu jalan keluar dari sini?
Ray : Di sini adalah Jakarta. Tidak ada jalan keluar dari hutan ini.
Keyla : Jakarta? Jangan bercanda! Jakarta itu bukan hutan, melainkan perkotaan yang banyak gedung tingginya.
Ray : Terserah kau mau percaya atau tidak.
..... diam sejenak .....
Keyla : Apa benar-benar tidak ada jalan keluar dari hutan ini?
Ray : Ya, begitu lah.
Keyla : Terus kalau aku mau pulang gimana?
Ray : Entahlah.
Keyla : Jawaban macam apa itu? Apa kau itu tidak punya perasaan, dasar laki-laki!!?
Ray : Kalau tidak tahu ya mau gimana lagi??
Kemudian teman satu gubuk Ray yaitu Joni kembali dengan membawa buah-buahan dan daging mentah hasil berburu di hutan.
Joni : Aku pulang. Heh..?? siapa wanita ini, Ray?
Keyla : Ray?? Mengapa laki-laki primitif seperti kalian memiliki nama yang bagus?
Ray : Dia itu penyusup, Joni.
Keyla : Sudah kubilang aku ini tersesat, masih dibilang penyusup. Dasar laki-laki tak punya perasaan!!
Joni : Tersesat? Oh begitu.
Keyla : Lagi-lagi jawaban aneh. Hutan ini sama penghuninya sama saja. Umm... tunggu dulu, sepertinya... (pembicaraannya dipotong Ray)
Ray : Udah deh... kamu kan lagi tersesat, tapi meskipun kita dari kecil tinggal di sini. Tapi kita benar-benar gak tahu jalan keluar dari hutan ini. Kalau ingin mencari jalannya sendiri, silahkan. Tapi kita gak bisa bantu. Kita punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Keyla : Oke deh.
Dengan rasa kesal pun aku akhirnya keluar dari gubuk para lelaki itu. Tapi ada yang membuatku bingung. Aku merasa pernah melihat mereka tapi entah di mana. Aku mencoba mengeceknya di HP-ku. Tapi ternyata tidak ada satu pun foto mereka. Ah mungkin ini hanya perasaanku saja.
Sementara di gubuk, Ray dan Joni melakukan rutinitas mereka seperti biasa yaitu mencari makanan di hutan, memasak, makan, dan beres-beres.

***_____***

Menakutkan... hutan ini terlalu menakutkan untuk orang manja seperti ku. Aku memutuskan untuk kembali lagi ke gubuk Ray. Tentu ketika aku ke sana mereka tidak langsung menerimaku begitu saja.
Ray akhirnya menerimaku ke ‘rumah kecilnya’. Kali ini aku sedikit memperbaiki sikapku meskipun sebenarnya terpaksa. Aku membantu para laki-laki itu membereskan rumah mereka. Mau bagaimana lagi, sekarang inilah satu-satunya cara agar aku bisa selamat dari teror hutan ini.
Hari sudah mulai sore. Aku memutuskan untuk membuka HP  dan ingin mengubur kebosananku. Tapi... aku menemukan hal yang sangat aneh melebihi keanehan hutan ini. Waktu berjalan mundur. Tadi saat aku sedang di hutan, waktu menunjukkan jam 10.30, tapi kenapa sekarang waktu menunjukkan pukul 8 pagi? Aku mencoba bertanya pada Ray dan Joni, tapi jawaban mereka lebih mengejutkan, “Aku tidak tahu. Aku terbiasa menjalani waktu seperti ini.”... Hah..??? kurasa aku sedang berada di dalam sebuah dongeng.

***_____***

Satu hari telah berlalu. Aku melakukan sesuatu yang fatal dan tidak seharusnya kulakukan. Ketika aku membereskan kamar Ray, aku tidak sengaja memecahkan barang kesayangannya. Ray tidak mengerti meskipun aku bilang berkali-kali kalau aku ini tidak sengaja melakukannya. Ya... seperti yang kuperkirakan. Ray dan Joni melakukan sesuatu yang mengerikan padaku. Dengan alasan agar aku tidak mengganggu mereka lagi, aku diikat di sebuah pohon di tengah hutan. Kejam sekali. Begini kah sebenarnya sifat laki-laki? Aku mencoba berteriak-teriak. Tapi apa guna? Tidak akan ada yang menolongku di hutan menyeramkan ini. Aku kelelahan. Aku akhirnya ketiduran dalam keadaan terikat.
Huuaaahh.... aku terbangun di sebuah kasur. Aku terkejut melihat sesosok wanita membawa pisau. Pikiranku langsung tertuju pada pembunuh berdarah dingin. Sontak aku langsung lompat ke pojok kasur. Ternyata aku salah. Setelah mendengar penjelasannya, ternyata dia adalah orang yang menolongku saat diikat oleh Ray dan Joni. Aku mendengar penjelasan mereka. Kami saling curhat satu sama lain. Ternyata sungguh kelam kehidupan mereka. Mereka lebih memilih tinggal di hutan seram ini daripada hidup di rumah mewah bersama keluarga mereka. Sekali lagi aku merasa pernah melihat mereka berdua. Tapi kupikir ini hanyalah perasaanku belaka.
Namanya Kalifa. Orang tuanya sangat materialistis. Bagi mereka, uang dan harta adalah segalanya. Kalifa kabur karena mendengar bahwa orang tuanya berniat menjual dia pada salah satu keluarga bangsawan demi mendapatkan harta. Huummppphh.... kupikir aku harus bersyukur dengan kehidupanku sekarang.
Yang satunya lagi namanya Lisa. Dia merupakan teman Kalifa. Sama-sama keluarga dari orang kaya. Dia orangnya ingin kebebasan dan tidak ingin terikat aturan. Orang tuanya selalu mengatur dan menentukan apa pun mengenai Lisa dengan alasan itulah yang terbaik baginya. Padahal keinginannya tidak semuanya sama dengan yang diinginkan orang tuanya. Dia memutuskan untuk kabur bersama Kalifa. Hummphh... aku harus bersyukur lagi.
Aku bertanya apakah mereka tahu cara keluar dari hutan ini karena mereka semua tidak berasal dari hutan ini. Tapi mereka menjawab bahwa mereka tidak tahu jalan keluar dari hutan sini dan tidak mau tahu jalan keluar dari hutan sini. Mereka secara kebetulan kabur ke hutan ini. Huh... susahnya mencari informasi ini.
Kini giliran mereka yang bertanya padaku. Aku hanya bercerita bahwa aku ini tersesat dan bertemu dua orang kejam. Aku hanya bilang bahwa aku itu membenci laki-laki. Kalifa bertanya padaku alasannya. Tapi aku tidak menjawab banyak. Dia akhirnya mengingatkanku agar tidak harus membenci orang atas hal seperti itu. Dia bilang tidak semua laki-laki seperti itu. Dia memberikanku seorang contoh yang membuatku tersadar atas kebodohanku ini. Dia mengingatkanku akan banyaknya laki-laki di dunia ini yang telah berprestasi dan menjadi pahlawan bahkan untuk kaum perempuan. Akhirnya berkat sarannya, aku memutuskan untuk meminta maaf pada Ray dan Joni besok.

***_____***

Hari mulai pagi. Aku berencana membuat kejutan untuk Ray dan Joni. Ketika hari sudah agak siang. Aku pergi ‘menyusup’ ke rumah kecil Ray. Aku menyulap rumahnya menjadi sedemikian rupa dan aku juga menyiapkan makanan yang enak untuk dia. Tentunya dengan bantuan dua temanku, yakni Kalifa dan Lisa.
Jrenk... ketika mereka datang dengan membawa hasil hutan seperti biasa, seperti yang kuduga mereka terlihat senang dan berbinar-binar melihat kejutan dariku. Akhirnya aku menunjukkan diriku dan aku meminta maaf pada mereka. Ray tidak memaafkanku begitu saja. Mungkin karena teringat dengan barang yang kupecahkan itu. Jreng.... inilah sebenarnya kejutan dari ku. Aku memperbaiki barangnya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti utuh kembali. Ray diam sejenak sambil menundukkan kepala. Tapi kemudian tiba-tiba dia berwajah senang dan ingin merangkulku. Sontak aku langsung menendangnya. Argghh... sifatnya masih saja menyebalkan. Kalifa dan Lisa kemudian menunjukkan diri mereka pada Ray dan Joni. Tidak kusangka ternyata mereka telah kenal sebelumnya. Meskipun sudah hampir 6 bulan tidak bertemu lagi.
Hari ini, kami berlima melakukan tukar cawan sebagai tanda persahabatan. Sebagai simbolisasi, kami juga mengikatkan pita pada lengan kiri kami. Mulai hari ini, kami berlima menjadi sahabat dan menjalani hari-hari dengan penuh ceria. Hutan mengerikan ini berubah menjadi hutan keceriaan. Keanehan-keanehan ini tidak lagi kupikirkan. Aku seakan lupa dengan kejadian yang menimpaku saat ini.

***_____***

Suatu hari saat aku pergi ke hutan sendirian, seorang sosok misterius menghampiriku dengan pakaian yang agak aneh. Dia menjelaskan padaku mengenai waktu yang berjalan mundur di sini. Katanya, jarum penunjukan waktu yang tampak sebenarnya adalah kebalikan dari waktu sebenarnya. Sebagai contoh, jika waktu menunjukkan jam 10, maka sebenarnya pada saat itu jam menunjukkan pukul 2. Waktu hanya menunjukkan sama jika menunjuk jam 6 atau 12.Lebih mencengangkannya lagi, dia menunjukkan sebuah peta dan cara keluar dari hutan ini. Aku sangat gembira akan hal ini, tapi aku teringat dengan mereka berempat. Mereka yang menolongku di saat kesusahan di sini.
Aku kemudian menceritakan semuanya pada mereka. Aku bingung dengan semua ini. Memilih dua pilihan yang sangat sulit. Akhirnya mereka memutuskan untuk ikut denganku keluar dari hutan ini, bersama-sama.
Akhirnya kulakukan juga perjalanan ini. Semuanya sudah siap ikut denganku. Kami ikuti petunjuk-petunjuk dari peta satu persatu. Terdapat tiga rintangan. Masing-masing rintangan sangat menguji kekompakan dan persahabatan. Singkat cerita, kami akhirnya berhasil melewati dua rintangan. Benar-benar ujian bagi persahabatan kami.

***_____***

Rintangan terakhir akhirnya sudah di depan mata. Di sini terdapat sebuah “gerbang” (lebih nyatanya mirip) yang diapit oleh dua pohon. Dan siapa yang tidak benar-benar niat keluar dari hutan ini, maka dia tidak akan bisa melewati gerbang itu. Seperti sepele memang dan aku dengan mudah bisa melewati gerbang itu. Tapi, mereka berempat tidak melangkahkan kaki melewati gerbang. Kenapa? Katanya mereka ingin pergi bersama-sama denganku. Mereka bilang katanya mereka memang tidak ingin keluar dari hutan ini. Hutan ini sudah merupakan tempat tinggal bagi mereka. Aku berkata kenapa mereka membohongiku? Mereka hanya menjawab “Kami tidak akan membiarkan sahabat kami berjuang sendirian”. Sungguh aku terharu.
Aku memutuskan untuk kembali bersama sahabatku. Tapi mereka menghentikanku, kata mereka aku harus bersyukur dengan apa yang kupunya sekarang. Aku harus bersyukur karena mempunyai keluarga dan orang tua yang baik. Air mata ini bercucuran tanpa henti. Kemudian aku berteriak, “Jika aku pergi dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengan kalian, apakah aku masih dianggap sahabat oleh kalian?”. Mereka hanya diam kemudian berbalik dan melangkah. Lalu mereka mengangkat tangan kiri mereka dan menunjukkan pita yang merupakan tanda persahabatan kami. Hiks... hiks... kami memang akan menjadi sahabat selamanya. Aku pun menunjukkan tanda persahabatan ini. Aku berteriak, “Kita akan menjadi sahabat selamanya!!”. Cahaya yang sangat terang muncul di depan ku kemudian......

***_____***

Kubuka mataku. Humpphh... ternyata semua ini hanya mimpi. Aku terbangun di tempat tidurku seperti biasanya. Luka saat kujatuh dalam mimpi tadi tapi anehnya juga tampak di alam nyata ini. Apa? Mungkin sebenarnya ini nyata... tapi..... luka ini tampak sedikit berbeda. Dan ternyata ini hanyalah luka saat aku mengigau dan membentur tembok.
Aku berdiri bangun dari kasurku kemudian aku melihat foto Kalifa, Lisa, Ray, Joni, dan aku sendiri dan dalam foto itu juga ada pita yang sama dengan yang dalam mimpi. Pita itu juga tergeletak di samping foto itu. Pikiranku masih kacau karena mimpi aneh tadi. Dan ketika aku keluar kamar.... jreng.....
Kalifa, Lisa, Ray, dan Joni datang sambil mengucapkan ulang tahunku yang ke-17. Akhirnya pikiran ini kembali tenang. Mereka berempat memang sahabatku. Tanda pita persahabatan ini juga memang nyata dan memang tanda persahabatan kami. Apa maksud mimpi tadi di ulang tahunku ini? Apakah ini merupakan pesan dari tuhan agar persahabatan kami selalu terjaga??

THE END


Diposkan oleh Cerita fiksi remaja di 17.47Tidak ada komentar:

UNTUK MU

Siang itu Rania sedang duduk di teras depan, ia duduk di bangku malas nya sambil memegang buku diary nya, dan air mata yang mengalir di mata nya yang indah sangat deras, hidung nya yang putih dan mancung berubah menjadi warna ke merah mudaan. Ia baru saja kehilangan orang yang benar-benar ia sayangi, Rafa orang yanag hampir 1 tahun menemani nya kini pergi meninggalkan nya dan takkan kembali lagi untuk selamanya.

“rafa,, kamu kok tega ninggalin aku,,, kamu kan dah janji gak bakal tinggalin aku..” tangis rania.
“nak udh jangan nangis.. ibu tahu kamu sangat terpukul,,,” sahut ibu nya sambil memeluk rania.
“tapi bu,,, rani bener-bener sayang sama dia bu,, ..” jawab rania sambil terus menangis.
“udah udah,,, sekarang kamu shalat nak, doa kan rafa biar dia disana tenang dan hati mu tenang nak.,,” saran ibunya.
“..............”
Rania tidak menjawab nya lagi, tapi dia langsung masuk ke dalam rumahnya dan masuk ke kamar nya, ia shalat dan mengaji.

KE ESOKAN HARINYA
Tepat pukul 04.30 rania bangun dan langsung mandi dan bersia-siap untuk berangkat kuliah. Pukul 06.00 rania keluar dari kamar nya dan langsung menuju ruang makan. Ia duduk di kursi makan tanpa memakan sarapan yang sudah di sediakan ibunya itu.
“nak sarapan dulu, jangan di liatin aja ntar gak enak roti sama susunya” perintah ibunnya.
“.............”
Rania tidak menjawab, dia langsung saja memakan rotinya. Matanya yan agak bengkak mengisyaratkan selama semalaman ia menangis. Rania tidak menghabiskan sarapan nya itu. Ia langsung meminum susu dan berpamitan kapada ibunya.

“sabar sayang.. kamu pasti bakal dapetin yang lebih...” bisik ibunya ketika rania sudah berjalan jauh.
Setibanya di kampus, rania tidak seceria biasanya, dia menunjukkan muka yang sangat sedih. Ketika sedang berjalan menuju ruang kelas nya ia terhenti sejenak di dekat lapang basket. Ia membayangkan ada rafa disana yang setiap pagi berlatih basket di lapang. Mata rania pun berkaca-kaca dan air matanya pun mengalir. Dia sangat terpukul atas kepergian rafa.
“rania,,, sabar ya.. gua tau e’lo pasti sakit banget...” sahut vania temen dekat nya.
“iya ran, e’lo harus tabah ya,, e’lo jangan nangis, kallo e’lo nangis rafa pasti ikut sedih...” tambah devanya.
“iya...”jawab singkat rania.
“udah lah sekarang kita masuk kelas aja ya,,  bentar lagi pak suryo masuk...” ajak ke dua temen deketnya itu.
Akhirnya rania pun beranjak dari tempatnya dan masuk ke ruang kelas nya, di dalam kelas semua temen nya ikut berduka dan memberi suport pada rania.
Hari-hari rania kini sangat hampa tanpa kehadiran rafa, dia tak seceria dahulu saat ada rafa di dekat nya, kini dia menjadi seorang yang sangat pendiam, dia kini tidak banyak bicara dia hanya melamun dan melamun dan menatap terus foto rafa dan dirinya.
Di rumahnya pun dia tak banyak bicara, setiap dia pulang ke rumah dia langsung masuk kamarnya dia selau mengurung dirinya, hingga suatu hari ibunya menemui rania pingsan di kamar mandi, ibu rania membawa rania ke rumah sakit.
“dok,,, anak saya kenapa dok..?” tanya khawatir ibu rania.
“dia gak apa-apa bu, dia hanya kecapean atau mungkin terlalu banyak fikiran bu,” jelas dokter pada ibu rania
“ouh ya udah kallo gitu makasih ya dok,,,” sambil bersalaman.
Ibu rania pun menuju ruang rania, ibu rania pun membawa rania pulang ke rumah dan menyuruh rania beristirahat agar kedaannya semakin membaik.
“bu,, rani pengen ketemu rafa bu...”
“asstagfirullah nak,, rafa sudah tenang di alam sana, kamu jangan bicara kayak gitu, nanti dia malah gak tenang.”
“iya deh bu,, bu papah juga mungkin tenang ya di alam sana...” tiba-tiba rania menangis.
Ibu rania tidak menjawab ibu ranai pun ikut menangis dan memeluk rania.
“nak papah mu insya allah sudah berada di alam yang sangat indah,, papah mu orang baik nak..” sambil menangis.
Ibu dan anak itu saling berpelukan dan menangis, karena orang yang sama-sama ia sayangi telah pergi untuk selamanya.

Malam... sepi tanpa bintang
Gelap tanpa bulan, yang ada hanya suara angin malam yang berhembus,
Dingin nya malam, mungkin dapat mengisyartakan dingin nya juga hati ini,
Daun yang melambai lembut kepadaku seolah mengerti keadaan q saat ini,
Mereka , orang yag q sayang, kini telah tenang disana,
Tuhan,, jaga mereka, karena aq sayang mereka
                                    Rani

Rania menulis sebuah puisi untuk mencurahkan isi hatinya saat ini. Dia memang sangat senang menulis puisi.
3 bulan berlalu dari meninggal nya rafa, rania masih tetap tidak bersemangat, ia masih tetap dalam pada kesedihan nya.
“rafa,, udah mau hari ke 100 e’lo gua masih belum bisa lupain e’lo fa,” ucap rania pada fot rafa yang masih ia simpan di dompetnya.
“udah dong ran, e’lo harus move on, e’lo pasti bisa lupain dia mesti gua tau itu berat.” Ucap devanya.
“iya ran, e’lo tuh harus bisa ran,” tambah vania.
“hey,, e’lo tuh gak bakal pernah tau perasaan gua, karena e’lo berdua belum pernah ngalamin keadaan kayak gua..” marah rania.
“iya maaf ran gua tau, tapi e’lo gk bisa kayak gini terus,,” sambut vania.
Tapi rania malah pergi keluar ruangan kelas nya dan menuju kamar mandi. Rania yang tidak tau kalo lantai kamar mandi itu basah tiba-tiba rania terpeleset, tapi ada yang menahan nya.
“makasi ya,,” ucap rania.
“iya sama-sama..”jawab seorang pria yang menolong  nya.
Rania menatapa pria itu, ia seperti mengenali wajah pria itu, ia begitu kaget, wajahnya pria tadi hampir mirip dengan rafa.
“rafa,,, e’lo hidup lagi..” teriak rania sambil memeluk pria itu.
“hah,, maaf gua bukan rafa gua brian,,” jawab pria itu.
“oh maaf ya,, “sambil melapaskan pelukan nya.
“iya gpp..” sambil mengajak rania jalan dan duduk di bangku dekat ruang lab.
Rania hanya melamun dan menangis kecil, brian yang ada di sampingnya merasa aneh dengan sifat rania.
“hey.,, kenpa e’lo nangis?” tanya brian
“...........” rania hanya terdiam dan terus menangis.
“maafin gua deh kallo gua dah ganggu e’lo..”
“ehh,, e,,eng gak kok..” jawab rania sambil terbata bata akibat menangis.
“oya.. gua brian anak kelas seni.. e’lo?”
“ouh kamu senior aq ya,,?” Tanya rania..
“iya,,, eh e’lo siiapa?”
“aq rania, panggil aq aja rani,, “ jawab rania.
“ouh,, ya udah gua ke kelas dulu ya ada jadwal kuliah ni..”
“iya kak..”
Brian pun meninggalkan rania sendiri, dia duduk termenung, kini hati rania sudah agak mendingan, ia merasa aneh ketika dia melihat brian pertama kali dia langsung merasa nyaman.
Rania pun pergi dari tempat itu untuk menuju ruang kelas nya. Dia masih merasa aneh dengan perasaan nya itu.
“rania e’lo dari mana?” tanya vania dan devanya
“gu.. gu gua,, da da...” jawab rani yan terbata-bata dan terpotong pembicaraan nya oleh vania.
“dari man e’lo..? kok e’lo ngomong nya gagap gitu sihh..?” tanya devanya
“iihh gua dari kamar mandi,, gua tadi ketemu kak brian,, gu baru nyadar dia hampir mirip kayak rafa...”
“hahhhh... kak brian..? senior kita?” kaget vania dan devanya.
Rania hanya menganggut dan wajah nya kini agak sedikit berbeda, dia sedikit bahagia. Rania, devanya dan vania pun pulang karena jam kuliah sudah habis.
“ran.. mau ikut kita-kita gak nonton...? tanya devanya
“ah,, enggak ah makasi dev, mau langsung pulang, kepala agak sakit nih,,” jawab rania lembut.
“oh ya udh gua sama vania berangkat ya,,, ati-ati ya,, byyee...”
Rania hanya tersenyum dan melambaikan tangan nya pada devanya dan vania, dia langsung berjalan ke arah luar gerrbang kampus, dia terus berjalan dia membayangkan wajah brian seniornya tadi yang mirip dengan rafa, dia berfikiran kallo brian kakak nya rafa, tapi tidak mungkin, rafa hanay anak satu-satunya.
Raffa,,, gua kangen e’lo dan maen di taman ini.. gumam hati rania yang berhenti di taman tempat ia sering bermain bersama raffa,. Dia duduk di bawah pohon yang rindang, dia membayangkan saat-saat terakhir kali bersama raffa di taman itu, dari matanya kini telah turun air mata yang sangat banyak, dia sangat terpukul bila mengingat massa nya itu.
Ketika rania sedang menagis tiba-tiba Hp nya bergetar, dia melihat Hp nya di sana ada pesan masuk yang melalui jejaring sosial fb.
“rani,, ini rania kan?”
Rania aneh, dia tidak mengenal namanya, dia pun melihat profilnya, ketika di lihat ternyat brian, raniapun sedikit terhibur, dia memberi senyuman kecil bahagia. Rania pun membalas pesan itu.
“iya kak, ini rani”
Rania pun lalu berdiri dari tempat duduknya itu, rania langsung pergi untuk pulang, setibanya di rumah, rania lalu duduk di ruanh tamu, dia tidak masuk kamarnya, ibu nya yang aneh dengan perubahan rania yang sedikit.
“nak,, kamu sangat berbeda..kamu lagi seneng ya..?” tanya ibu nya.
“enggak bu, rani gak apa-apa.. rani cuman pengen aja duduk di sini..”jawab rania.
Rania pun mengambil Hp nya yang ada di dalam tas nya, dia langsung membuka jejaring sosial itu, ternyata pesan nya pun di balas oleh brian.
“ohh iya,, takut nya gua salah.. hhee”
“enggak kak, nama rania cuman satu kok di kampus itu, oya kak bentar ya kak rani mau pindah ke laptop.”
“oke gua tuunggu ya ran.”
“ciie siapa tu kakak rian?” ledek ibunya
“brian ibu, bukan rian, dia senior rani bu d kampus, bu rani mau ke kamar dulu ya..”
Rania pun langsung menuju kamar dan membuka laptopnya, dia langsung membuka jejaring sosial nya itu dan membalas pesan brian.
Rania dan briant pun saling membalas chat, rania sedikit terhibur, rania bercerita pada brian kenapa kelakuan rania saat ketemu brian sangat aneh. Rania juga bercerita kallo rania sudah kehilangan 2 orang yang dia sayangi sekaligus dalam satu tahun.
“ya ampun kamu kasian banget sih ran,, yang tabah yah ran” chat brian yang memberi semangat pada rania.
“iya kak.. udh sabar kok, oya kakak juga katanya mau cerita..”
“iya,, kakak sedih banget ran, coz kakak suka sama cewek eh cewek itu dah punya pacar ran,,”
“ya ampun sabar ya kak, kakak pasti bakal dapet yang lebih kok..”
“oya ran lanjut di sms ja ya,,”
“tapi kak,,, rania gk punya no kakak.”
“hadeuuhh,,, niih,,,, 085*********
“oke ntar rani sms ya ”Jkak,,  y udh deh kak rani off duluan ya kak bye
Rania pun langsung off dan mematikan laptopnya, dia langsung mengambil Hp nya dan mulai mengetik pesan untuk di kirim ke brian.
Rania dan brian pun saling membalas pesan, kini perasaan rania berbeda, dia kini bisa tersenyum meski dia masih merasakan sakit.
“rani,, ada temen-temen mu,,” panggil ibu rania,
“iya bu,, ntar rania keluar.” Sahut rania dari dalam kamar nya.
Rania pun keluar dari kamar nya dan menuju ke ruang tamu, di sana sudah menunggu temen-teman nya yaitu, vania dan devanya.
“e’lo kayak nya seneng banget ran,? E’lo dah bisa move on ya,,? Jangan-jangan gara-gara ketemu ama kak brian ya,,?” ledek vania
“ih apaan sih kalian,,,”jawab rania dengan malu-malu.
Rania dan kedua teman nya itu bermain bersama. Mereka bercanda bersama, dan kali ini rania sangat berbeda, dia sangat bahagia dan wajahnya pun kembali segar tak sekusam saat dia belum bertemu dengan brian.
Tepat pukul 17.30 teman-teman rania pulang, mereka berpamitan kepada ibu rania dan rania. Setelah teman rania pulang, ia kembali ke kamar nya. Saat ini ia sangat bahagia. Dia merasa brian bisa membuat hari-harinya menjadi indah.
Setelah sekian lama rania dan brian kenal, brian menginginkan berkunjung ke rumah rania, rania meminta izin kepada ibu nya agar brian senior nya itu maen ke rumah nya, ibu nya pun mengijinkan nya. Dan brian pun datang ke rumah rania tepat pukul 20.00 hari itu hari minggu malam. Brian dan rania bercanda di ruang tamu. Rania bercerita kepada brian tentang perasaan nya bahwa dia sebelelum bertemu brian, dia sangat sedih, coz dia baru di tinggalkan orang yang di sayangi nya.
Brian pun menghibur rania, begitu pula dengan rania yang menghibur brian karena dia telah gagal mendapatkan wanita yang ia kagumi. Rania dan brian saling menghibur, akhirnya brian pun izi pulang karena hari semakin malam, dia pun pulang.
Keesokan harinya raniia bercerita kepada 2 teman dekatnya, bahwa brian datang berkunjung kerumahnya, dia sangat senang, begitu pula dengan ke 2 temannya yang sudah bisa melihat perubahan pada diri rania yang sudah bisa move on.
Hampir tiga bulan lebih rania dan brian dekat, brian pun sering maen ke rumah rania, dia membawakan makanan favorit rania, rania sangat senang dengan sikap brian yang sangat baik dan perhatian, dia pun mulai mengagumi sosok brian. Dia pun sering cerita kepada teman nya bahwa dia menyukai brian dan berharap brian menjadi pengganti rafa yang sudah tenang di alam sana.
Semua berjalan sangat lancar, tetapi semua nya berubah 180 derajat, dia mendengar bahwa brian mendekati wanita lain yang tak lain teman satu kelas nya sendiri yaitu Nami, dia sangat kaget dengan pembicaraan itu, awalnya rania gak percaya tapi stelah rani menyelidiki nya senidiri itu memang benar, rania sangat terpukul dia menangis sendiri di dalam kelasnya, kedua teman nya pun mengetahui kejadian itu, vania dan devanya pun ikut sedih dengan kejadian itu, ke 2 teman nya menyupirt agar rania tabah
“gua sakit banget,,, gua udh percaya ama dia tapi apa balesannya? Kallo emang dia dulu cuman mau kanal gua doang kenapa dia dudlu ngasih harapan gede sih ke gua..?”ucap rania sedih.
Kedua teman nya hanya tertunduk dan ikut menangis, tiba-tiba rania sesak dan dia pingsan, ke 2 teman nya kaget dan membawa ke ruang kesehatan kampusnya, dia di periksa oleh dokter yang ada di sana, semua teman nya kaget bahwa rania mempunyai penyakit jantung. Vania dan devanya pun memberi tahukan kejadian itu kepada ibunya rania, tapi ibu rania tak kaget kalo dia sudah tau sebelum nya, dia juga menyuruh untuk ke 2 teman nya dan teman yang lain nya menyembunyikan ini semua.
Ketika semuanya mulai membaik rania mulai lagi menjadi seorang pemurung dia gak seceria dulu lagi. Ke dua temannya pun mencoba mencari kebenaran nya itu teryata itu semua benar, vania dan devanya pun tak sangka bahwa cowok setampan dan sebain brian bisa ngelakuin itu.
Hampir 2 bulan kejadian itu berlalu, rania masih bersedih dan dia mencoba menutup pintu hatinya dan dia berjanji untuk fokus kuliah dan menggapai cita-cita nya. Tapi kali ini dia benar-benar sakit, dia melihat nami turun dari mobil brian, kejadian itu ia saksikan langsung dekat. Tapi brian hanya cuek dan memandang sedikit ke arah rania. Rania sangat sakt dengat tak sadar air mata nya terjatuh tiba-tiba ke 2 teman nya menghmpiiri nya, dia pun menceritakan semua nya.
“gua,, gua,, gua sakit banget,,, e’lo bayangin deh org yg penah gua sayang tega nyakitin gua, tadi dia bawa nami,,” sambil menangis tersedu,
“udah sabar-sabar,, cowok kayak dia gak pantes buat cewek sebaik e’lo ran..” ucap vania
“ia ran, banyak yang lebuh dari dia, gua yakin tuh hubungan gak bakal lama ran..” tambah devanya.
Rania terus menangis kedua teman nya pun berusaha menghibur rania, tapi apa boleh dikata hatinya yang sakit susah untuk diajak bercanada.
Dia berfikir kenapa dahualu brian deketin rania dan nagsih harap sama dirinya, kalo cuman ingin berteman gak semestinya sifat brian seperti itu, dia tak habis fikir brian ngelakuin itu semua padanya, dan juga nami, temen deketnya yang pernah dia ajak curhat tega nusuk rania dari belakang, dahulu nami berbicara dia tak akan mencintai brian karena dia sudah mempunyai kekasih, tapi apa yang terjadi nami membohongi pembicaraannya sendiri. Rania sangat terpukul apabila dia mengingat masa-masa bersama brian.
Rania terus menangis di rumah nya, ibu nya tak pernah tahu apa yang terjadi, karena ia tak ingin  ibunya ikut membenci brian. Dia hanya menyimpan semua sakitnya sendiri.
Tepat pukul 19.00 rania sedang mengaji, rania menjerit kesakitan dan memgang dada nya yang sakit dan sesak, ibunya kaget dan menhampiri kamar rania. Ibu rania sangat panik.
“rania... kamu kenapa,, nak,, sadar nak,,”
“rania sakit bu,,, ra ra rani gak kuat bu, sakit banget bu, bu.. ra ran, rani sayang ibu, rani juga sayang brian. Katakan rania sayang dia,,,” tiba-tiba mata rania terpejam
Ibu rania sangat kaget dengan kejadian itu, ibu rania langsung membawa rania ke rmh sakit, dan langsung masuk ke ruang UGD tapi apa yang terjadi tubuh rania langsung di tutup seimut dari bawah sampai atas, ibu rania shock dengan kejadian itu.
“dok kenapa anak saya dok?” tanya ibu rania sambil menangis.
“maaf bu, rania sudah meninggal,,” jawab dokter
Ibu rania kaget dan menangis tersedu-sedu dia tak sangka semua orang yang ia sayangi telah tiada.
Ke esokan harinya pemakaman pun di mulai ibu rania sangat histeris teman-teman rania pun sangat terpukul oleh kejadian itu, teman-teman rania berusaha menenagkan ibunya rania. Brian pun datang ia mendapat kabar dari teman nya. Brian datang dengan wajah menyesal dan sedih, dia datang bersama nami.
“e’lo mau apa datang kesini brian? Puas e’lo dah nyakitin hati rania sampe dia mati?”teriak vania
Brian tidak berkata apa-apa dan menangis di depan pusara makam rania.
“e’lo cowok gak punya hati brian dia dah sayang ama e’lo tapi e’lo ngebalesnya pake kayak gini, air susu e’lo bales air tuba,, dasar cowok php..” tambah vania.
Nami menunjukan muka biasa saja, dia menunjukan muka yang tak peduli dan tak punya salah. Dia terus saja mengajak brian pulang, tapi brian menolaknya dan memarahi nami. Nami pun kesal dan akhirnya pulang sendiri.
Brian terus menangis di atas pusara rania, dia menyesal telah berbuat seperti itu, dia menyesal udah permainin hati rania.
“nih e’lo baca semua,,,”ucap devanya sambil memberikan buku diary nya rania.
Brian sangat kaget dengan semua tulisan berisi tentang dirinya, brian tambah sedih dan menyesal.
“ran,, maafin aq,, aq dah salah,,”sambil menangis.
“alah,, udah lah cowok biadab balik aja sana, samperin tuh cewek e’lo..” teriak vania sambil mendiring brian
Tapi ibu rania menahan nya, dan menyampaikan ucapak terakhir rania, bahwa dia sangat menyayangi brian.
Brian sangat menyesal dia pun meminta maaf pada ibu nya rania dan ke 2 teman nya, awalnya vania tidak mau memaafkan nya tapi karena di bujuk oleh ibu dan devanya akhirnya dia pun mau memaaf kan. Akhir nya brian menyadari kesalahan nya dan  mereka pun memutuskan untuk pulang.

Selamat jalan almarhumah rania, semoga engkau tenang di sisi-NYA, cinta mu tetap abadi bersama dia. Kelak kau akan bahagia disana.

“Brian meski kau telah menyakiti hati q, tapi benci ini tak sebesar cinta q, semoga kau bahagia dengan pilihan hati mu, miss u.”

THE END



Buat yang punya artikel ini maaf ia aku ngga mencantumkan alamatnya, sorry aku lupa hehehe


5 Novel Paling Romantis di Dunia
Apakah Anda penggemar cerita-cerita cinta yang romantis dan mengharu biru? Jika ya, maka lima novel di bawah ini wajib untuk Anda baca.
imdb.com
Pride And Prejudice. Meskipun novel ini telah diterbitkan hampir dua abad yang lalu, tetapi kisah cinta Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy tetap menjadi favorit bagi banyak orang di dunia. Kisah cinta yang mengambil latar kehidupan bangsawan Inggris di abad 19 ini masih dianggap sebagai kisah paling romantis yang pernah ada.


Wuthering Heights. Emliy Brontë memang hanya menerbitkan satu novel selama hidupnya, tetapi karyanya ini sudah cukup untuk membuat namanya dikenal hingga saat ini. Jangan bayangkan Anda akan mendapatkan karya yang penuh dengan perasaan cinta yang meletup-letup, karena kisah cinta Heathcliff dan Catherine di  novel bertema gothic romance sangat kelam dan penuh dengan kesedihan serta tragedi.
  
tcpl-teens.blogspot.com
The Time Traveler’s Wife. Sulit untuk mendeskripsikan genre novel yang satu ini, apakah science fiction, romantis, atau justru pedofil? Hal itu disampaikan oleh agen sang penulis, Audrey Niffeneger yang merasa kesulitan ketika ingin mendapatkan penerbit yang mau menerbitkan novel ini. Meskipun begitu, ketika diterbitkan novel ini mendapat sambutan yang sangat hangat dari masyarakat karena ceritanya yang kaya dan membuat banyak orang memikirkan kembali definisi cinta yang tidak lekang oleh tempat mupun waktu.
nighthawknews.wordpress.com
The Great Gatsby. Novel klasik karya ini membuat nama F. Scott Fitzgerald dipandang sebagai sastrawan dunia. Novel ini telah diadaptasi dalam berbagai bentuk, mulai dari drama, opera, hingga layar lebar. Selain itu, The Great Gatsby juga gianggap sebagai novel terbaik sepanjang masa dan menjadi bacaan wajib bagi pelajaran literatur Amerika. Versi terbaru adaptasi novel ini akan kembali hadir di layar lebar akhir tahun ini, dengan Leonardo diCaprio berperan sebagai tokoh flamboyan Jay Gatsby, yang menjadi pusat cerita novel ini.
bibliojunkie.wordpress.com
Norwegian Wood. Novel karya penulis Jepang, Murakami Haruki, ini berdasar pada lagu The Beatles, yang didengarkan oleh tokoh utama novel ini, Toru, dalam perjalanannya ke Jerman. Toru berangkat ke Jerman untuk mengunjungi Naoko, perempuan yang dicintainya. Naoko mengalami kehilangan yang mendalam setelah kekasihnya, yang adalah sahabat Toru, bunuh diri. [Tika/Mizan.com, Diolah dari: TIME]  



Novel Cinta Remaja - Gita

Kali ini saya akan berbagi novel cinta remaja bergenre sedih dengan judul Gita. Selamat membaca novel cinta sedih ini ya.

Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.

Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.

“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.
“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita

“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.
Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.

Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....

“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.
Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.

“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.

Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.

“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.

“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.
“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.
“Gita,” jawab Qori.

Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.

Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.
“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.

“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.
Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.

“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.

Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.
“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.

Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.

Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.

“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.

“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.

Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.
“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.

Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.

Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?
“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.
Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.

Terimkasih sudah membaca novel cinta remaja sedih yang berjudul Gita, semoga Bermanfaat






Senyummu adalah Hidupku
 ini dikirim oleh Sarah Aulia.

  Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.

Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.

Maaf ya maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.

Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar.
Apa-apaan sih lo? katakku kasar

Aduh maaf banget ya tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku. Katanya kemudian tersenyum kepadakku.

Orang stress. Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.

Eh La lo dari mana aja? Tanya Dina menghampiriku.

Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang. Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.

Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.

Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini. Katakku ketus.

Lo tau nggak dia siapa? tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget. Katanya kemudian histeris

Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman? katakku polos.

Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.

Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!! ajakku kepada sahabatku itu.

Ah nggak seru lo yaudah ayo balik. Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.
***
Hari berganti. Sekarang aku sudah mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu selututku. Akupun bersiap untuk segera berangkat ke sekolah.

Kamu udah bangun La? seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.

Dari siapa ma?

Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu. Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.

Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.
***
Aku sampai di sekolah. Pagi Lala. Sendiri aja? seseorang mengagetkanku dari belakang.

Eh, Ilham? Keliatannya? katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.

Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?

Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?

Sejak kapan kita sohiban? tanyanya menggoda. Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?

Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina. Katakku sedih.

Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…”

Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?

 
Boy Band.

Ia deh apakatalo.

Baik lah. Emang kenapa?

Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo? candakku. Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?

Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi. Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas.

Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan
apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?
***
Bisa gila gue lama-lama. Jeritku ketika aku melihat sebuah karangan bunga lagi di meja belajarku.

Kenapa lo La? Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.

Itu! katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.

So? Apa yang salah? Bunganya bagus. Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.

Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja. Katakku emosi

Terus?

Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!! katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. Bisa gila gue lama-lama!! jeritku lagi.

Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah wah kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?

Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah.

Itu berarti lo punya pengagum rahasia.

Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?

Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.

Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.
***
Hai La Din. Seseorang menepuk pundakku.

Eh lo Ham. Sapaku kepada Ilham.

Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.

Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih pasti ada udang di balik batu? Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.

Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.

Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.

Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya. Ilham memohon.

Kapan? Tanyaku.

Hari minggu. Please dateng ya. Katanya memohon.

Oke deh Ham. Gue usahain. katakku.

Kok usahaiin sih lo berdua harus dateng, nggak mau tau.

Ia deh gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh. Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.
***
Sesuai janjiku yang kemarin, aku dan Pramudina datang ke acara peluncuran single terbarunya Ilham. Di sana rencananya Ilham akan mengenalkanku pada personel Boy bandnya.

Hei!!! seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. Gue kira kalian nggak datang.

Eh Ham Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati. Katakku.

Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue. Katanya mengajakku masuk ke dalam.

Di dalam aku melihat enam orang lainnya.
Guys, ini teman-teman gue. Kata Ilham kepada teman-temannya. Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael. Katanya menjelaskan satu per satu.

Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.

Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah.
Kamu Lala , novelis terkenal itu kan? tanyanya.

Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan? katakku.

Kaaakkk Landry.. Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.

Lo udah kenal dia? Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.

Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.

Haha ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?

Gue? Kok bisa?

Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat. Kata Ilham menjelaskan semuanya.

Masa sih, novel gue bisa sesukses itu? kataku tak percaya.

Kelihatnnya? Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?

Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.
***
Tok tok
Terdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah.
Sebentar…” teriakku dari dalam.

Elo? katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.

Boleh masuk? katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.

Silahkan. Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?

Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku. katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya? katannya lagi

Maksud lo?

Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.

Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti.
Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?

Yup bisa dibilang begitu.

Sama cokelat dan note itu? katakku lagi.

Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.

Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?

Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.

LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.
Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.

Kamu mau kemana? tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.

Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut? Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit.
***
Kok bisa penyakit jantungnya Dina kambuh? Emangnya kenapa? tanyaku kepada Ilham yang sedang berada di ruang tunggu.

Jadi begini.

Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat. Tanya Reza kakanya Ilham

Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong.

Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.

Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.

Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.

Jadi lo suka sama gue? Ilham mengangguk. Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue? Ia kembali mengangguk. Dan Dina tau. Ilham kembali mengangguk. Ya ampun, Ham lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?

Sorry, La gue nggak tau. Ilham terlihat menyesal.

Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya. Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah
Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina.
Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?

Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.

Maksud dokter? tanyaku.

Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya. Kata dokter itu.
Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.

Ayo kita selesaikan ini semua. Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.

Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.

Lala, Ilham. Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.

Din, sorry ya gara-gara gue, lo jadi jadi ya jadi begini. Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.

Gue juga minta maaf ya... katakku kepada Dina

Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.

Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.

Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.

Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.

Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.

Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan


Brak
.
Nitt
..
Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.

Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah.
Tamat


Terimakasih Atas Kedatanganmu di Blogku,
Road To Hell Mobile Hell Blog,
http://roadtohell.mywapblog.com





5 Novel Paling Romantis di Dunia
Apakah Anda penggemar cerita-cerita cinta yang romantis dan mengharu biru? Jika ya, maka lima novel di bawah ini wajib untuk Anda baca.
imdb.comimdb.com
Pride And Prejudice. Meskipun novel ini telah diterbitkan hampir dua abad yang lalu, tetapi kisah cinta Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy tetap menjadi favorit bagi banyak orang di dunia. Kisah cinta yang mengambil latar kehidupan bangsawan Inggris di abad 19 ini masih dianggap sebagai kisah paling romantis yang pernah ada.

http://mizan.com/datafitur/news_img/1/201207/Wuthering-Heights%282%29.jpgWuthering Heights. Emliy Brontë memang hanya menerbitkan satu novel selama hidupnya, tetapi karyanya ini sudah cukup untuk membuat namanya dikenal hingga saat ini. Jangan bayangkan Anda akan mendapatkan karya yang penuh dengan perasaan cinta yang meletup-letup, karena kisah cinta Heathcliff dan Catherine di  novel bertema gothic romance sangat kelam dan penuh dengan kesedihan serta tragedi.
  
tcpl-teens.blogspot.comtcpl-teens.blogspot.com
The Time Traveler’s Wife. Sulit untuk mendeskripsikan genre novel yang satu ini, apakah science fiction, romantis, atau justru pedofil? Hal itu disampaikan oleh agen sang penulis, Audrey Niffeneger yang merasa kesulitan ketika ingin mendapatkan penerbit yang mau menerbitkan novel ini. Meskipun begitu, ketika diterbitkan novel ini mendapat sambutan yang sangat hangat dari masyarakat karena ceritanya yang kaya dan membuat banyak orang memikirkan kembali definisi cinta yang tidak lekang oleh tempat mupun waktu.
nighthawknews.wordpress.com
nighthawknews.wordpress.comThe Great Gatsby. Novel klasik karya ini membuat nama F. Scott Fitzgerald dipandang sebagai sastrawan dunia. Novel ini telah diadaptasi dalam berbagai bentuk, mulai dari drama, opera, hingga layar lebar. Selain itu, The Great Gatsby juga gianggap sebagai novel terbaik sepanjang masa dan menjadi bacaan wajib bagi pelajaran literatur Amerika. Versi terbaru adaptasi novel ini akan kembali hadir di layar lebar akhir tahun ini, dengan Leonardo diCaprio berperan sebagai tokoh flamboyan Jay Gatsby, yang menjadi pusat cerita novel ini.
bibliojunkie.wordpress.com
bibliojunkie.wordpress.comNorwegian Wood. Novel karya penulis Jepang, Murakami Haruki, ini berdasar pada lagu The Beatles, yang didengarkan oleh tokoh utama novel ini, Toru, dalam perjalanannya ke Jerman. Toru berangkat ke Jerman untuk mengunjungi Naoko, perempuan yang dicintainya. Naoko mengalami kehilangan yang mendalam setelah kekasihnya, yang adalah sahabat Toru, bunuh diri. [Tika/Mizan.com, Diolah dari: TIME]  





Novel Cinta Remaja - Gita

Novel Cinta RemajaKali ini saya akan berbagi novel cinta remaja bergenre sedih dengan judul Gita. Selamat membaca novel cinta sedih ini ya.

Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.

Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.

“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.
“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita

“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.
Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.

Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....

“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.
Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.

“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.

Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.

“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.

“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.
“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.
“Gita,” jawab Qori.

Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.

Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.
“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.

“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.
Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.

“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.

Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.
“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.

Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.

Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.

“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.

“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.

Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.
“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.

Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.

Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?
“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.
Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.

Terimkasih sudah membaca novel cinta remaja sedih yang berjudul Gita, semoga Bermanfaat






Senyummu adalah Hidupku
 ini dikirim oleh Sarah Aulia.

  Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.

Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.

Maaf ya maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.

Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar.
Apa-apaan sih lo? katakku kasar

Aduh maaf banget ya tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku. Katanya kemudian tersenyum kepadakku.

Orang stress. Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.

Eh La lo dari mana aja? Tanya Dina menghampiriku.

Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang. Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.

Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.

Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini. Katakku ketus.

Lo tau nggak dia siapa? tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget. Katanya kemudian histeris

Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman? katakku polos.

Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.

Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!! ajakku kepada sahabatku itu.

Ah nggak seru lo yaudah ayo balik. Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.
***
Hari berganti. Sekarang aku sudah mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu selututku. Akupun bersiap untuk segera berangkat ke sekolah.

Kamu udah bangun La? seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.

Dari siapa ma?

Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu. Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.

Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.
***
Aku sampai di sekolah. Pagi Lala. Sendiri aja? seseorang mengagetkanku dari belakang.

Eh, Ilham? Keliatannya? katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.

Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?

Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?

Sejak kapan kita sohiban? tanyanya menggoda. Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?

Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina. Katakku sedih.

Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…”

Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?

 
Boy Band.

Ia deh apakatalo.

Baik lah. Emang kenapa?

Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo? candakku. Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?

Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi. Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas.

Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan
apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?
***
Bisa gila gue lama-lama. Jeritku ketika aku melihat sebuah karangan bunga lagi di meja belajarku.

Kenapa lo La?Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.

Itu! katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.

So? Apa yang salah? Bunganya bagus. Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.

Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja. Katakku emosi

Terus?

Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!! katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. Bisa gila gue lama-lama!! jeritku lagi.

Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah wah kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?

Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah.

Itu berarti lo punya pengagum rahasia.

Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?

Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.

Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.
***
Hai La Din. Seseorang menepuk pundakku.

Eh lo Ham. Sapaku kepada Ilham.

Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.

Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih pasti ada udang di balik batu? Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.

Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.

Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.

Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya. Ilham memohon.

Kapan? Tanyaku.

Hari minggu. Please dateng ya. Katanya memohon.

Oke deh Ham. Gue usahain. katakku.

Kok usahaiin sih lo berdua harus dateng, nggak mau tau.

Ia deh gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh. Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.
***
Sesuai janjiku yang kemarin, aku dan Pramudina datang ke acara peluncuran single terbarunya Ilham. Di sana rencananya Ilham akan mengenalkanku pada personel Boy bandnya.

Hei!!! seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. Gue kira kalian nggak datang.

Eh Ham Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati. Katakku.

Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue. Katanya mengajakku masuk ke dalam.

Di dalam aku melihat enam orang lainnya.
Guys, ini teman-teman gue. Kata Ilham kepada teman-temannya. Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael. Katanya menjelaskan satu per satu.

Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.

Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah.
Kamu Lala , novelis terkenal itu kan? tanyanya.

Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan? katakku.

Kaaakkk Landry.. Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.

Lo udah kenal dia? Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.

Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.

Haha ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?

Gue? Kok bisa?

Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat. Kata Ilham menjelaskan semuanya.

Masa sih, novel gue bisa sesukses itu? kataku tak percaya.

Kelihatnnya? Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?

Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.
***
Tok tok
Terdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah.
Sebentar…” teriakku dari dalam.

Elo? katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.

Boleh masuk? katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.

Silahkan. Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?

Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku. katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya? katannya lagi

Maksud lo?

Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.

Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti.
Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?

Yup bisa dibilang begitu.

Sama cokelat dan note itu? katakku lagi.

Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.

Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?

Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.

LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.
Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.

Kamu mau kemana? tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.

Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut? Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit.
***
Kok bisa penyakit jantungnya Dina kambuh? Emangnya kenapa? tanyaku kepada Ilham yang sedang berada di ruang tunggu.

Jadi begini.

Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat. Tanya Reza kakanya Ilham

Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong.

Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.

Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.

Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.

Jadi lo suka sama gue? Ilham mengangguk. Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue? Ia kembali mengangguk. Dan Dina tau. Ilham kembali mengangguk. Ya ampun, Ham lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?

Sorry, La gue nggak tau. Ilham terlihat menyesal.

Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya. Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah
Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina.
Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?

Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.

Maksud dokter? tanyaku.

Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya. Kata dokter itu.
Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.

Ayo kita selesaikan ini semua. Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.

Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.

Lala, Ilham. Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.

Din, sorry ya gara-gara gue, lo jadi jadi ya jadi begini. Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.

Gue juga minta maaf ya... katakku kepada Dina

Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.

Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.

Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.

Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.

Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.

Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan


Brak
.
Nitt
..
Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.

Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah.
Tamat


Terimakasih Atas Kedatanganmu di Blogku,
Road To Hell Mobile Hell Blog,
http://roadtohell.mywapblog.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar